-°| Aldan

1779 Kata
Setelah jambul sudah cetar. Sepatu sudah terpasang dan jaket sudah melekat. Aldan segera bergegas keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuju ruang makan. Namun, setibanya di ujung tangga, Aldan menghentikan langkahnya. Ia menajamkan penglihatan juga mengerutkan pangkal hidungnya saat melihat sosok wanita dengan rambut yang sudah dicepol rapi sedang berdiri di ruang makan rumah. Di lihat dari belakang sangat mirip dengan mamanya, tapi ' kenapa mama di dapur,  bukannya mama di Amrik ya?' [Lah?] ' Kapan pulangnya? 'Pikirkan Aldan. Keheranan Aldan terjawab sudah setelah wanita yang ditatapnya mulai membalikkan dan menyapa memberi ucapan, "Pagi, sayang," "Pagi, Ma." jawab Aldan yang langsung melangkahkan menuju tempat Reina yang sedang mengaduk s**u putih dalam gelas. Setibanya Aldan di depan Reina, Aldan langsung mengecup kening Reina dan bertanya, "Kok udah di rumah aja, kapan pulangnya?" "Tadi jam 04.00 WIB," jawab Reina. "Kok nggak bilang, Aldan?" "Emangnya kalau mama bilang ke kamu, kamu mau jemput mama gitu?" goda Reina. "Ya pasti lah, Ma. Pasti Aldan jemput," jawab Aldan mantap. "Yakin? Jam empat pagi loh bukan jam empat sore," "Yakin nggak yakin sih ma, tapi kan setidaknya ngabarin dulu gitu," "Yaudah sih, kan yang penting udah di rumah," kata Reina yang di sertai senyuman manis. "Iyasih," jawab Aldan seadanya. Reina terkekeh kecil, dan kemudian bertanya, "Mau sarapan apa?" Aldan melirik meja makan sekilas, lihat apa saja yang tersedia di sana. Ada nasi goreng, mi goreng, telor mata sapi, roti bakar dan balado kesukaannya. ' Balado, enak kayaknya. 'Pikirkan Aldan. Eh em. Tapi kalo makan balado nanti ketagihan lagi terus nambah-nambah mulu, terus kekenyangan habis itu enaknya tidur. Em ... "Nasi goreng aja deh, ma," jawab Aldan yang kemudian memfokuskan pada ponselnya. Reina mengangguk dan segera menerima piring yang ada di sebelah kirinya. "Aldan nelpon Keira bentar ya, ma," kata Aldan yang kemudian berlalu dari ruang makan. 06:00 WIB Jam weker berwarna biru muda berbunyi nyaring, mengganggu gadis cantik yang sedang tertidur nyenyak.  Gadis itu merasa terusik. Dan dengan mata yang tertutup tangannya bergerak ke sisi kanan kasur, meraba-raba permukaannya untuk mencari jam wekernya yang masih setia mengeluarkan suara nyaringnya. Setelah dapat, langsung dia lempar ke sembarang Arah. Tanpa minat untuk bangun, akhirnya gadis cantik yang bernama Keira Maurren kembali tidur dengan nyenyaknnya. [Ah] Wajahnya terlihat semakin cantik dan natural saat sedang tidur seperti ini.  . . . tut. . .tut. . . . tut " The num ..." Aldan mendengus kesal saat mengetahui panggilannya tidak diangkat-angkat oleh Keira. 2x pangilan tidak di jawab. 3x tetap sama. "Kamu dimana sih, Kei? Bikin aku khawatir aja," gumam Aldan gusar. [ KEIRA ] drrrttt. . . . drrttt. . . . drtttt. . . . . "Ck .. duhh berisik! Siapa sih pagi-pagi ganguin orang tidur aja." Keira bergumam kesal dan meraba-raba kasur demi mencari celah ponselnya. Setelah dapat, Keira mengecek siapa yang mau tidur unyunya pagi ini. "Huh! Aldan lagi." Keira mendengus perlahan sambil memutar bola malas. Keira memencet tombol hijau bergambar telepone yang berada disisi kanan ponselnya. " Hm," gumam Keira . . . . . . . "Baru bangun," jawab Keira dengan ogah-ogahan ... . . . "Asdhfffadhgjch." Keira mengerakkan bibir.nya tanpa suara . . . . . . . "Iya." jawab Keira malas. . . . . . . . . "Nggak usah!" jawab Keira cepat. . . . . . . . " Ck! Soudzon banget sih lo! Gue nggak mau lo jemput karena gue mau ngembaliin mobilnya kak Gaga yang gue bawa kemaren!" . . . . . . . "Iya-iya," . ... . . "Ngomelnya udah belum? Kalo udah gue mau mandi !" Keira semoga berhasil dengan tarikan nafas dan tanpa menunggu jawaban dari Aldan, Keira langsung tutup teleponnya dengan sepihak. "Bodoamat sama Aldan si kunmamer, gue capek mau bobok cantik di rumah aja." dumel Keira melanjutkan tidurnya. [ ALDAN ] . tut. . . tut Seorang ldan menghembuskan nafasnya lega " akhirnya ." lirih gumamnya. " Halo Kei !" ucap Aldan " Hm ," "Kenapa telepon aku gak kamu angkat-angkat sih? Kamu kemana aja sih?" Tanya Aldan dengan sekali tarikan napas . "Baru bangun ," "Ini udah jam 6:20 dan kamu baru bangun? Kamu tau kan kalo hari ini senin, dan gerbang sekolah bakal tutup jam 6.45?" ucap Aldan dengan nada yang sedikit tinggi. " Iya, " "Sekarang kamu buruan mandi siap-siap. Aku pulang!" "Nggak usah. " "Loh! Kok nggah usah? Kenapa? Kamu mau di jemput cowok lain?" selidik Aldan. "Ck! Soudzon banget sih lo! Gue nggak mau lo jemput karena gue mau ngembaliin mobilnya kak Gaga yang gue bawa kemaren!" "Oke. Tapi awas aja kalau hari ini kamu sampai bolos sekolah, aku yang mau ngasih hukuman buat kamu!" " Iya-iya," "Buruan mandi, mandinya jangan lama-lama, bawa mobilnya juga jangan kebut-kebutan!" perintah Aldan . "Ngomelnya udah belum? Kalo udah gue mau mandi !" "... ... tut tut" Aldan berdecak kesal saat Keira mematikan telepon Aldan oleh sepihak. Tapi, Yasudahlah ! Alihkan ponselnya ke saku celananya, dan melewati menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan Aldan langsung memposisikan dirinya di salah satu kursi yang sudah di siapkan Reina. "Habis telponan sama tunangan kok mukanya malah di tekuk gitu sih sayang, kenapa?" tanya Reina. "Nggak apa-apa kok ma," jawab Aldan seadanya. Reina tersenyum tipis. "Sabar ya sayang. Percaya deh sama mama, hasil itu nggak akan menghianati proses," kata Reina seolah-olah Reina paham kata arti 'nggak apa-apa' yang terucap dari mulut anak hanya wayangnya itu. Aldan mengangguk mengucapkan dua kali dan berkata, "Iya, ma." "Yaudah, sekarang mending kamu makan dulu gih! Habis itu minum susunya terus berangkat," Aldan menganggukkan kembali lagi. Dan sedetik kemudian Aldan mulai menyupkan nasi goreng ke mulutnya. "Ma, bekalin nasi goreng sama telur buat Keira dong," celetuk Aldan di sela-sela kegiatan mengunyahnya. "Iya sayang," jawab Reina seraya mengambil kotak nasi berwarna biru muda. "Nasi goreng sama telur aja? Nggak mau mi goreng atau balado gitu?" Aldan menggelengkan boleh dan berkata, "Keira nggak boleh makan pedes ma," Reina menganggukkan biarkan paham. . "Aldan udah selesai. Bekalnya mana ma?" "Nih, terima kasih kepada calon mantu kesayangan mama ya," kata Reina sembari menyodorkan kotak bekal kepada Aldan. Aldan bangkit dari duduknya dan menghampiri mamanya. Meraih kotak bekalnya dan kemudian mengecup pipi mamanya sekilas. "Aldan pergi dulu, Ma." pamit Aldan. "Hati-hati sayang." jawab Reina disetujui senyuman manis. Aldan hanya mengangguk dan pergi keluar rumah menuju garasi, mengambil motor trail warna hijau kesayangannya dan mengendarai motor trailnya dengan kecepatan diatas rata-rata. "Tumben tu anak nggak bareng Keira?" tanya Vino saat melihat Aldan memarkirkan motornya. Gaga langsung memutar kembali 180 °. "Iya, ya. Tumben," . Aldan melepas helm full face- nya. Menaruhnya di jok depan dan kemudian melangkahkan tampak menuju kumpulan 3 gambar yang berada di pojok kantin. "Tumben sendirian?" tanya Vino to the point. "Keira nggak mau di jemput," jawab Aldan seadanya. "Tumben nggak lo terpaksa?" Tanya Vino. "Nggak. Tadi bilang, dia mau sekalian ngembaliin mobil Gaga," jawab Aldan yang kemudian fokus dengan game Mobile legend yang ada ponselnya. Vino menganggukan setuju paham. "Lah? Kok mobil lo ada di adek gue sih, Ga?" celetuk Darren. Aldan mundur game- nya dan mendongakkan kepala menatap Gaga curiga. Tadi pikir, Darren yang minjem mobil Gaga tapi ternyata, " Duh! Mampus!" batin Gaga . "Heh? Di tanya malah nglamun!" sentak Darren. Gaga menggaruk tengkuknya. "Em itu. Kemaren gue tukeran kendaraan sama adek lo," jawab Gaga sedikit gugup. "Maksudnya?" "Ya adek lo pakek mobil gue dan gue pakek motor adek lo," "Kenapa bisa tukeran?" tanya Aldan dengan nada dingin. " Jangan gugup, Ga!" batin Gaga. "Lo kan tau sendiri kalau kemaren hujan," jawab Gaga ambigu. "Terus naik hujan sama tukeran kendaraan apa?" tanya Vino bingung. "Lo kok begok sih!" sinis Gaga. "Jadi kemaren kan Keira latihan ceria, terus gue pindah lagi ke sekolah nganterin flashdisk ke Pak Galih. Terus pas mau pulang tiba-tiba hujan. Dan pas gue liat Keira lagi bawa motor, jadi gue pakai aja ngajak tukeran kendaraan, biar dia nggak kehujanan terus sakit, "jelas Gaga. Aldan menatap Gaga dengan tatapan tajam. "Dih! Santai kali, Al!" Aldan bangkit dari duduknya dan pindah meninggalkan teman-ikut tanpa sepatah kata. . "Tu anak kok nggak jelas banget sih, niat gue kan baik," kata Gaga. "Setiap orang punya tantangan yang berbeda-beda. Tapi, bagaimana kalau orang lain ngartiinnya modus, lo bisa apa?" sahut Darren sambil memainkan ponselnya. "Gue tahu, tapi menurut gue, dia itu teralu posesif sama Keira," ungkap Gaga. "Namanya juga cinta level mami dugong Ga, ya posesive lah," sahut Vino santai. Pletak "Aduh, sakit b**o!" ringis Vino seraya mengusap kening bekas jitakan Gaga. "Lo g****k sih, emang ada apa istilah cinta level mami dugong !?" sungut Gaga. Vino hanya menyebikan bibirnya dan menaikan kedua bahunya. Darren melirik kedua sahabatnya dengan lirikan heran. "Lo sendirian gabisa akur apa kamu? Nggak lagi genting nggak lagi serius, kerjaan cuma berantem mulu, capek gue ngeliatnya." katakanlah Darren yang menghentikan permainan. "Dia yang mulai duluan!" teriak Vino dan Gaga bersamaan. "Apaan sih lo, ikut-ikutan aja!" ketus Gaga. "Hadeh, mulai lagi." dengus Darren. "Lo tuh yang ikut-ikutan!" sungut Vino tak terima "Lo!" "Lo!" "Dibilangin lo ya lo, jangan ngeyel!" "Lo itu yang ngeyel!" "Lo!" "Lo!" "Terserah lo! Ck dasar biji kambing," "Lo biji kebo," "Lo tali pocong," "Lo daster kunti," "Lo daster mak gue," "Lo daster sunderlong," "Lo daster dugong," "Berantem aja terus sampe Selmez nyanyi marawis pakek daster Mbok Nem." sindir Darren berdiri dan melangkah pergi. “Si Selmez nyanyi marawis? Kapan? Gue mau dong beli tiketnya,” ujar Vino histeris seraya loncat-loncat gajelas. "Dasar si g****k!" ucap Gaga seraya lengang lengan Vino dan lompat. "Sakit b**o! Eh eh udah dipukul di tinggal lagi. Bude Pakde terima kasih makan adek Budeeee .. huaaa ..." teriak Vino nggak jelas. Aldan berjalan menuju kelas XI IPA III yang berada di ujung koridor, 4 ruang setelah kelas aldan. "Keira mana?" tanya Aldan tanpa basa-basi saat tiba di kelas XI IPA III, kelas Keira. Semua siswa-siswi yang ada di dalam kelas-kelas yang mundur dari kegiatannya dan yang dipindahkan yang melihat kearah Aldan yang berada di ambang pintu kelasnya. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Aldan. Entah takut sama Aldan yang notabenya sebagai pentolan sekolah itu, atau sebaliknya diam karena memang tidak tahu. Aldan berdecak saat tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian Aldan melihat seorang siswi dengan perawakan agak berisi duduk sendiri dibangku no 3 dari depan. "Ver, Keira mana?" tanya Aldan pada siswi bernama Vera yang notabenya adalah sahabat Keira. Vera yang tadinya fokus pada bukunya, mendongakkanlah, lihat siapa yang bertanya. "Belum dateng." Vera singkat. "Ck, yaudah." Aldan berdecak dan berpindah dari kelas Keira menuju kelasnya. "Hm." Vera hanya berdehem. Sesaat kemudian Vera menutup bukunya dan beralih mengambil ponselnya yang di taruh di dalam tas, mencoba menghubungi Keira yang belum dateng kesekolah. Khawatir ya? Pasti Vera Talita : lo dimana Kei? Kok belum dateng? Barusan Aldan ke kelas nyariin lo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN