2. Dear, Future Husband

1737 Kata
Pekerjaan Vara tidak tetap. Dia bisa menganggur hari ini, kemudian besok harus lembur sampai jam dua pagi. Vara tidak perlu keluar rumah untuk melakukan pekerjaannya. Yang dia butuhkan hanyalah sebuah komputer, tempat yang nyaman, dan koneksi wifi yang cepat. Para tetangga akan langsung bergosip ketika Vara membeli mobil baru atau keluar dengan pakaian-pakaian mewah, menganggapnya memelihara tuyul dan babi ngepet. Orang-orang memang susah memahami pekerjaan sebagai freelancer. Yang mereka lihat hanya apa yang terpampang di luar. Mereka hanya tidak tahu saja jika Vara sering terkena typus akibat deadline yang gila-gilaan. Hal yang membuat Vara terus bertahan adalah rekeningnya yang gendut dipenuhi dollar. Vara dan kedua sahabatnya mendirikan sebuah biro jodoh yang diberi nama Dear, Future Husband dan sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Banyak sekali pasangan yang dipertemukan di biro ini melanjutkan hingga ke jenjang pernikahan. Karena hanya dijalankan sebagai hobi dan pekerjaan sampingan, biro ini tidak menghasilkan banyak keuntungan. Vara yang pekerjaannya fleksibel lebih sering mengurus biro ini dibanding kedua temannya. Tidak apa-apa. Toh Vara jadi punya alasan untuk keluar rumah, jadi para tetangga berhenti menggosipkannya. Dulu sebelum Rahma bertemu dengan Dana, dia yang lebih sering mengurus Dear Future Husband atau mereka lebih sering menyebutnya DEAFA agar lebih mudah. Sekarang, Rahma lebih sering menghabiskan waktunya untuk kursus memasak dan mengunjungi kantor Dana setiap hari. Orang kalau lagi dilanda bucin memang tingkahnya bikin orang-orang di sekitarnya kesal dan frustrasi, sama halnya dengan yang dirasakan Vara. Apa lagi, Vara menjalani hubungan jarak jauh dengan Ganesh yang bekerja di kaki gunung Sewu sebagai Jagawana. Tingkah Rahma dan Dana sering membuatnya mendadak iri. Kalau bisa sebenarnya Vara ingin memiliki pacar yang dekat sehingga bisa sering-sering melihatnya. Namun, apa daya. Dia sudah telanjur cinta mati pada Ganesh. "Selamat Pagi Bu Vara." Mika, resepsionis yang sudah bekerja selama tiga tahun belakangan ini menyapa ramah. "Mau tak bikinin kopi?" "Boleh." Vara balas tersenyum. "Yang kayak biasa kan bu? Kopi hitam pekat tapi gulanya cuma satu sendok?" Mika berdiri, bersiap menuju dapur. "Iya," balas Vara singkat. Dia berujar kemudian, membuat langkah Mika terhenti sejenak. "Oh iya. Ada customer baru nggak? Kita main sama berapa orang hari ini?" "Ada dua orang Bu, cewek semua. Jadi totalnya ada sepuluh calon pasangan baru buat bulan ini," balas Mika. Senyum manisnya terkembang. Dulu Vara bertemu dengan Ganesh juga karena DAEFA. Vara menulis kriteria calon suami idamannya adalah orang yang bisa diajak naik gunung, berjiwa bebas dan tidak terikat. Ganesh mempunyai semua itu tanpa repot-repot berusaha. Gunung sudah menjadi teman mainnya sejak kecil, dan bahkan menjadi belahan jiwanya. Tapi sekarang, mungkin saja, posisi gunung sudah tergeser dengan Vara yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai calon istri. Hebat sekali Vara, bisa memindahkan gunung yang tingginya ratusan ribu kali lipat dari dirinya. "Bu Vara ini kopinya." Mika mengantarkan kopi panas itu ke ruangan Vara. Sebenarnya, ruangan Vara dengan kedua sahabatnya. Siapa yang datang lebih dulu memiliki hak untuk bisa duduk di kursi singgasana. Sementara yang lain hanya boleh duduk di sofa yang lebih dikhususkan untuk tamu. "Terima kasih. Sama minta tolong ambilin surat-surat yang dateng bulan ini dong, aku mau liat." Vara meletakkan kedua tangannya di pinggiran cangkir, menyerap kehangatan untuk telapak tangannya yang dingin. Di luar hujan lebat sekali. Vara lupa membawa payung dan berakhir dengan kehujanan saat turun dari mobil. Tak lama, Mika datang dengan sdetumpuk surat yang ditaruh di dalam amplop berwarna-wani. Surat ini ditujukan untuk calon-calon suami yang akan mereka temui nanti siang. Hanya sepuluh surat yang terpilih