Ruang makan rumah Zeya.....
Anze menatap bingung melihat suasana makan malam ini. Tidak biasanya Mama Zeya menutup mulut tanpa bertanya mengenai aktivitas Anze di sekolah.
Bila kebiasaan di keluarga lain adalah menutup mulut saat makan, berbeda dengan kebiasaan di rumah ini.
Zeya memang sengaja menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Anze di saat makan malam supaya Zeya mempunyai waktu untuk "me time" saat malam tiba.
"Ma, kenapa Aunty Anna tidak mau menginap di rumah ini?" Tanya Anze.
Zeya tahu pasti Anze akan menanyakan pertanyaan ini. Zeya pun tidak tahu alasan pasti Anna menolak untuk menginap di rumah ini.
"Mungkin Aunty Anna menginap di rumah temannya," Ucap Zeya menyebutkan salah satu kemungkinan yang paling masuk akal di kepalanya.
Sayang sekali dugaan Zeya tidak terbukti benar. Saat ini Anna sedang berada di kediaman keluarga Andrew karena Andrew mengundang Anna untuk menginap.
&+&+&
Alin terlihat jengkel melihat keberadaan wanita seperti Anna berada di ruang makan rumah keluarga Park.
Bila Alin menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran Anna di rumahnya dengan tatapan mata tajam dan wajah masam, berbeda dengan Wilona, sang ibu. Nyonya Park masih bersikap ramah dan berbasa-basi dengan Anna.
"Jadi kamu akan menikah lagi?" Tanya Wilona dengan nada suara tenang.
William hampir tersedak minuman saat mendengar pertanyaan sang istri.
Anna mengangguk dengan wajah berbinar.
"Joseph Kirk. Apa kami mengenal pria ini?" Tanya Wilona membaca undangan yang dia pegang saat ini.
Diamatinya wajah Anna yang tersipu malu, membuat Wilona mengernyit heran.
#Masih ada urat malu juga wanita ini. Kenapa putraku begitu bodoh pernah berkencan dengan wanita ini# Rutuk Wilona menoleh ke arah Andrew yang duduk di samping Anna.
Sayangnya Andrew tengah menunduk ke arah piring makannya. Sehingga dia tidak melihat tatapan amarah yang terpancar dari sorot mata Wilona.
"Sepertinya Tante mengenal calon suamiku kali ini."
Terdengar nada bangga dalam suara Anna saat menyebut calon suami kali ini.
#Go to hell, b***h# Caci Alin berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara.
"Oh ya?" Wilona berpura-pura terkejut.
William mulai berhenti menyendok makanan ke dalam mulutnya. Pertama, dia sudah kenyang. Kedua, dia tertarik dengan pembicaraan Wilona dengan Anna.
Well, William memang patut akui bahwa Anna memiliki sikap menggoda yang terlihat jelas dari sikap tubuh dan gaya bicara Anna yang manja. Jadi wajar saja jika Anna memiliki sikap petualang hingga membuat wanita muda yang menjadi tamu makan malam mereka hari ini mempunyai pengalaman pernikahan berulang kali.
Andrew merasa jengah dengan pertanyaan Mommy Wilona yang tertuju pada kehidupan pribadi Anna. Andrew tahu bahwa Wilona mencurigai bahwa Andrew masih mencintai Anna. Hingga masih memilih hidup melajang.
"Calon suamiku itu mantan supir pribadiku," Ujar Anna terdengar bangga.
William menyemburkan air putih yang berada di dalam mulutnya sementara Alin melepas tawa kencang.
Reaksi Wilona adalah membuka mulut lebar dengan mata melotot.
"Pria itu Joseph Kirk? Unbelievable. Pria tua berperut buncit dan berkepala plontos. Ya ampun, Anna. Kenapa kamu memilih pria tua seperti itu?" Pertanyaan Wilona membuat Andrew merasa sungkan pada Anna.
Mommy Wilona memang suka ikut campur urusan orang lain. Hingga terkadang ucapan yang keluar dari mulut Mommy Wilona terdengar menjengkelkan.
"Tentu saja karena Anna mencintai calon suaminya," ucap Andrew.
Wilona menyipitkan matanya ke wajah Andrew. Andrew menyenggir membalas tatapan sinis Mommy Wilona.
Anna meletakkan tangannya di atas punggung tangan Andrew yang berada di atas meja makan. Mengenggam jemari Andrew untuk sesaat lalu melepas tangan Andrew.
Gerakan Anna ini tidak luput dari perhatian Wilona, William, maupun Alin.
Namun mereka semua memilih diam dan berpura-pura bersikap wajar atas tingkah laku Anna.
