“Sayang ….” Tok! Tok! Tok! Randi kembali menggedor pintu berwarna putih itu. “Sayang, buka pintunya!” serunya penuh permohonan. Namun, tak ada sahutan. “Maaf … maafkan aku.” Suara pria bertubuh jangkung itu bergetar, tubuhnya luruh ke lantai. Kini ia duduk menyandarkan punggung pada daun pintu yang masih tertutup rapat. Janji yang ia ucapkan di awal pernikahan terus terngiang. “Bagaimana jika suatu saat kamu menyakiti fisikku?” tanya Alin sesaat setealah mereka menyelesaikan ritual malam pengantin mereka. Tubuh polos keduanya ditutupi selimut tebal. “Itu nggak akan terjadi, Sayang,” jawab Randi penuh percaya diri. Direngkuhnya tubuh polos sang istri. “Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan.” Randi menghela napas. “Baiklah. Jika suatu saat

