Deven membersihkan meja nya dari dokumen dan kertas-kertas
lalu menatap laptopnya sebentar
tiba-tiba saja pintu nya menjeblak terbuka dan terlihat wajah Ingvar yang memerah karena marah
"apa maksud lo Dev?" tanya Ingvar
"ada apa Var?" tanya Deven bingung
Ingvar berjalan cepat ke arah Deven dan menyambar kerah baju kemeja Deven "lo tidur sama kakak gue khan?" tanya Ingvar
"eh Var, tunggu dulu... apa-apaan ini?" tanya Deven
tanpa berkata-kata Ingvar langsung memukul perut Deven
Deven jatuh di kursi kerja nya sambil memegang perutnya
"jangan lo berani sentuh kakak gue, Dev" kata Ingvar "gue bisa pecat lo semudah nge-balik'in telapak tangan"
Deven memegang perutnya, menahan rasa sakit di perut nya dan menatap Ingvar "gue tidur ama kakak lo itu waktu di Bali itu, kita sama-sama mabuk"
"mabuk?, alasan lo boleh juga" kata Ingvar
"gue udah cerita sama elo semua nya kemaren khan, gue... ya ampun" kata Deven menggelengkan kepala nya lalu berdiri dari tempat duduk nya dan berhadapan dengan Ingvar, masih memegang perut nya "gue anggep lo sahabat rasa saudara, gue cerita semuanya ke elo tentang peristiwa di Bali, lo juga tau gue cowok kayak gimana?!, dan gue gak nyangka kalau lo gak percaya sama gue dan anggep gue beralasan?, gue bahkan gak tau kalau cewek yang tidur ama gue itu kakak lo, Var"
"gak mungkin lo gak tau kakak gue, gue sering cerita tentang Marcha" kata Ingvar
"cerita aja tapi gue gak tau muka nya kayak gimana" kata Deven
"gue sama dia kembar Dev" kata Ingvar marah
"gue gak ngeliat kalian mirip" kata Deven
Ingvar diam saja
"lo mau gue gimana sekarang Var?, tanggung jawab sama Marcha?" tanya Deven "gue..."
"cukup jangan sentuh kakak gue lagi" kata Ingvar marah "kalau lo sampe sentuh dan nyakitin dia, elo bisa gue pecat Dev"
"gak perlu sampe pecat Var, kalau lo mau gue bisa mengundurkan diri sekarang dan balik ke London" kata Deven dingin
Ingvar langsung terdiam
"gue bakalan kasih surat pengunduran diri gue besok atau besok lusa" kata Deven "lo bisa tenang tapi 1 hal, Marcha gak berharap bokap-nyokap lo tau tentang masalah gue sama Marcha, lo bisa pegang janji gue, gue pegang janji lo!!"
"okay, fine... gue tunggu surat lo" kata Ingvar murka
lalu Ingvar keluar dari ruang kerja Deven
Deven melihat sahabatnya itu membanting pintu ruang kerja Deven sembari mengumpat
Deven hanya menggelengkan kepalanya dan mematikan komputer nya dan tak lama ia keluar dari ruang kerja nya juga.
"eh Dev, lo dimana?" suara Kevin terdengar dari hp yang menempel di telinga Deven
"jalan mau pulang, ada apa Vin?" tanya Deven
"lo gak ke pestanya Marcha?" tanya Kevin bingung
Deven terdiam beberapa saat
"gue, Chris sama Friden, Gogo dateng diundang sama Ingvar" kata Kevin "kita lagi nungguin lo"
"ya udah, gue mampir bentar aja" kata Deven "gue agak gak enak badan soalnya"
"okay..." kata Kevin
dan begitu sampai di rumah Ingvar
Deven langsung ngobrol dengan Marcha
Deven tidak mau bertengkar lagi dengan kakak nya Ingvar hanya karena nanti kakak Ingvar itu mengira kalau Deven yang bilang masalah di Bali ke Ingvar
Deven tidak menceritakan pada Marcha apa yang adiknya itu lakukan ke Deven
Deven tidak ingin membuat masalah ini semakin runyam
tak lama kemudian Deven pamit pulang dengan teman-teman nya lalu kepada orang tua Marcha juga
"om, tante... Deven pulang dulu ya" kata De
"oh Deven cepat banget, kamu sudah makan?" tanya tante Melissa
"udah tan" kata Deven bohong "Deven mau buru-buru pulang karena agak gak enak badan, besok masih harus pagi ke rumah sakit"
"oh... kamu sudah kenal Marcha ya?" tanya om Berto
Deven mengangguk "sudah om, tadi pagi ketemu di rapat"
"gimana?, apa Marcha bilang ada masalah?" tanya om Berto
Deven menggelengkan kepalanya "gak ada om tapi memang perlu ada sedikit perbaikan di bidang keuangan dan pemasaran" kata Deven
"bagus - bagus, di tangan kamu, Marcha dan Ingvar... om tenang untuk bisnis rumah sakit ini" kata om Berto
Deven hanya tersenyum "okay, sampai jumpa lagi om... saya pulang dulu"
Deven kemudian berjalan ke arah pintu keluar
"lo mau pulang?, gue gak ngusir" kata Ingvar
Deven menoleh menatap wajah Ingvar sejenak hanya memutar bola mata nya dan berlalu begitu saja ke arah pintu.