tiap bulannya setelah dilakukan seleksi. Biasanya lebih banyak pendaftar perempuan dibandingkan dengan laki-laki, sehingga Vara harus menyesuaikan jumlahnya. Biasanya, Vara akan memberikan beberapa surat untuk dibaca para calon suami. Dan jika mereka tertarik, maka pertemuan hari ini akan menjadi titik awal apakah mereka ingin lanjut menjalin hubungan atau tidak. Vara, suka membaca surat-surat terpilih, dan merasa ajaib saat menemukan kriteria-kriteria aneh dari para calon pengantin wanita. Padahal Vara pikir, keinginan Rahma sudah yang paling aneh, tetapi masih ada yang lebih tidak masuk akal, seperti ingin memiliki calon suami yang mempunyai kemampuan supranatural untuk melihat hantu. Si wanita ingin membuat konten youtube dengan calon suaminya tentang keberadaan makhuk halus. Lucu sekali. Untuk memastikan bahwa kedua calon pengantin aman dan bebas dari penipuan, Vara mempunyai tim yang akan mengecek identitas calon customer hingga mendatangi alamat mereka diam-diam. Tim Vara juga mewawancarai beberapa kenalan calon klien untuk memastikan bahwa mereka bukan kriminal. Beruntung, sampai sekarang mereka belum pernah mengalami masalah yang berhubungan dengan tindak kriminal. Suara dering ponsel membuat Vara teralih. Dia tersenyum saat melihat nama Ganesh terpampang di layar. "Halo Yeobo?" Vara memang penggemar berat drama Korea. Karenanya, dia sengaja memanggil Ganesh dengan sebutan sayang ala Korea. Sejujurnya, alasan Vara memilih pekerjaan sebagai freelance adalah salah satunya karena dia bisa maraton drama Korea sesukanya karena pekerjaan freelance tidak terikat deadline. Perjalanan Vara sebelum memutuskan untuk menjadi seorang freelance sangatlah panjang. Dan Vara tidak menyesal sama sekali karena berhasil keluarga dari lingkungan toixic. Tidak apa jika pergaulan Vara menjadi terbatas. Yang penting, dia bisa hidup bahagia dan menghasilkan banyak uang. "Hei, kamu jadi ke sini besok pagi?" Suara berat Ganesh terdengar maskulin dari seberang sana. Memang, dari semua yang ada pada diri Ganesh, suara beratnya adalah sesuatu yang paling Vara sukai. Dia bahkan bisa tahan berjam-jam hanya dengan mendengar suara Ganesh mengatakan sesuatu yang sama. Bahkan, ponsel Vara sudah dipenuhi dengan rekaman suara Ganesh. Vara memaksa pria itu untuk mengirimkan rekaman suaranya pada Vara seminggu dua kali. Memang hanya kata-kata random, atau percakapan aneh Ganesh dengan teman-temannya. Namun, hal itu saja sudah cukup untuk mengobati rasa rindu di hati Vara karena hubungan jarak jauh yang harus mereka lalui. "Jadi dong. Ada hal penting yang harus aku bicarain ke kamu tentang rencana pernikahan kita," balas Vara akhirnya. "Kamu bisa luangin waktu sebentar kan?" "Kenapa mendadak bicarain soal pernikahan?" Nada suara Ganesh terdengar aneh dari seberang sana, seperti gantungan antara penasaran, khawatir dan terselip ketakutan. "Kamu nggak apa-apa?" Vara terkekeh kecil. Dia sudah tahu apa yang ada dipikiran Ganesh saat ini. "Aku nggak ada niatan buat batalin pernikahan kita kok, tenang aja." "Syukur deh," Ganesh langsung nyelutuk. Nadanya meman rendah, tetapi Vara bisa mendengarnya dengan jelas. Ganesh itu memang tipe cowok yang tidak bisa menyembunyikan emosinya. Dia seperti buku yang terbuka. Karena itulah, bahkan tanpa Ganesh buka suara, Vara bisa mengetahui apa yang sedang berada di pikirannya dengan mudah. Mungkin karena itulah Vara jatuh cinta pada Ganesh. Dia terlihat apa adanya, jujur dan sedikit polos. "Oke, aku bakal ambil cuti besok pagi," balas Ganesh lagi. "Kalau kamu mau nginep, aku bakal dengan senang hati camping berdua sama kamu di atas gunung." Vara terkekeh lagi. "Maaf deh, aku nggak ada niatan main di luar musim ujan kayak gini. Kamu aja." "Tapi aku bisa hangatin kamu kalau kedinginan," balas Ganesh lagi. "Maksudnya, aku punya kantung tidur baru yang tebal dan hangat." "Tapi aku sukanya tidur di atas lengan kamu. Gimana dong?" Vara tidak tahan untuk menggoda Ganesh. Vara sudah bisa