Ternyata Dia Licik

1110 Kata
Bayangan Yoona terlihat memantul di sebuah cermin toilet tempat makan yang akan menjadi acara pertemuannya dengan teman-teman kampus. Dia sedikit tidak percaya diri dengan apa yang ia kenakan sekarang. Baju bergaya Sabrina warna pink yang memperlihatkan bahu kecilnya dipasangkan dengan celana Skinny Jeans membuat dia terlihat begitu cantik. Berulang kali dia membalikan tubuh, ingin meninggalkan toilet karena memang sudah beberapa menit yang lalu acara di mulai, dia sudah dihubungi oleh Dae In untuk segera datang. Tapi Yoona masih menahan tubuhnya untuk berdiam diri didalam sini. Kedua tangan Yoona saling mengepal di sisi tubuh, bibirnya sengaja ia gigit untuk mengurangi kecemasan yang berlebihan. Dia takut menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Tapi dia juga tidak mungkin keluar dari sini untuk berganti baju mengingat acara sudah dimulai.  Mungkin ini kesalahan besar bagi dia, sudah memilih pakaian yang salah. Jujur Yoona ingin sekali mengenakan pakaian seperti sekarang, tapi sejak perjalanan menuju kemari, seluruh orang selalu menatap aneh ke arahnya, membuat dia menjadi tidak percaya diri.  Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian, Yoona membalikkan tubuh, melangkah keluar dari toilet. Namun dia tidak sengaja bertemu dengan seorang pria berpostur tinggi besar mengenakan kaus polos. Seketika Yoona mengingat orang tersebut, begitu sebaliknya. Pria itu langsung memberi senyuman pada Yoona sembari berjalan memasuki toilet.  *** Seluruh orang yang duduk berhadapan di sebuah meja dekat  jendela, menatap kehadiran Yoona dengan pandangan menilai. Menilai kalau Yoona begitu cantik dan berbeda, jauh berbeda saat dia berada di kampus. Ada juga beberapa pria saling berbisik membicarakan penampilan Yoona, lalu mengakhiri pembicaraan itu dengan melempar senyum takjub padanya.  Yoona semakin bingung dan tak percaya diri, dia masih berdiri memandangi teman-temannya secara bergantian, Yoona berpikir mereka tidak menyukainya.  Pandangannya berhenti pada seorang wanita yang sedang tidak menatapnya. Dia memilih untuk memainkan ponsel, entah dia sudah tahu kedatangan Yoona atau belum.  Saat Yoona hendak menghampiri wanita itu, seorang pria melambaikan tangan ke arah Yoona untuk menyuruhnya duduk disebelahnya karena masih kosong. Melihat wajah pria itu yang penuh harap, Yoona langsung mendekatinya, melupakan wanita tadi yang sekarang sedang menatapnya sinis. Sekarang Yoona duduk saling berhadapan dengan Dae In, yang ternyata masih memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga setengah badan Yoona. Tatapan itu seakan tak percaya kalau gadis didepannya adalah Yoona, yang selalu berpakaian santai saat datang ke kampus. Melihat Dae In serius menatapnya, sebisa mungkin Yoona memberikan senyum dengan lambaian tangan ke arah Dae In. Wanita itu hanya tersenyum membentuk garis saja, tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Dae In, apakah dia marah karena terlalu lama menunggu kedatangan Yoona. Entahlah, Yoona hanya perlu fokus pada acara ini yang sedang di pimpin oleh ketua kelas. Yoona menghembuskan napas melihat beberapa hidangan sudah tersaji di meja, tak lupa soju dan bir menjadi minuman primadona malam ini. Saatnya pesta, teriak ketua kelas.  "Aku akan menuangkan soju untukmu." Tiba-tiba Dae In mengajak Yoona berbicara sambil berdiri setengah membungkuk, mengambil gelas kecil didepan Yoona. Lalu dia menuangkan soju yang sudah ia genggam botolnya, menyodorkannya pada Yoona. "Ayo, habiskan." Ujar Dae In penuh semangat. Dia kembali duduk di kursinya, masih mengawasi Yoona untuk menegak soju itu. "Ayo minum.. Habiskan." teriak pria di sebelah Yoona sambil bertepuk tangan, diikuti oleh beberapa orang lainnya termasuk Dae In. Karena sungkan dan terpaksa, Yoona dengan cepat menghabiskan isi gelas itu, membuat orang-orang yang menyemangatinya tadi saling bersorak. "Ayo.. Aku tuangkan untukmu." Lanjut pria di sebelah Yoona, ah sial! Yoona tidak ingin membuat dirinya mabuk, tapi kenapa semua orang sengaja ingin melihat Yoona tak sadarkan diri, terlebih lagi Dae In yang masih memasang senyum licik. Untuk kedua kalinya, dengan ekspresi menyerah Yoona menegak soju itu. Hal itu terjadi hingga lima kali berturut-turut. Kini Yoona berusaha mengendalikan diri agar tidak mabuk. Saat dia ingin pergi ke toilet, tiba-tiba pria yang ia temui di toilet tadi menghampiri Yoona dan mengajaknya bertukar kontak. karena Yoona menganggapnya sebagai teman kampus, ia memberikan kontaknya begitu saja. Melihat kedekatan Yoona dengan pria yang bernama Jung A didepan mata membuat Dae In sedikit kesal, apalagi mereka berani bertukar kontak telepon. Manik mata Dae In masih fokus terhadap ekspresi Yoona saat berbicara dengan Jung A, membuatnya frustasi. Seharusnya yang menjadi pusat perhatian malam ini Dae In, bukan Yoona. Apalagi Dae In sudah berusaha mengenakan baju, tas, dan sepatu baru yang ia beli beberapa jam lalu. Dae In menyeringai licik ke arah Yoona, sorot matanya terlihat tajam dengan kedua alis saling bertaut. Seharusnya dia tidak perlu mengajak Yoona pada acara ini, sungguh Dae In menyesal. Malam semakin larut, beberapa orang mulai pamit untuk pulang, termasuk Yoona. Gadis itu sudah dalam keadaan setengah sadar. Dengan antusias, Dae In menawarkan diri untuk mengantar Yoona pulang. Merasa dia tak mampu berjalan lurus, Yoona mengiyakan kebaikan Dae In. Cekatan, Dae In meraih lengan Yoona, melingkarkan sebelah tangannya agar mereka saling berdekatan. Melihat sikap Dae In itu, Yoona mengulas senyum tipis dengan mata terpejam. Dia beruntung menemukan teman seperti Dae In. Seharusnya dia tidak perlu berpikiran buruk tentangnya, Yoona salah menilai Dae In selama ini.  *** Yoona masih memeluk erat lengan Dae In, seperti tidak ingin melepaskannya. Dalam perjalanan pulang, mereka lebih memilih saling diam karena Dae In menyadari keadaan Yoona yang mulai tak sadarkan diri. Apalagi kepala Yoona terus-menerus menyandar pada bahunya, Dae In hanya pasrah karena dia memang ingin mengantarkan Yoona pulang.  Untung saja Dae In sudah mendapatkan informasi alamat lengkap rumah Yoona saat gadis itu masih sadar. Namun, bukan arah ke rumah Yoona mereka pergi, melainkan ke sebuah rumah kos yang sangat sepi. Terlihat mengerikan dari luar, tapi Dae In tetap akan membawa Yoona masuk ke dalam. Dae In mulai melangkah masuk tapi kedatangannya sudah disambut oleh seorang pria tidak mengenakan sehelai benang di badannya, sedang berdiri di daun pintu. Yoona yang mulai sadar, melihat pria itu tersenyum ke arahnya, seperti menginginkan sesuatu terhadapnya. Dia tidak menyadari kalau Dae In masih berada disampingnya, yang Yoona tahu dia sedang berhadapan dengan seorang pria saja. Dae In segera menyerahkan Yoona ke pria itu, mendorongnya dengan kasar. Setelah tubuh Yoona berada dipelukan pria itu, dia melemparkan sebuah amplop cokelat ke arah Dae In. Dengan sigap, Dae In menangkap dan membuka isi amplop. Begitu mengetahui isinya, wajahnya terlihat begitu bahagia. Dia langsung memasukan amplop itu ke dalam tas yang baru saja ia beli.  "Semoga menyenangkan malam ini." Kalimat itu menjadi ucapan terakhir Dae In menemani Yoona, namun gadis itu tidak bisa mendengar dengan jelas. Kepalanya dipenuhi oleh kunang-kunang dan terasa sakit.  "Tentu saja. Terima kasih hadiah yang kau berikan ini. Aku sangat suka." Ucap pria itu sambil mencium pipi Yoona yang kemerahan.  Dae In melambaikan tangan sembari berjalan menjauh dari rumah kos itu. Wajahnya dipenuhi oleh kepuasan batin melihat Yoona diperlakukan seperti itu. Gadis sama sekali tidak menyesal melakukan hal itu, karena cara itu dia bisa mendapatkan banyak uang. Toh, semua merasa diuntungkan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN