MLD 27 - Snow

1916 Kata

Azril mengganti perban dikepala Shazia. Di sana ada luka memanjang yang masih terbuka. Dia mengetatkan rahang ketika melihat luka itu yang mungkin saja akan membekas. Azril meniupnya lembut lalu memasangkan perban baru. Mereka akan berangkat setengah jam lagi ke bandara. Kali ini cuaca sudah lebih baik dan mereka juga akan di antar oleh sopir resort. “Masih sakit?” tanya Azril. Shazia mendongakkan kepalanya lalu menggeleng pelan. “Sudah mendingan, untung ngak lebar ya. Jadi, nggak dijahit.” “Maafkan aku.” Ucap Azril. Shazia memilih memeluk suaminya, dia merasa Azril sangat-sangat menyesal tentang kejadian semalam. Dia hanya bisa menghibur suaminya agar berhenti memikirkan kejadian itu, lagi pula mereka sudah baik-baik saja sekarang. Azril balas memeluk Shazia tetapi ketika merasaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN