2. Desak

1125 Kata
Zizi berjalan menuju apartemen kecilnya dengan berbagai barang yang tadi ia beli. Ditambah mendadak bosnya memberikan beberapa barang yang ada di dalam mobilnya seperti makanan ringan bahkan bahan masak. Terkejut sekali Zizi saat melihat isi mobil Raka yang sudah seperti kulkas berjalan, baru kali itu ia melihat mobil yang didalamnya tersusun rapi banyak barang, terlebih seorang pria dan seorang bos sebuah perusahaan besar yang memiliki karakter agak aneh dimata Zizi. Sekedar informasi, Raka yang menawarkan Zizi untuk pulang bersamanya, lagian Zizi bisa hemat ongkos bukan? Dan alasan Raka memberikan beberapa barang pada Zizi adalah karena takut mubazir karena sudah dekat tanggal kadaluarsa dan Raka merasa kasihan. Agak jahat memang, tapi Zizi berusaha tersenyum saja, toh semua barang yang diberi Raka banyak berguna dan menghemat pengeluarannya. Zizi tersenyum saat pintu apartemen dihadapannya terbuka menampilkan seorang wanita berumur hampir enam puluh tahun dengan seorang bayi lucu digendongannya. "Hai ganteng!" sapa Zizi gemas mencubit sekilas pipi bayi lelaki itu, sepertinya ia baru bangun tidur. "Wah, kamu belanja banyak," ujar wanita itu melihat kantong plastik bawaan Zizi. Zizi hanya tersenyum sambil memisahkan sebuah kantong ke arah wanita dihadapannya itu, "ini ada beberapa untuk bibi," "Duh, nggak usah repot-repot," "Nggak repot kok bi, pasti lelah menjaga Arvin seharian, ini tidak seberapa, aku benar-benar berterima kasih," "Kamu ini benar-benar..," wanita itu mendecak malas karena Zizi yang selalu saja terus merasa merepotkan. "Ma, mah!" Arvin mendadak menggapai-gapai Zizi dengan tangan kecilnya. Wanita itu tertawa sambil menyerahkan Arvin pada Zizi, "dia pasti sangat merindukanmu," Zizi menggendong Arvin sambil mencium Arvin karena toh ia juga merindukan Arvin setelah bekerja seharian. "Kamu benar-benar akan menjaga Arvin sendiri?" wanita berumur itu bertanya ragu sambil menatap iba wanita muda dihadapannya. Zizi mendadak terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, "apa aku benar-benar sudah merepotkan bibi?" "Ah bukan! Bibi tidak bermaksud demikian, Arvin anak yang pintar dan tidak rewel, menjaganya membuat bibi yang kesepian ini senang, hanya saja kamu Zi..," Zizi mengerutkan dahinya karena tetangganya itu seolah menggantung kalimatnya. "Kamu masih muda, banyak hal yang bisa kamu lakukan, dan kamu juga harus menemukan seseorang untuk menjadi pasanganmu seterusnya," Tidak ada yang salah dari ucapan wanita itu, bahkan sudah beberapa pria yang mendekati Zizi mundur saat mengetahui keberadaan Arvin. Hanya sebuah senyum simpul yang bisa Zizi tunjukkan untuk saat ini, "aku masih bisa melakukan banyak hal, dan akan tiba saatnya aku menemukan seseorang yang bisa menerimaku apa adanya, termasuk Arvin." Wanita itu tak bisa bicara lebih banyak lagi, ia tak ingin mencampuri lebih banyak urusan wanita manis bersurai panjang kecoklatan itu. "Maaf bi, aku bawa Arvin sekarang ya, terima kasih untuk hari ini," akhirnya Zizi pamit membawa Arvin tak lupa dengan barang-barangnya yang membuat ia terlihat agak kesusahan. "Mau bibi bantu?" "Nggak usah bi, makasih aku bisa sendiri kok," * Zizi mengusap pelan rambut tipis Arvin yang tengah tertidur dengan jarinya. Sudah lewat jam sebelas malam Arvin baru mau tidur setelah tadi dia terus ingin bermain dengan Zizi, ia baru bisa tengkurap dan berguling sendiri namun semangatnya ingin melakukan banyak hal terlalu besar. "Apapun yang terjadi mama nggak bakal ninggalin kamu sayang," ujar Zizi pelan teringat ucapan wanita yang ia anggap keluarga tadi sore. "Kamu bukan beban, kamu yang bikin hidup seorang Zizi jadi lebih berarti, mama bakal lakuin apapun demi kamu," Zizi mencium Arvin seraya ikut menutup mata mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. *** "Wah gantengnya," puji Zizi pagi ini setelah memandikan bocah kecil itu. Ia kini menyisir rambut Arvin lalu menggelitiki perut Arvin hingga membuat bocah itu terkekeh. Sedang asik-asik bergelut dengan Arvin, dering ponsel membuat Zizi harus segera mengalihkan perhatiannya. "Ya pak, selamat pagi. Ada apa?" Zizi bertanya sesopan mungkin mengetahui yang menelpon adalah bosnya. "..." "Apa? Tapi kan pak saya masuk sekitar satu jam lagi," "..." "Tapi pak...," "..." "Baik, baik pak saya akan siap-siap secepat yang saya bisa," "..." "Kalau begitu saya tutup sekarang pak," Ingin rasanya Zizi melempar ponselnya untuk menyalurkan rasa kesalnya, untung saja ia ingat kalau saja ponselnya rusak bisa bertambah masalah hidupnya. "Kamu ke tempat nenek sekarang ya ganteng, mama harus siap-siap kerja secepatnya," dengan cepat Zizi menggendong Arvin dengan sebuah tas barang-barang Arvin untuk dibawa ke apartemen tetangganya lebih cepat hari ini. * Sambil membawa beberapa laporan ditangannya yang belum tersusun begitu rapi Zizi terus berlari keluar dari apartemennya. "Disini cepat!" Zizi yang tampak bingung langsung dipanggil oleh Raka dari jendela mobilnya agar segera mendekat. Zizi kembali berlari melihat itu, ia membuka pintu mobil dan duduk didalamnya dengan napas tersengal-sengal. "Astaga, kamu berantakan sekali," komentar Raka pada Zizi yang bahkan belum mengambil napas dengan baik. Ingin sekali rasanya Zizi melempar laporan ditangannya tepat ke wajah Raka. Siapa memangnya yang memberi tahu mendadak dan terus mendesaknya seolah jika ia tidak bergegas semua kehidupan ini akan berakhir!? "Sialan!!" rutuk Zizi dalam hati. Iya, hanya di dalam hati. "Ini semua laporan yang bapak butuhkan," dengan kesabaran tingkat dewa penuh senyum Zizi memberikan beberapa laporan sial itu kepada Raka. "Semuanya lengkap?" "Iya, bisa bapak cek sendiri," "Kalau kamu bilang udah, yaudah ga perlu saya cek lagi, taruh dibelakang," jawab Raka sambil tangannya sibuk dengan ponsel super mahal ditangannya. Dengan patuhnya Zizi mengikuti perintah Raka. "Sekarang kam.., astaga! Kamu memakai sendal jepit!?" Raka terkejut luar biasa mendapati sekretarisnya itu hanya memakai sendal jepit. Zizi yang mendengar itu juga kaget melihat ia keluar memakai sendal jepit lusuhnya, "ya tuhan! Bapak sih dari tadi bawel banget nyuruh saya cepat! Yaudah saya balik lagi, kan apa yang bapak minta udah saya kasih," "Kamu nyalahin saya? Dan apa kamu bilang? Balik lagi? Ini udah jam berapa!?" Zizi melirik jam digital yang ada di mobil Raka, "masih banyak waktu sebelum jam kantor saya kok pak, kalau gitu saya turun sekarang pak," "Kamu harus ikut saya sekarang!" "Lah!? Kemana pak? Bahkan saya belum bedakan dan bapak lihat saya makai sendal lecek begini?" "Kita keluar kota sekarang," Mata Zizi terbelalak, "keluar kota? Sekarang?? Kok mendadak gini sih pak? Dan kenapa saya mesti ikut!?" "Kamu sekretaris pribadi saya!" "Hah!? Sejak kapan?" "Sejak kamu berani bawa masuk sendal kamu yang tapaknya udah tipis dan licin itu kedalam mobil saya," Zizi panik seketika mendengar penuturan Raka, "pulangnya kapan pak?" "Kamu itu ya, belum pergi udah nanya pulang. Keterlaluan sekali, kita baliknya lusa," "Lusa!? Nggak pak, saya ga mau, saya turun sekarang," dengan cepat Zizi berniat membuka pintu namun kalah cepat dengan Raka yang mengunci semua pintu dan menghidupkan mesin mobilnya untuk digas pergi dari sini. "Saya tidak menerima penolakan," "Pak saya mohon, saya ga mau pak!! Lagian bentukan saya kayak gini gak malu apa pak bawa saya?"  Zizi terus berusaha agar ia tak ikut pergi dengan Raka. "Itu masalah gampang, disana kita beli sepatu sama make up," "Ish! Menyebalkan!!" "Apa kamu bilang!?" Raka tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Sekretarisnya yang selama ini selalu bekerja dan bersikap dengan sangat baik barusan mengumpat kesal. "Me-nye-bal-kan!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN