Suara Adrian yang terdengar berat dan seduktif itu membangunkan Demelza dari tidur lelapnya. Dibukanya matanya dengan pelan. Didapatinya Adrian sedang bicara dengan Latief, anak buahnya, lewat telepon. Dia sedang berdiri tanpa busana di seberang ranjang sambil membelakangi Demelza, yang masih terkapar lemas di atas ranjang selepas menjalani aktifitas ‘berbagi desahan’-nya tadi malam. Kali ini gantian Adrian yang menginap di apartemennya. “Ya, aku berangkat ke kantor hari ini,” ucap lelaki bertubuh tinggi itu pada anak buahnya. “Betul, itu setelan favoritku, yang warnanya hitam. Dan jangan lupa bawakan jam tanganku. Ada di tempat biasa,” perintahnya. “Kutunggu kedatanganmu segera.” Panggilanpun terputus. Ketika membalik tubuhnya, manik Adrian seketika menyatu dengan manik Demelza. Tatapan