membayangkan wajah memerah Ganesh di seberang sana. Lucu rasanya saat Ganesh masih saja bisa bertingkah polos padahal usianya sudah dua puluh sembilan tahun. Setelah kekehannya terhenti, Vara berujar lagi. "Gimana kalau aku nginep di rumahmu aja? Kayaknya lebih hangat deh. Aku kangen banget sama aroma kamu." "Omongan kamu udah mulai ngelantur, aku tutup telponnya ya?" Ganesh mengancam, Vara terkekeh lagi. "Jangan dong. Aku kan masih mau denger suara kamu. Candu banget soalnya." Vara menyangga dagunya dengan kedua tangan. Dia memasang wajah manis seolah-olah Ganesh sedang berada di depannya. "Kamu sibuk nggak sih? Gimana kalau kita video call-an aja?" "Jangan, aku masih di kantor. Lagi ada seminar. Ini aja aku izin ke kamar mandi sama atasan," kata Ganesh, nadanya terdengar menyesal. "Besok deh, aku janji untuk ngeluangin semua waktuku buat kamu." Bibir Vara mengerucut. "Yaudah deh, bukan kamu aja kok yang sibuk. Aku juga sibuk ngurusin jodoh orang." Vara bersiap menutup sambungan telponnya. "Good Bye, Yeobo. Sampai ketemu besok pagi." Vara tidak menunggu jawaban Ganesh dan segera mematikan ponselnya. Fokus Vara kemudian kembali lagi pada surat-surat yang dibawakan Mika. Dia mengambil satu dan membaca isinya dengan saksama. Sebentar lagi klien-kliennya akan datang untuk melakukan tahap perkenalan. Setidaknya Vara harus tahu karakter-karakter mereka dari surat yang ditinggalkan. **** Elisha turut hadir ke kantor untuk melihat calon-calon pasangan yang akan segera bertemu siang ini. Sebelumnya, pihak pria sudah diberikan beberapa surat untuk dibaca, dan mereka sudah menentukan pilihan untuk bertemu dengan calon istri mereka siang ini. Dari puluhan surat yang masuk, akhirnya sepuluh pasangan terpilih untuk melanjutkan pada tahap perkenalan. Ada sebuah ruangan khusus di mana mereka bisa saling bertatap muka dan memperkenalkan diri. Ruangan itu diberi pembatas sehingga ke sepuluh calon bisa saling bicara tanpa mengganggu yang lain. Setelah sesi perkenalan berakhir, keduanya akan menulis papan skor untuk satu sama lain. Jika skornya sama-sama tinggi, maka masing-masing pasangan bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Pihak Dear Future Husband akan menfasilitasi para pasangan yang ingin berkencan. Mereka bisa memilih kencan seperti apa yang mereka inginkan untuk pertama kali. “Cowoknya ganteng-ganteng loh El, yakin enggak mau satu?” Vara tersenyum jail saat Elisha menutup pintu kantor. Padahal Vara dan Rahma sudah akan menikah, tetapi calon pacar Elisha masih belum kelihatan hilalnya. Karena itu, baik Vara maupun Rahma sering menggoda Elisha tentang calon suami. “Hmm, barusan gue lihat mereka di ruang tunggu. Tapi nggak bikin gue berselera. Lima puluh persen di antara mereka masih bocil-bocil.” Elisha menjawab dengan nada datar. Dia menuju ke konter untuk membuat kopi. “Yang lo maksud bocil tuh yang kayak mana sih?” Vara menatap punggung Elisha, keningnya sedikit berkerut. “Perasaan batas minimal usia cowok yang boleh ikut Dear Future Husband itu dua puluh tiga tahun deh.” “Menurut gue umur dua tiga masih bocil.” Elisha menyandarkan pinggangnya pada pinggiran konter. Dia mengaduk kopinya sambil menatap Vara. “Seharusnya kalian nurut aja pas gue bilang minimal usia cowok tiga puluh.” “Umur itu nggak nentuin kedewasaan orang, El.” Vara memutar bola matanya. Terkadang Vara memang suka bingung dengan cara pikir Elisha. “Gue doain lo jodohnya sama bocil umur dua empat.” Seringai Vara terlukis. Dia menaik-turunkan alisnya. “Sekarang lagi ngehits pasangan Noona-Dongsaeng tahu.” Elisha memasang wajah sinis. “Sorry, ya, gue nggak bisa sama berondong. Mendingan juga jomblo. Hidup jadi aman damai sentosa sejahtera.” “Lo belum ketemu yang cocok aja.” Vara terkekeh kecil. “Karena lo udah jomblo sejak lahir, gue yakin kalau sekalinya pacaran, lo bakal jadi bucin banget.” Elisha menyeruput kopinya perlahan. “Hmm, let wait and see.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN