Kerinduan Dua Benua

2165 Kata

Rasa rinduku menepi dalam hati Merasakan hangat tiap bayangnya hadir Namun denyut jantungku melemah Mengingat tembok tinggi yang selalu menjadi pemisah kita *** Kerinduan Dua Benua Pagi menyambut Julian dengan suara bising di dekat rumah. Tidak heran karena lokasi rumahnya yang berada di jalan utama Amsterdam. Bukan hanya suara mobil, suara bel sepeda ikut menyemarakkan pagi hari. Ia mengerjapkan mata mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang berada di kamar. Bukan sinar mentari yang memenuhi kamarnya, melainkan cahaya dari lampu. Di kamar ini tidak ada jendela. Sehingga terasa sedikit pengap. Karena tidak adanya celah, kecuali ukiran di atas pintu kayu. “Hmm, jam berapa sekarang ya?” Julian mencari keberadaan ponselnya dan menemukan di atas meja. Segera saja mengambilnya dan menekan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN