“Baiklah. Kita lanjut saja.” kata Mario pasrah, dia ingin segera menyudahi wawancara ini. Sudah pelit bicara, sombong pula, mau melamar jadi bos atau asisten coba?
“Ya,” jawab Ali.
“Jika diterima bekerja disini, apakah Anda keberatan dengan jam kerja yang berlebih? Tentu saja ada uang lembur, tapi Pak Jackson setiap hari bekerja minimal hingga jam tujuh malam,” tanya Mario.
“Saya tidak keberatan. Saya sudah terbiasa bekerja over selama menjadi asisten Pak Darius,”
“Jam berapa bisa Anda pulang dulu di kantor sebelumnya,”
“Paling cepat jam sembilan malam,” jawaban Ali kali ini membuat Mario langsung senang, sepertinya Ali memang tahan banting. Dia memang sudah mendengar rumor kalau menjadi asisten Darius Hartadi memang sangat berat.
“Berapa banyak bahasa yang Anda kuasai?”
“Empat. Indonesia, Inggris, Mandarin, dan Jepang.”
“Di lamaran Anda, Anda telah memiliki sertifikat dari Volle Guard untuk keahlian bela diri dan penggunaan senjata. Apakah Anda keberatan jika ada tes lanjutan untuk keahlian Anda yang ini?”
“Tidak masalah, Pak.”
“Yang terakhir, jika diterima di perusahaan kami, kontrak kerja kami yang pertama adalah enam bulan, jika tidak cocok dan Anda berhenti sebelum masa kontrak selesai, denda yang diberikan adalah enam bulan gaji. Apakah Anda bersedia?” tanya Mario.
“Saya bersedia.” jawab Ali pasti.
“Baik. Nanti kami akan menghubungi Anda lagi jika Anda berhasil melewati tes ini. Terima kasih,” tutup Mario. Dia merasa Ali benar-benar niat bekerja. Reaksi kandidat sebelum-sebelumnya pasti terkejut dan malah beberapa dari mereka menawar, karena memang dendanya sangat besar. Kali ini dia yang sengaja membuatnya seperti itu agar yang menggantikannya nanti, akan berusaha maksimal untuk membantu Jackson. Sahabatnya itu bukan orang yang sulit, hanya saja gila kerja.
“Sama-sama, Pak Mario. Saya permisi,” jawab Ali.
“Pak Alisandra,” panggil Mario sebelum Ali keluar dari ruangan itu.
“Ya,” jawab Ali, dia membalik tubuhnya karena mendengar Mario memanggilnya.
“Apa Anda ada memasukkan lamaran ke perusahaan lain?” Mario akhirnya menyuarakan rasa penasarannya.
“Tidak. Karena saya yakin perusahaan ini akan menerima saya,” jawab Ali dengan seringai sombongnya yang membuat Mario tersenyum.
“Saya suka dengan kepercayaan diri Anda,” kata Mario tersenyum. Kekesalannya di awal wawancara tadi menguap. Hanya orang yang benar-benar mampu, yang berani menunjukkan kesombongan seperti itu dan sepertinya Alisandra adalah salah satunya. Resumenya memang sempurna, hanya memang kepribadian pria ini agak unik. Kita lihat saja nanti, apakah pria itu bisa melewati rangkaian tes yang lainnya seperti keyakinan pria itu?
“Terima kasih. Saya menunggu kabar baik dari Anda. permisi.” jawab Ali yang juga tersenyum. Dia lebih mirip sedang bernegosiasi kontrak kerja daripada melamar pekerjaan.
“Menarik.” kata Mario dengan senyum yang masih tersungging setelah pintu itu tertutup. Dari empat belas pelamar, hanya Alisandra yang mampu membuatnya penasaran. Ada beberapa kandidat lain yang juga potensial, tapi Alisandra ini satu-satunya yang membuatnya ingin tahu bisa sejauh mana pria itu bisa berhasil.
Setelahnya, dia berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang HRD untuk menyerahkan beberapa berkas kandidat yang telah dia seleksi untuk maju ke tes selanjutnya, tentu saja ada nama Alisandra Purnama disana.
****
Dua hari kemudian, Ali kembali tiba di MM Corp dan duduk menunggu bersama dua kandidat lain untuk interview terakhir. Hanya tiga orang ini yang berhasil melewati tes IQ dan EQ, tes kesehatan dan tes keahlian beladiri.
Ali masuk ke dalam ruangan tempatnya perama kali di wawancara dan bertemu lagi dengan Mario Darlie.
“Selamat Siang, Pak Ali.” sapa Mario.
“Selamat siang, Pak Mario. Senang bertemu Anda lagi,” sapa Ali dengan seringainya, seakan memberitahu Mario kalau dia tahu dirinya pasti akan bisa sampai di tahap ini.
“Apakah ada yang pernah mengatakan kalau Anda memiliki kepribadian menarik?” tanya Mario sambil tertawa, kali ini dia sudah tidak tersinggung dengan cara Ali bersikap. Adakah orang yang dipanggil kembali untuk wawancara kedua dan menunjukkan seringai kemenangan seperti ini?
“Banyak. Terutama para wanita,” jawab Ali sambil tertawa dan hal itu membuat Mario tertawa semakin kencang. Alisandra ini benar-benar sesuatu. Biasanya orang lain akan merendah jika mendengar perkataannya, tapi pria ini malah membenarkannya.
“Baiklah. Sekarang saya akan membahas mengenai pekerjaan yang akan Anda lakukan jika diterima sebagai asisten Pak Jackson. Harap pastikan Anda memang bisa melakukan ini semua. Jika memang Anda keberatan dengan pekerjaan ini dan ritme kerja Pak Jackson, lebih baik Anda mundur sekarang.” kata Mario menjelaskan dan Ali mengangguk. Sekali lagi Mario tidak tersinggung, selain dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Ali, dia menaruh harapan pada pria itu.
Lalu Mario mulai memberitahu apa saja pekerjaan sebagai asisten Jackson Martinez, dimana disana termasuk mengurus keperluan pribadi sang CEO, jika diminta. Dari pemaparan itu jelas kalau si asisten di hari kerja kemungkinan besar tidak bisa memiliki waktu selain mengurus urusan pekerjaan dan si bos, dengan jam kerja yang sudah pasti hanya untuk bisa pulang dan tidur saja.
“Weekend bebas?” tanya Ali yang sekali lagi membuat Mario mengangkat sebelah alisnya. Dari tiga orang kandidat, hanya Ali seorang yang terlihat tidak keberatan dengan jam kerja rodi ala Jackson ini.
“Selama bos tidak ada pekerjaan, kau bebas,” jawab Mario.
“Cukup bagus.” kata Ali yang membuat Mario kali ini mengerutkan alisnya.
“Apakah di kantormu yang lama, weekend juga kerja?” tanya Mario.
“Kantor pusat Volle ada di London, dan jam kerja saya harus mencangkup dua negara ini. Ditambah karena Pak Darius terlalu bucin dengan istrinya, beberapa meeting seringnya dipindahkan ke Jakarta dan tentu saja pekerjaan saya bertambah banyak saat itu. Jadi jawabannya dari pertanyaan Anda adalah ‘ya’, weekendpun saya seringnya harus bekerja.” jawab Ali yang membuat Mario bersimpati.
“Apakah kau punya pacar?” tanya Mario yang bahkan lupa bersikap formal. Dari penjabaran Ali, rasanya tidak mungkin pria itu bisa memiliki kekasih selain pekerjaan.
“Banyak saat tidak terlalu sibuk. Kalau aku sedang sibuk, kubiarkan mereka mencari yang lain dulu,” jawab Ali sambil tertawa dan tawa itu menular, Mario juga ikut tertawa. Sepertinya Alisandra tipe orang yang menikmati apapun yang bisa dia dapatkan.
“Baiklah. Setelah ini Pak Jackson yang akan memutuskan siapa yang akan dipilih. Semoga kau beruntung,” kata Mario menyudahi pembicaraan mereka.
“Aku selalu beruntung,” jawab Ali dan sekali lagi Mario tertawa. Disaat kepusingannya karena pernikahannya yang hampir saja batal kemarinan dan kesibukannya membereskan laporan akhir tahun, Ali benar-benar menghiburnya.
Mario masih berada di dalam ruangan itu setelah Ali keluar. Dia memperhatikan ketiga map yang ada di atas mejanya. Tadi pagi Jackson memberikan kepercayaan padanya untuk memilih orang yang akan menggantikan posisinya, karena itu dia harus memastikan orang itu bisa membantu Jackson ke depannya.
“Jackson, ini ada tiga kandidat yang sudah aku sortir. Coba kau cek dulu, apakah ada yang kira-kira cocok untukmu?” kata Mario. Dia meletakkan tiga map berisi biodata calon asisten baru untuk Jackson.
“Kau pilih saja yang menurutmu cocok. Aku akan menerima manapun yang kau pilih.” jawab Jackson tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas di tangannya. Dia dan Mario sedang berusaha membereskan pekerjaan mereka sebanyak mungkin agar nanti asisten yang baru tidak menyusahkannya.
“Baiklah. Siang ini aku akan mewawancarai mereka. Kalau memang ada yang cocok, aku akan langsung menyuruhnya masuk besok agar aku bisa mengajarinya dulu. Semakin cepat semakin baik.”
“Baik. Lakukan sesuai perkataanmu.”
“Ok.”
****