“Aku tidak berselingkuh dengannya. Itu hanya pura-pura. Aku hanya membantu Jackson untuk membatalkan pertunangannya!” teriak Mario. Dia benar-benar berteriak agar suaranya bisa menyaingi teriakan makian Fenny yang tidak berhenti dari tadi. Dan sepertinya usahanya berhasil karena Fenny langsung menghentikan makian dan pukulannya.
“Berpura-pura?” tanya Fenny sambil mengadahkan kepalanya. Wajahnya sudah sangat mengenaskan dan terlihat sangat menderita. Mario mengutuk Jackson dan rencananya, serta kebodohannya sendiri yang menyetujui rencana sahabatnya, yang sekarang malah membuat wanita yang dicintainya begitu menderita.
“Iya. Ayah Jackson kembali menjodohkan Jackson dengan seorang wanita. Mereka bahkan belum saling mengenal. Minggu lalu setelah selesai rapat, Jackson mampir ke department storenya untuk inspeksi mendadak. Disana tanpa sengaja dia melihat wanita yang akan dijodohkan dengannya dan muncullah ide untuk membuat wanita itu menolak perjodohan mereka.” Mario menjelaskan perlahan agar Fenny mengerti semua perkataannya.
“Dengan berpura-pura menjadi pasangan gay?” sinis Fenny yang masih belum mempercayai perkataan Mario.
“Ya. Kebetulan saat itu calon tunangan Jackson masuk ke salah satu cafe yang sepi dan duduk di dekat pojok. Jackson memperhatikan kalau tidak ada cctv yang bisa menjangkau sudut itu dengan jelas. Jadi dia membuat rencana untuk duduk di kursi depan wanita itu dan bertingkah seakan kami adalah pasangan gay,” ringis Mario yang jijik sendiri karena harus menceritakan aibnya itu.
“Kau tidak membohongiku hanya untuk menyenangkanku?” tanya Fenny menyipitkan matanya curiga. Dia sangat berharap kalau apa yang dikatakan Mario adalah kebenaran, tapi dia harus memastikan hal itu terlebih dahulu.
“Tentu saja. Kau tahu aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Aku tidak pernah tertarik pada wanita lain,” jawab Mario pasti.
“Memang bukan wanita lain karena ini pria lain,” sinis Fenny.
“Apalagi itu,” jawab Mario yang langsung bergidik ngeri. Dia lurus, sangat sangat lurus. Dia mencintai wanita di pelukannya ini dengan sepenuh hati dan jiwanya.
“Mengapa Jackson selalu menolak perjodohan yang diatur ayahnya?” tanya Fenny. Reaksi langsung Mario membuatnya tenang, tapi dia tetap harus memastikan kalau yang dikatakan Mario bukanlah kebohongan.
“Aku juga tidak tahu. Kurasa karena dia belum bertemu dengan wanita yang sesuai kriterianya,” jawab Mario jujur.
“Seperti apa kriteria Jackson?”
“Mungkin seperti Sonya,”
“Dia belum move on dari Sonya?” Fenny mengerutkan alis. Mereka semua kenal dari SMA, jadi dia juga mengenal satu-satunya mantan tunangan Jackson itu.
“Bukan belum move on, tapi dia menyukai wanita mandiri yang pintar. Sedangkan wanita yang dijodohkan oleh ayahnya selama ini adalah wanita kaya manja yang taunya hanya belanja dan bergosip.” jawab Mario menjelaskan seperti perkataan Jackson padanya.
“Kau benar-benar tidak sedang membohongiku?” tanya Fenny lagi memastikan. Batu yang menghimpit dari dadanya sejak tadi siang sekarang sudah terangkat.
“Aku bersumpah atas nama Tuhan kalau apa yang kukatakan adalah kenyataan yang sebenarnya,” jawab Mario bersungguh-sungguh.
“Baiklah.” kata Fenny yang Mario merasa lega dan langsung memeluk tunangannya erat, namun kebahagiaannya ternyata hanya sebentar.
“Tapi aku mau pernikahan kita diundur,” kata Fenny lagi yang membuat jantung Mario kembali mencelos.
“Ke-kenapa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu?” tanya Mario yang kembali panik karena takut Fenny akan meninggalkannya.
“Aku tidak bilang dibatalkan, aku hanya minta dimundurkan,” jawab Fenny tegas. Dia sangat ingin mempercayai perkataan Mario, tapi dia bisa menutup mata. Dia harus bisa memastikan kalau Mario memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Jackson selain persahabatan.
Setelah dia yakin, dia baru bisa melanjutkan pernikahan ini. Perkataan dua wanita yang tadi siang datang ke butiknya benar-benar membuatnya takut. Bagaimana kalau ternyata Mario dan Jackson memang memiliki hubungan dan dia baru mengetahuinya saat mereka sudah memiliki anak? Bagaimana nasib anak-anaknya nanti?
“Ka-kau tidak percaya padaku?” tanya Mario kecewa.
“Aku membutuhkan waktu untuk memproses semua ini. Biarkan aku menenangkan diri dulu,” jawab Fenny. Melihat wajah merana Mario membuatnya tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Sebegitu besarnya dia mencintai pria di depannya ini, tapi dia juga tidak mau salah mengambil keputusan.
“Sampai kapan?” tanya Mario. Dia tidak bisa berhenti merutuki Jackson dan kebodohannya. Lihat sekarang apa yang harus dia tanggung sebagai akibatnya? Penantiannya untuk bisa memiliki Fenny seutuhnya sekarang terbang menjauh.
“Aku tidak tahu,” jawab Fenny jujur yang sekali lagi membuat Mario ketar-ketir.
Tok tok
Mario membukakan pintu itu dan rasanya dia ingin menghajar pria yang berdiri di depannya sekarang.
“Maafkan aku, Mario. Biarkan aku menjelaskannya pada Fenny,” kata Jackson. Dia tadi sudah mengangkat telepon dari Mario tadi dan mendengar sebagian pertengkaran sahabatnya dengan calon istri sahabatnya itu. Dia langsung mematikan ponselnya dan bergegas ke rumah sakit untuk menjelaskan kesalahpahaman ini pada Fenny. Dia tahu akan sulit bagi Fenny untuk menerima penjelasan jika hanya dari sisi Mario.
“Seharusnya aku tidak mengikuti keinginan bodohmu itu!” geram Mario.
“Masuklah, Jackson,” kata Fenny yang walau belum melihat Jackson dari ranjangnya tapi sudah mendengar suara pria itu.
“Fen, aku akan menjelaskan padamu. Mario tidak salah sama sekali, saat itu dia sudah menolak rencanaku, tapi aku yang memaksanya membantuku. Tidak ada hubungan apapun diantara kami selain persahabatan. Tolong jangan batalkan pernikahan kalian, Mario sangat mencintaimu.” Jackson menjelaskan pada Fenny.
“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mempercayai kalian,” jawab Fenny jujur yang membuat jantung kedua pria itu mencelos.
“Kumohon, percayalah padaku, tidak ada apapun diantara kami. Aku akan melakukan apapun agar hubungan kalian kembali menjadi baik.” pinta Jackson. Dia tahu Mario sangat mencintai Fenny, begitu juga sebaliknya. Dia akan merasa sangat bersalah jika hubungan sahabatnya itu hancur hanya karena ide spontannya.
“Benarkah?” tanya Fenny menatap lurus ke mata Jackson.
“Ya. Katakan apa yang harus kulakukan?” jawab Jackson pasti.
“Aku ingin kalian tidak bertemu lagi.” jawab Fenny yang membuat Jackson dan Mario pucat.
“Bukankah kau bilang akan melakukan apa yang kuinginkan? Hanya itu yang kuinginkan, aku tidak ingin melihat kalian bersama lagi, tepatnya hanya berdua. Harus ada aku saat kalian ingin bertemu.” kata Fenny menegaskan saat kedua pria di depannya tidak membalas perkataannya.
“Kau tahu itu tidak mungkin, Fen. Aku adalah asisten Jackson,” kata Mario.
“Kalau begitu, berhentilah jadi asistennya. Kau bisa bekerja di tempat lain.” jawab Fenny tidak peduli.
“Aku akan kesulitan jika Mario tidak ada,” jawab Jackson jujur. Selama ini Mario telah banyak membantunya. Pria itu mengerti ritme kerjanya dan memiliki inisiatif yang baik untuk membantunya membereskan pekerjaan.
“Kau bisa melatih asisten yang baru. Bukankah tadi kau bertanya apa yang bisa kau lakukan? Hanya itu yang kuinginkan,” kata Fenny.
“Fen,” Mario masih berusaha membujuk tunangannya. Dia tahu Jackson akan setengah mati jika dia tiba-tiba berhenti sekarang juga.
“Kalian sudah digosipkan dimana-mana, berita itu bahkan bisa sampai di telingaku. Apakah kalian tidak bisa berpikir? Kalaupun kalian memang tidak memiliki hubungan apapun, tapi semua orang sudah beranggapan seperti itu. Bagaimana jika kenalanku berpikir seperti itu juga dan menertawakanku di belakang? Menganggap kalau aku hanyalah topeng Mario untuk menutupi hubungan terlarang kalian?” kata Fenny menekan kedua pria di depannya.
“Aku mengerti. Ini adalah kesalahanku dan aku membuat kalian ikut menanggungnya. Aku minta maaf. Aku akan memberikan surat rekomendasi untuk Mario dan aku akan mencari asisten baru.” kata Jackson. Dia benar-benar tidak menyangka kalau jadinya akan seperti ini. Dia tidak bisa membiarkan dirinya menghancurkan kebahagiaan Mario dan Fenny.
“Mario, kau besok tidak perlu ke kantor lagi.” kata Jackson pada Mario.
“Tapi sekarang akhir tahun. Banyak laporan yang masih harus segera diselesaikan.” kata Mario serba salah. Dia tidak mau kehilangan Fenny, tapi dia tidak tega membiarkan Jackson mengerjakan semua itu sendiri. Pria itu mungkin tidak akan tidur berminggu-minggu jika harus mengerjakan semuanya sendiri.
“Sayang, bisakah aku membantu Jackson setidaknya sampai akhir bulan ini. Kau tahu bulan Desember harus tutup buku dan semua laporan harus selesai.” pinta Mario pada Fenny.
“Satu minggu. Hanya itu batas waktu yang bisa aku berikan. Kau bisa mencari penggantimu dan mengalihkan semua tugasmu pada asisten yang baru. Jangan temui aku lagi jika kau tidak bisa melakukannya.” kata Fenny tegas. Dia tahu MM Corp perusahaan besar dan akan sangat tidak bertanggung jawab sekali jika Mario meninggalkan pekerjaan begitu saja. Tapi dia juga tidak mau mengambil resiko apapun, jadi dia hanya bisa mentolerir waktu satu minggu saja.
****