Shazia merapaatkan mantelnya, dia baru saja masuk ke dalam mobil. Di sebelahnya ada David yang duduk santai sembari memejamkan mata, Shazia masih kesal karena David mengajaknya ke kota ini. Kota yang mengingatkannya kepada masa lalu, Shazia melihat jika sudah banyak yang berubah. Ibu kota itu berubah menjadi lebih asri, dan memiliki banyak jalan layang. “Aku tahu kenapa kau tidak mau ke Jakarta, karena ini mengingatkanmu kepada seseorang bukan?” tebak David. Shazia menyikut David, sejak mereka di pesawat pria itu terus saja menebak kenapa dia tidak ingin pergi ke Jakarta. Dia sudah sebal karena tebakan aneh David, walaupun sebagaian besar ucapan pria itu benar. Shazia menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya di jok mobil. David langsung bersandar di pundak Shazia dan itu membuatnya t