Andrew sendiri tengah dilanda kebingungan yang tercetak jelas di wajah tampan Andrew.
"Bukan Tante. Pria yang pernah Anna cintai hanya satu pria. Anna memilih Joseph Kirk karena pria tua itu memuja Anna. Pria itu juga memuaskan Anna di atas ranjang. Apalagi yang Anna cari selain pria seperti Joseph Kirk?" Ucap Anna dengan mimik wajah serius.
Baik Wilona, William, maupun Alin hanya bisa diam tanpa mengomentari asumsi Anna.
#Dasar wanita hypersexual# Umpat Alin menghentak kaki di bawah meja makan.
&+&+&
Andrew mengantar Anna hingga ke kamar yang disiapkan oleh keluarga Park untuk Anna menginap malam ini.
"Maaf ya atas sikap Mommy yang bertanya ini itu pada kamu," Ucap Andrew berdiri di depan pintu kamar tamu.
Anna tersenyum geli melihat Andrew jadi salah tingkah seperti saat ini.
"Justru aku malah senang dengan sikap Mommy Wilona. Dibandingkan dengan sikap ibuku sendiri yang sangat cuek," Sahut Anna.
Menghembuskan napas lega mendengar pernyataan Anna yang tidak tersinggung atas obrolan mereka malam ini.
"Kenapa kamu tidak mau menginap di rumah Zeya?" Tanya Andrew.
"Aku kan cuma satu hari di Indonesia. Aku hanya ingin memastikan bahwa Zeya baik-baik saja di Jakarta."
Andrew tersentak mendengar penuturan Anna atas kekhawatiran Anna terhadap Zeya.
"Maksudmu apa?"
Anna menceritakan apa yang rasakan selama beberapa pekan terakhir. Dari chat yang Anna kirim ke ponsel Zeya lama dibalas, hingga menolak panggilan masuk dari Anna.
Andrew hanya berdiri diam di depan pintu mendengarkan asumsi Anna yang menyimpulkan bahwa Zeya sedang menghindari Anna.
"Aku tidak berbuat salah padanya sama sekali. Tapi kenapa dia menghindariku?" Ucap Anna dengan nada sedih.
Jika Andrew masih muda, maka Andrew akan menganggap Zeya sudah bersikap keterlaluan pada Anna hingga membuat Anna khawatir seperti saat ini. Namun Andrew yang dewasa saat ini, sudah dapat menyikapi beberapa kesimpulan atas asumsi Anna.
"Zeya tidak membencimu, An. Itu hanya perasaanmu saja. Buktinya tadi dia masih menyapamu saat melihatmu. Dia tidak tampak marah atau mengusirmu kan?" Ucap Andrew membela sikap yang diambil Zeya.
"Idih, kamu ternyata sudah berubah banyak ya. Saking cintanya sampai membela sikap menyebalkan Zeya di hadapanku."
Anna terkekeh melihat rona merah kembali menghiasi pipi Andrew.
&+&+&
"Selamat pagi Ibu Alin," Sapa Zeya saat Alin berjalan melintasi meja kerja Zeya.
Alin berhenti melangkah saat mendengar sapaan dari Zeya. Menoleh ke arah Zeya dengan raut wajah masam.
Zeya masih tetap tersenyum ramah meskipun Alin menampilkan wajah masam.
"Pagi yang buruk. Kemarin aku sempat mengira Andrew menyukaimu hingga nekat berbuat tak senonoh di ruang kerjanya. Ternyata Andrew masih mencintai adik tirimu itu," Papar Alin dengan suara jijik.
Paham akan maksud ucapan Alin, Zeya hanya bisa tetap tersenyum ramah. Tidak meluapkan apa yang tengah melanda sanubarinya.
Sedih, terluka, dan patah hati.
Melihat sikap tenang di wajah Zeya, membuat Alin kesal sendiri sudah gagal memancing reaksi Zeya.
#Aku tambah saja sekalian bumbu biar Zeya semakin cemburu# kikik Alin dalam hati.
Sesungguhnya hati Zeya kembali hancur mendengar bahwa Andrew masih mencintai Anna. Namun Zeya sudah menduga hal ini sedari dulu.
"Untung saja kamu tidak membiarkan Andrew sampai berbuat lebih jauh. Kalau semalam Andrew juga mengantar Anna ke kamar tamu. Mungkin saja Anna mengundang Andrew masuk ke dalam kamar," Ucap Alin dengan nada penuh emosi.
Diamatinya perubahan raut wajah Zeya yang berubah memucat. Bahkan Zeya terlihat begitu rapuh saat ini.
Ingin rasanya Alin berteriak "Yes" melihat reaksi Zeya.