Bab 5 ( Di mana Bola Itu ? )

1021 Kata
Paradise yang ditinggal sendirian di sana juga tampak ketakutan, tapi kakinya malah tidak bisa digerakkan untuk berlari dari sana. “Maaf, kamu siapa? Aku meminta maaf sama kamu jika aku memiliki salah sama kamu,” ucap Paradise terbata karena ketakutan. Tidak lama muncul seseorang yang membuat wajah Paradise tampak menghela napas panjangnya. “Paradise, kamu tidak apa-apa?” Oneil bertanya pada Paradise dan langsung memeluknya. “Oneil, jadi kamu yang tadi membuat Taza dan Yoala ketakutan? Terima kasih Oneil, aku sangat takut mereka akan berbuat hal yang buruk lagi padaku.” Paradise memeluk Oneil dengan sangat erat. “Paradise kamu benar tidak apa-apa? Mereka tidak menyakiti kamu, kan?” Oneil menarik menjauh tubuh Paradise dan melihat dengan tatapan penasaran. Gadis tambun itu mengangguk beberapa kali. “Huft! Aku lega mendengarnya, aku kira mereka melukai kamu, tadi saat aku masuk ke dalam kelas salah satu teman kita mengatakan melihat kamu dibawa pergi oleh Yoala, tapi mereka takut untuk membantu kamu karena kamu tau sendiri bagaimana genk Yoala dan Taza itu. Aku lantas mengejar kamu ke sini.” “Aku sangat takut pada mereka, sampai kapan mereka akan memperlakukan aku seperti ini? Mungkin jika aku keluar dari sekolah ini, aku tidak akan mendapat perlakukan buruk seperti ini.” Oneil terdiam sejenak, kedua netranya menatap sayu pada sahabat baiknya itu. “Apa kamu yakin jika keluar dari sini dan di tempat baru, maksud aku di sekolah baru kamu nanti tidak akan mendapat perlakuan yang sama?” tanya Oneil ragu-ragu. “Aku juga tidak tau, tapi setidaknya aku di sini ada kamu, kalau di tempat baru aku akan sendiri,” ucap Paradise sedih. “Itu dia, tapi aku juga tidak bisa membantu kamu lebih banyak, kamu tau sendiri aku juga tidak berani melawan genk Taza yang memang sangat tega jika menyakiti murid-murid di sini.” “Maaf juga karena aku, kamu juga sering terkena perundungan mereka, kamu sering juga disakiti oleh mereka karena membantuku, Oneil.” “Aku tidak apa-apa, kita berdoa saja semoga perlakuan jahat mereka akan segera mendapat balasan yang setimpal, sehingga mereka jera berbuat jahat lagi kepada kita atau murid yang lemah di sekolah ini,” terang Oneil. “Iya, tapi akal kamu tadi sangat brilian, kamu menakut-takuti mereka dengan suara kamu yang aku sendiri tidak dapat mengenalinya.” “Suara?” Raut wajah Oneil terlihat agak bingung dengan ucapan Paradise. “Ya sudah kalau begitu kita segera masuk ke dalam kelas karena jam masuk akan segera di mulai.” Tangan Oneil digandeng dengan cepat oleh Paradise dan mereka berjalan menuju ke gedung sekolah. Zio menggeliat tidak nyaman karena mulutnya sedang ditutup oleh tangan pangeran Rize. Tangan pangeran Rize terlepas setelah dirasa keadaan di sana sudah aman. “Kenapa kamu menutup mulutku, Pangeran?” tanya Zio kesal. “Kenapa kamu menakut-takuti mereka seperti itu, Zio?” “Aku kesal melihat mereka seperti itu. Apa yang mereka lakukan dengan gadis gendut itu sungguh sangat keterlaluan, aku kesal melihatnya. Apa kamu tidak kesal melihat perlakuan jahat mereka yang seperti itu?” Zio mendengus kesal. “Aku kesal, tapi kita tidak boleh bertindak seperti itu, apalagi kita berada di dimensi mereka sekarang, jadi jangan membuat kita mendapat masalah nantinya karena keberadaan kita diketahui oleh mereka. Kamu mau kalau hal itu terjadi?” “Tentu saja tidak, tapi apa kita akan diam saja? Kita harus membuat gadis cantik, tapi jahat itu jera sehingga tidak menyakiti gadis gendut itu.” Rize tampak berpikiran sebentar dan sepertinya ada sesuatu yang terlintas di benaknya. “Zio, sebaiknya kita kembali saja fokus untuk mencari bola kristal ungu itu sebelum hari penobatanku sebagai raja tiba.” “Apa?” Zio tampak heran mendengar ucapan pangeran Rize yang biasanya selalu peduli dengan keadaan orang yang tertindas, tapi kenapa sekarang Rize seakan tidak peduli? Mereka berdua berjalan menyusuri gedung sekolah Paradise untuk mencari keberadaan bola kristal ungu milik kerajaan Rize. Lelah mereka mengelilingi gedung sekolah itu, tapi mereka tidak menemukan hasil. “Ke mana lagi aku harus mencari bola kristal ungu itu?” Rize tampak berpikir dengan berkacak pinggang. “Sepertinya bola kristal ungu itu tidak ada di dimensi ini, Pangeran.” “Apa mungkin bola kristal ungu itu di temukan oleh seseorang dan dia membawanya untuk mencari tau tentang bola kristal ungu itu?” Rize kembali berpikir. “Maksud kamu? Bola itu di temukan oleh orang yang ada di dimensi ini? Tapi bola itu jika dilihat sekilas hanya mirip bola mainan atau hiasan biasa, mereka paling akan membuangnya atau tidak memperdulikannya.” “Iya, tapi jika ada seseorang yang dapat melihat ada keistimewahan di dalam bola itu, dia pasti tidak akan membuangnya dan aku yakin orang itu memiliki hati seindah permata.” “Kalau begitu bola itu pasti aman dan tidak akan digunakan untuk hal yang tidak baik, lalu kita harus mengatakan apa kepada ayah dan ibu kamu nantinya saat kita pulang, Rize?” “Aku mungkin tidak akan pulang untuk beberapa hari ini, Zio.” “Tidak pulang? Lalu, kamu mau tidur dan beristirahat di mana? Kita akan mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tua kamu dan aku yakin kalau mereka tidak akan memarahi kamu.” “Mereka tidak akan marah, tapi mereka tetap menyuruh aku mencari bola itu sebelum hari penobatanku tiba dan kalau sampai hari penobatanku sebagai raja tiba, tetapi aku tidak menemukan bola itu, ayahku akan membuangku keluar dari negeri Purpelium.” “Kamu serius? Kenapa aku tidak tau akan hal itu? Apa mereka tega membuang putra satu-satunya dari kehidupan mereka? “ “Ayahku tega melakukan hal itu karena aku sudah dianggap tidak layak menjadi raja karena sudah menghilangkan bola yang sangat berharga untuk kerajaan, apalagi ayahku takut jika bola itu sampai jatuh ke tangan yang salah. Kerajaan pasti dalam bahaya besar.” “Ratu Rossier maksud kamu?” Pangeran Rize melihat serius pada Zio dan mengangguk beberapa kali. “Aku juga bisa jadi budaknya kalau bola itu jatuh ke tangannya?” Sekali lagi Rize menganggukkan kepalanya. “Aku tidak mau jadi b***k ratu Rossier. Rize, kita pergi lagi mencari bola itu dan kalau perlu aku tidak akan pulang juga untuk menemani kamu," terang Zio serius. Zio tau apa yang terjadi jika ratu Rossier yang mendapatkan bola itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN