Chapter 22 *** Semua orang memusatkan perhatian pada mobil yang kini menabrak pembatas jalan. Walau dalam keadaan bagian depan ringsek, tapi mobil itu masih memprioritaskan untuk lari dari tanggung jawab. Terlihat beberapa orang berusaha mengejar sang pelaku, walau akhirnya gagal. Nana yang semula membeku, kini tersentak. Lupakan soal mobilnya, yang terpenting sekarang adalah Thea! Sialnya, saat melihat ke arah Thea berada, ia tidak bisa melihat apa pun karena sudah banyak orang yang menghampiri tempat kejadian peristiwa. Semua aktivitas terhenti. Beberapa orang menatap ngeri dengan wajah yang menyiratkan kesedihan. Nana menyadari semua itu bukanlah hal yang bagus. Kakinya kembali bergerak, menyelip diantara kerumunan orang. "Permisi! Permisi, maaf saya keluarga korban!" teriak Nana

