“Bagaimana bisa semuanya bergulir seperti ini?!” tanya Teresa panik. Wajahnya yang cantik, benar-benar pucat. Ia kini menggigiti kuku ibu jarinya yang cantik, dan tidak peduli jika tindakannya itu bisa membuat kukunya yang cantik rusak begitu saja. Tentu saja Teresa tidak memiliki waktu untuk mempedulikan kukunya yang rusak, ketika namanya saat ini tengah dipertaruhkan. Evy yang baru saja selesai menyeduh teh dan kembali ke kamar Teresa, jelas merasa terkejut dengan kepanikan Teresa yang kembali. Ia pun segera meletakkan nampan dan segera membuat Teresa berhenti menggigiti kuku ibu jarinya. “Nona, berhenti melukai diri Anda sendiri. Cobalah tenang untuk sesaat,” ucap Evy membuat Teresa mengernyitkan keningnya. “Bagaimana mungkin aku bisa merasa tenang, jika identitasku sebaga

