Villa Marbella kembali sunyi setelah perang mereda. Denting senjata masih terngiang, bau mesiu menempel di dinding batu, dan denyut adrenalin belum sepenuhnya mereda dari tubuh siapa pun. Di luar, ombak menghantam tebing, terkadang lembut, terkadang menghentak keras, seolah meniru ritme helaan napas Gyan. Lampu-lampu villa menyala redup, tak ada yang berkeinginan menambah gemerlap untuk menyaingi kerlap-kerlip bintang di langit yang jumlahnya tak seberapa. Tak pula ada musik perayaan. Tak ada tawa kemenangan. Famiglia bergerak senyap, mengganti shift jaga, membersihkan sisa pertempuran, dan menutup luka. Gyan berjalan menyusuri lorong dengan langkah yang begitu lambat. “Beristirahatlah dulu, Tuan,” ujar Bruno yang entah sejak kapan membuntutinya. “Anda terlihat kacau.” Teguran itu tak

