7. Couple

1291 Kata
Langkah kaki jenjang itu nampak mantap ke depan. Berbeda dengan kedua kaki mungil Parveen yang beberapa kali tersandung akibat kakinya sendiri. Bahkan kalau dirinya mempunyai keseimbangan yang buruk mungkin akan terjatuh mengenaskan seperti waktu itu. Tidak. Parveen tidak akan bertingkah ceroboh seperti itu lagi. Wajah Fairel nampak sangat puas saat menyadari betapa penurutnya gadis mungil itu. Bahkan dirinya hampir saja menyemburkan tawa kala tanpa sengaja melihat kaki Parveen yang terbelit sendiri. Fairel berdehem pelan sambil membalikkan tubuhnya, menatap Parveen yang sibuk mengusap peluh di dahinya. Ia sedikit merasa prihatin melihat gadis mungil itu. Apalagi ia tahu, bahkan Parveen memegang beberapa berkas yang telah digunakan pada rapat tadi. Kali ini dengan berat hati Fairel akan mengajak Parveen makan siang di sini saja, sekaligus permintaan maafnya atas kejadian kemarin. Ngomong-ngomong sejak kapan Fairel menjadi peduli dengan Parveen? “Saya mau makan siang di sini,” ucap Fairel dengan nada otoriter. Alis tebal Parveen bertaut kesal. Ia pun sudah tahu kalau bos besar di depannya sudah pasti lapar. Tetapi, tidak bisakah Fairel mengerti dirinya saat ini. Membawakan tas sekaligus beberapa berkas bukanlah perkara mudah. Parveen menarik napas pelan. Ia pun bertanya sehalus mungkin, “Kalau begitu mau makan di mana, Pak?” “Ramen,” jawab Fairel singkat dan membalikkan tubuhnya, kembali meninggalkan Parveen yang hampir saja berteriak marah. Menatap punggung Fairel yang perlahan menjauh, Parveen hanya menggeram kesal. Ia bahkan sudah tidak peduli tatapan beberapa orang yang menatapnya bingung sekaligus terkejut. Dirinya sudah tidak peduli dengan tatapan orang itu, sebab hatinya kini sudah sangat jengkel akibat tingkah Fairel yang mempermainkan dirinya. Dengan kembali memeluk berkas, Parveen menyusul Fairel yang sudah memasuki salah satu restoran makanan. Tanpa memperdulikan dirinya yang kesusahan Fairel hanya melirik sekilas, lalu mengendikkan dahunya, mengarah pada menu yang tergeletak di atas meja. Dada Parveen tentu saja bergemuruh kesal. Hampir saja dirinya mati terkena serangan darah tinggi akibat rasa kesalnya pada Fairel yang semena-mena. Mata cokelat terang itu perlahan meneliti satu per satu makanan yang berjejer rapi. Satu hal yang Parveen takuti adalah ia salah memakan makanan. “Ni hao,” sapa Parveen menatap pelayan yang ada di samping meja dengan ramah. Pelayan itu mengangguk, lalu merendahkan tubuhnya sambil menatap buku menu yang ada di tangan Parveen. “Ini halal, kan?” tanya Parveen hati-hati. Sejenak pelayan itu terdiam sebelum mengangguk beberapa kali. Parveen yang dilanda gundah gulana pun menatap Fairel. Lelaki itu ternyata tengah asyik dengan ponsel di genggamannya, mengabaikan Parveen yang sibuk berdiskusi dengan pelayan. “Pak Fairel, makan apa?” tanya Parveen dengan senyum dipaksakan. Kepala Fairel terangkat dengan alis bertaut bingung. “Kamu kan sekretaris saya. Jadi, sebisa mungkin kamu harus melayani bos besar ini.” Kalau saja Parveen tidak mengingat bahwa dirinya tengah berada di restoran mewah, mungkin ia sudah membalikkan meja dan bergegas pergi meninggalkan Fairel dengan tampang jeleknya. Namun, semua itu hanyalah hayalan dirinya saja yang tidak akan pernah bisa terwujud. Dengan bibir yang terus tersenyum hingga terasa kebas, Parveen pun bertanya kembali, “Saya kan sekretaris baru, Pak. Kalau misalnya saya memesan makanan yang salah bagaimana?” Jari telunjuk Fairel terangkat, mengisyaratkan untuk diam. “Saya suka apapun makanan di sini.” Lagi-lagi Parveen harus meredam emosinya. “Begini lho, Pak. Kalau misalnya saya pesan sesuatu yang ternyata membuat pekerjaan saya terancam bagaimana?” “Maksud kamu saya alergi?” Fairel menatap Parveen penuh. Parveen mengangguk pelan. “Saya itu tidak mempunyai alergi apapun selain ubi,” cetus Fairel singkat dan kembali menyalakan ponselnya yang tergeletak di atas meja, mengabaikan tatapan membunuh dari Parveen. Tatapan Parveen beralih pada pelayan yang sibuk mencacat di buku kecil sambil sesekali menatap dirinya. Dengan tampang santai, Parveen mulai menyebutkan dua mangkuk ramen serta sashimi yang akan ia gunakan sebagai pelengkap, sepertinya enak. Setelah selesai, Parveen pun mulai membereskan berkas-berkasnya dan ia taruh di kursi kosong sambil sesekali mengecek apakah data-data masih lengkap, jika tidak, habislah riwayat Parveen. Mungkin ia akan segera hengkang dari perusahaan besar itu. Tak lama kemudian, sebuah nampan besar datang. Tentu saja Parveen tersenyum senang kala menyambutnya. Berbeda dengan Fairel yang tampak biasa saja dan mulai memainkan sumpitnya sambil mengaduk-aduk ramen panas yang mengepul hingga membuat wajahnya memerah. Keringat mulai membanjiri dahi Fairel. Bahkan laki-laki itu membuka jasnya dan ia buang begitu saja di atas berkas yang telah Parveen susun. Parveen merogoh kantung bajunya, lalu menyerahkan sebuah tisu kusut di hadapan Fairel. Awalnya lelaki itu menolak saat melihat betapa buruknya bungkus tisur tersebut, tetapi dirinya pun tidak ada pilihan lain, selain meraih tisu tidak layak pakai untuk mengusap peluhnya. Melihat gengsi Fairel begitu besar, Parveen hanya menggeleng pelan. Lalu, kembali memakan ramen dengan sesekali mencomot sashimi. Gadis mungil itu memakan makanan siangnya dengan begitu nikmat. Bahkan ia lupa terakhir kali memakan di restoran seperti ini. Fairel pun memandaskan makanannya, dan mengusap kembali dahi mulusnya dengan tisu yang diberikan oleh Parveen. Mungkin kalau tadi Fairel tidak menerima tisu dari Parveen akan tenggelam dalam keringatnya sendiri. Sebab, baru kali ini ia memakan ramen sampai berpeluh-peluh membanjiri dahinya. Mata tajam Fairel mengarah pada Parveen yang masih sibuk memakan makanannya. Pipi gembil itu nampak mengembung lucu dengan bibir tipis yang berkerut menahan makanan ia kunyah. Dalam hatinya pun tergelak kala mendapati Parveen yang tersedak makanannya sendiri. Tatapan Fairel tak lepas dari wajah menggemaskan Parveen yang terlihat sedikit kelelahan akibat makanannya sendiri. “Udah?” tanya Fairel tersenyum tipis melihat kepuasan yang terpancarkan jelas dari wajah Parveen. Parveen mengangguk puas, lalu menepuk-nepuk pelan perutnya yang terasa sesak. “Baru kali ini saya makan sepuas ini, Pak.” “Oh ya?” Fairel mulai tertarik dengan obrolan ringan seperti ini dengan Parveen. Padahal biasanya ia hanya sekedar berbasa-basi, lalu kembali senyap. “Yup. Semenjak saya pindah ke sini, tidak pernah sekalipun saya berpikiran untuk makan di restoran lagi,” celoteh Parveen dengan wajah berbinar-binar. Fairel tertawa kecil. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi, sebab wajah Parveen begitu menggemaskan dengan binar-binar ceria. Dirinya mulai merasakan bahwa Parveen sepertinya bukanlah kalangan kekurangan apapun. “Memangnya kamu dari mana?” tanya Fairel penasaran. “Saya dari Indonesia, Pak. Emangnya Bapak tidak baca surat lamaran saya?” Kali ini Parveen tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Padahal tadinya ia mengira bahwa Fairel ini berasa dari negara yang sama dengan dirinya, sebab aksen dan wajah yang Fairel miliki adalah khas Asia. Fairel tersentak akibat perkataan Parveen. Bagaimana bisa ia tidak membaca seteliti itu hingga melewatkan hal-hal penting seperti ini. Dirinya bahkan terkejut bukan main saat mengetahui bahwa sekretaris barunya ini berasa dari negara yang sama. “Kamu dari Indonesia?” tanya Fairel dengan bahasa Indonesia cukup lancar. Benar dugaan Parveen bahwa Fairel adalah lelaki dari Indonesia. “Tuh kan dugaan saya benar kalau bos besar saya ini dari Indonesia,” serunya yang spontan menepuk meja karena gemas. “Percaya diri sekali,” sahut Fairel tersenyum mengejek. Bukannya marah Parveen justru tertawa geli sambil memukul-mukul meja pelan. “Tebakan saya itu tidak pernah meleset, Pak.” “Coba tebak apa yang dilakukan kedua pasangan itu?” tantang Fairel menaik-turunkan alis kanannya dan tersenyum devil. Sontak Parveen mengikuti arah pandangan Fairel yang mengarah pada pojok ruangan yang berisi sepasang kekasih. Awalnya Parveen merasa bahwa sepasang kekasih itu baik-baik saja. Memakan suap-suapan dan sesekali berpandangan. Sepertinya sudah lama ia tidak melihat adegan seperti itu lagi. Rasanya sangat menyenangkan mempunyai kekasih yang sangat mengerti kita. Apalagi sangat menyayangi kekasihnya sendiri. Tetapi, tatapan Parveen mengerut kala sang lelaki itu bolak-balik mematikan layar ponselnya. Kali ini ia berfokus pada sang laki-laki. Dari gerak-gerik yang dirinya lihat, lelaki itu nampak mencemaskan sesuatu hingga beberapa kali mengitari tatapannya pada sekeliling restoran. Dan benar saja dugaan Parveen. Tak sampai menunggu lama, pintu restoran terbuka lebar. Di sana tampaklah seorang wanita anggun menenteng sebuah tas kecil yang berwarna hitam. Surai kecokelatannya terurai panjang dan bergoyang seiring langkahnya mendekati meja pojok yang tengah Parveen intai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN