Sikapnya Mulai Aneh

1082 Kata
Sudah sekaian lama Yoona tidak menempati apartemennya yang kecil ini, bahkan sekarang dalam kondisi yang sangat kotor karena tidak ia bersihkan dengan waktu yang lumayan lama. Saat ini Kevin sedang berada di tempat tersebut, mengantar Yoona kembali setelah beberapa hari menginap di rumah Kevin. Pria itu duduk terdiam, memandangi Yoona yang sibuk membersihkan tempat tidur, mengepel lantai, dan membuka tirai-tirai di ruangan itu. Setelah tangannya selesai berkutat menyelesaikan pekerjaan yang hampir memakan waktu tiga jam lebih, Yoona mulai menyadari keberadaan Kevin. Dia sekarang tertidur dengan posisi duduk, sebelah tangan menjadi penopang kepalanya. Berkali-kali kepala Kevin terlepas dari penopang itu, membuat Yoona merasa kasihan. Setelah memutuskan untuk mengambil selimut dari dalam lemari, tergeletak di ujung tempat tidur, Yoona melangkah mendekati Kevin. Kedua tangan Yoona berusaha membentangkan selimut tipis bermotif polos ke seluruh tubuh Kevin, sedangkan bola matanya juga tidak berhenti menatap wajah Kevin yang kelelahan karena sibuk mengurus pekerjaannya, termasuk merawat ibunya. Gadis itu sudah terlalu lama menatap wajah Kevin dan akhirnya menutup tubuh pria di hadapannya dengan selimut. Lalu ia berjalan ke arah dapur, berniat membuatkan minuman dan makanan. Semangkuk Sundubu Jjigae yang masih mengepulkan asap sudah tersaji di atas meja cokelat berukuran kecil. Tak lupa Yoona menambahkan Kimchi dan beberapa lauk lainnya di sampingnya. Gadis itu segera mempercepat langkah kaki, mendekati Kevin yang masih tertidur di atas kursi. Dalam langkahnya yang ke sepuluh, Yoona sudah berdiri di depan Kevin—lagi. Alisnya terangkat sebelah, kedua tangannya saling melipat di d**a. Dia masih heran dengan Kevin yang masih saja pulas tanpa terbangun sama sekali. Padahal Yoona sudah menghasilkan bunyi—sengaja dia lakukan untuk membangunkan Kevin, saat sedang memasak. Tapi Kevin tak juga terbangun. Dengan terpaksa, Yoona menempelkan telapak tangan ke wajah Kevin—sambil mendekatkan wajahnya ke arah dia. Berulang kali dia menggoyangkan wajah Kevin, akhirnya Yoona menyerah dan membalikan tubuh. Saat sudah membalikan tubuh, tangan Kevin bergerak dan menahan tubuh Yoona dengan menggenggam pergelangan tangan Yoona. “Aku lelah, Hmmm.” Ujar Kevin dengan suara yang hampir tak terdengar.  Yoona langsung berhenti, membalikan tubuhnya. Dia masih melihat kelopak mata Kevin tertutup rapat, belum terbangun sama sekali. “Hei, bangun, bangun…..!” Yoona meninggikan suara meskipun bagi orang lain suara itu masih terdengar lembut. Akhirnya Kevin terbangun dan melihat Yoona sedang berdiri didepannya. “Ha, aku tertidur disini ya?” Pertanyaan yang pertama kali keluar dari Kevin membuat Yoona menyunggingkan senyum, namun cepat-cepat dia membalikan tubuh dan berjalan ke arah meja makan. “Tentu saja.” Jawab Yoona singkat. Gadis itu sudah duduk di kursi, tangan-tangannya bergerak memasukan nasi ke mangkuk untuk segera di santap. “Apa kau tidak lapar, hmmm?” Yoona menghentikan gerakan, melirik Kevin yang masih diam mematung, sedang memperhatikannya dari jarak jauh. “Hmmm, baiklah.” Ujar Kevin dengan bersemangat. Ia berjalan menuju ke arah Yoona. Bola matanya seperti berbinar menemukan makanan telah tersaji di atas meja. Yoona yang menatap Kevin, menaikan sebelah alis, sedikit bingung dengan ekspresi yang Kevin tunjukan itu. Entah makanan didepannya menjijikan atau mungkin yang lainnya. “Aku jadi merindukan masakan Ibuku.” “Tenang saja, Ibumu pasti akan sembuh dan membuatkanmu makanan yang enak.” Yoona kembali memasukan nasi ke dalam mangkuk, tanpa memandang Kevin yang sudah duduk di kursi. “Terima kasih, ucapanmu sedikit menghiburku. Tapi sepertinya mustahil.” “Percayalah, Ibumu pasti sembuh.” Yooa menegaskan kalimat terakhir, bola matanya hampir keluar saat menatap Kevin. Hal itu membuat Kevin tersenyum. Tanpa menunggu lama, tangan Kevin meraih mangkuk didepan Yoona yang sudah terisi oleh nasi, lalu dia mengambil sup yang tak jauh dari mangkuk nasinya itu. Yoona langsung tersenyum melihat tingkah Kevin yang tanpa malu-malu itu. “Hmmm, ini enak sekali.” Ucap Kevin disela-sela mengunyah makanan, dia sengaja fokus menghabiskan makanan tanpa melirik Yoona. Mereka berduapun memilih tidak berbicara. *** Hari ini Yoona mendapatkan shift pagi, kelopak matanya masih berat untuk terbuka lebar. Namun karena kenangan bersama Kevin tadi malam dirumahnya, membuat Yoona bersemangat bekerja. Terlebih lagi dia akan kuliah sebentar lagi. Yoona merasa hidupnya sedikit berubah, tanpa entahlah. Yoona tidak begitu yakin untuk ke depannya, apakah akan sama seperti ini atau kembali ke kehidupannya yang dulu. Yoona menghembuskan napas panjang, manik matanya berhenti menatap ke arah luar jendela kafe. Dia berjalan ke arah meja kasir saat melihat dua orang pel*nggan mulai membuka pintu utama. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Yoona sudah berdiri didepan meja kasir, yang terletak tidak jauh dari tempat dia berdiri sebelumnya. Ia selalu memasang senyum, melemparkannya kepada  pel*nggan kafe. “Pesan 2 Macchiato.” Pinta  pel*nggan. Dengan gerakan cukup cekatan, Yoona hanya membutuhkan waktu satu menit menyiapkan pesanan  pel*nggan. Beberapa orang selalu memuji minuman yang dibuatkan Yoona, karena rasanya selalu pas dan tidak berlebihan. “Silakan, selamat menikmati kopinya.” Yoona mengulurkan 2 gelas pesanan kepada  pel*nggan, lalu dia melayan* pel*nggan berikutnya. Dia tidak menyangka kalau pel*nggan pagi ini lumayan banyak. Mereka lebih menyukai mengawali kegiatan dengan segelas kopi. Tentu saja, kopi benar-benar membuat hidupmu lebih bahagia. Setelah Yoona menyelesaikan pekerjaannya, dia langsung berjalan ke arah loker untuk berganti pakaian. Namun ditengah itu, dia melihat Kevin berdiri menghalangi jalannya—Kevin berdiri bersandar ditembok, bola matanya mengarah ke Yoona yang mendekatinya. Yoona mengerutkan kening, sedikit bingung dengan keberadaan Kevin yang sedang mengawasinya dari jauh. Untuk apa dia berada disini, apakah dia menggantikan posisi Tuan Joo di kafe ini. Yoona menghembuskan napas panjang, sedikit acuh dengan keberadaan Kevin. Padahal dia sebenarnya bahagia melihat pria itu sedang disini, apalagi dia sedang menunggu kedatangan Yoona—sepertinya. “Apakah sudah selesai pekerjaanmu hari ini?” Tanya Kevin saat Yoona berusaha melewati tubuhnya yang menutupi jalan ke arah loker. “Tentu. Bagaimana dengan kabarmu?” “Haah?” Kevin sedikit melebarkan katup bibir begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yoona. Apakah gadis itu bodoh atau bagaimana, perasaan baru kemarin mereka bertemu tapi kenapa dia menanyakan kabar kepada Kevin. Mungkin pertanyaan itu lebih pantas untuk seseorang yang tidak ia temui beberapa hari. “Apakah tidak ada kalimat lain?” “Nggg…ngg… aku harus berganti pakaian.” Yoona menunjuk ruang loker dengan suara terbata-bata, wajah mungilnya masih menatap Kevin dan tanpa menunggu lama gadis itu berlari meninggalkan Kevin sendirian. Kevin hanya menaikan kedua bahu beberapa detik, berusaha memahami sikap Yoona yang aneh. Kevin mengira Yoona bersikap seperti itu karena mereka baru saja akrab setelah beberapa waktu lalu mereka bertengkar hebat. Kevin selalu merasa bersalah telah memperlakukan Yoona sangat jahat. Tapi siapa sangka, Yoona bersikap seperti itu karena mulai menyukai Kevin. Pria itu sangat manis bagi Yoona. Untung saja Kevin belum menyadari mengenai perasaan Yoona yang sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN