Clarissa hanya diam, menatap layar laptop yang sejak tadi sudah menyala. Dia hanya diam, sesekali mengetuk meja kerjanya pelan. Rasanya tidak ada semangat sama sekali. Bahkan, sejak tadi pikirannya terus berkutat dengan perkataan Aiden yang menanyakan mengenai Oliv, membuat pikirannya kembali buyar. Clarissa membuang napas pelan dan menyandarkan tubuh di kursi kerjanya. Dia mulai mendongak, menatap langit-langit kantor lekat. Hingga dia mulai memejamkan mata, berusaha mengusir lelah yang tiba-tiba saja datang. “Bagaimana kalau sampai Aiden tahu itu anaknya?” gumam Clarissa tidak jelas. Jujur, sejak tadi dai merasa takut kalaui sampai Aiden mengetahui hal tersebut. Hanya ada dua kemungkinan, dia yang akan menyakiti Oliv atau dia yang akan merebutnya dariku, batin Clarissa. Namun, sesaat

