Shazia menjabat tangan Azril, genggaman pria itu sangat kuat dan hangat. Dia langsung melepaskannya setelah beberapa detik walaupun Azril ingin menahannya. “Terimakasih, Sir.” Ucap Shazia tulus. Dia melihat surat perjanjian itu dan tersenyum puas, dengan begini pekerjaannya akan semakin mudah. Dia sudah tidak sabar kembali ke Singapura dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda. Setelah rapat selesai, satu dua orang mulai meninggalkan ruang rapat. Termasuk ayah Azril, dia hanya memberikan seulas senyuman kepada Shazia lalu keluar ruangan. Di sana tersisa dia dan David, Azril, Faiz dan Rion. Shazia sibuk merapihkan berkas-berkas dan keempat pria itu sedang diam-diam memperhatikannya. Shazia tidak sengaja meletakkan tangan kanannya di atas meja, dimana cincin yang tadi diberik

