“Selama disekap gue berusaha buat gak tidur makanya lemes banget,” ungkap Wira.
Kepala dengan tampang-tampang penasaran itu terus menyimak cerita cerita yang bergulir dari bibir Wirayudha. Begitu sampai di pondok, Wira meraup banyak banyak air putih dan sari buah. Melahap dengan rakus makanan makanan yang Mara masak sebelum bertempur. Seketika napasnya tercekat mengingat Mara dan Zuka masih ada di Istana Raja melawan Empusa.
“Sudah jangan ngelamun lagi, lo sudah aman di sini,” ucap Alana seraya mengusap punggung tangan Wira.
“Gue gak ngelamun, gue Cuma ingat Mara sama Zuka, mereka masih terjebak bersama Empusa. Gue jadi merasa bersalah, karena nolongin gue mereka jadi korban.”
“Mereka bukan dikorbankan,” sambar Nitisara. “Penghormatan tertinggi bagi Prajurit yang rela mati demi menyelamatkan negeri. Istirahatlah.”
Nitisara meninggalkan pondok itu.
“Terus-terus kalo lo gak tidur, ngapain aja di dalam?” tanya Andraga, diam-diam lelaki itu penasaran. Wira merapatkan punggungnya tepat pada sandaran kursi, diraihnya potongan buah sedagr dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Hari pertama gue dirayu,” ujar Wira, dia menatap Chandra yang kini salah tingkah. Tubuhnya berdesir dan bulu kuduknya meremang mengingat kejadian sama yang dia lalui di tempat itu.
Tatapan Alvian, Andraga dan juga Alana mengikuti arah pandang Wirayudha.
“Apa yang lo sembunyiin, Ichan?” tanya Andraga. Dalam kondisi biasa biasa saja Chandra akan marah jika ada yang memanggilnya Ichan. Sayangnya Chandra sedang grogi, Chandra sedang tidak ingin rahasianya terbongkar, sayangnya Wira sengaja membukanya.
“Ah, siaaaal. Okay bener gue pernah dirayu sama Empusa sampai mau dihisap darahnya sampai habis, untungnya gue kabur. Lo sendiri gimana?” tanya Chandra.
Lelaki itu terkekeh pelan melihat ekspresi kebingungan dari Andraga dan saudaranya.
“Lihat ini,” tunjuk Wira, pergelangan tangannya yang penuh dengan luka. Seperti bekas gigitan nyamuk yang meradang.
“Ini ketika gue gak tahu kalau empusa itu bener-bener ngincar kita pas lagi tidur, pertama gue dirayu, tapi gak sampe tuntas gue udah berontak. Gue gelut beneran sampe dibanting, rasanya sesek udah kek mau mati aja. Tapi dari situ gue tahu, empusa itu hanya memperdaya korbannya sampai tidak sadarkan diri dan barulah menghisap darah. Tidak sadarkan diri bukan berarti mati, karena saat gue dibanting ampe gak sadar Empusa juga yang nolong gue.”
“Bentar, bentar ini gue beneran loading aslinya, merayu ini sebenernya merayu bagaimana, sih?” selidik Andraga.
“Berapa umur lo?” tanya Chandra sinis.
“Dua puluh,” jawabnya.
“Harusnya lo udah paham, Ga. Atau lo pura-pura b**o?”
“Sudah-sudah, Empusa itu adalah monster yang pakai cara kotor buat ngalahin lawannya. Tau aja kalau laki-laki bakalan takluk sama rayuan perempuan, apalagi sampai disentuh-sentuh. Si Chandra tuh pernah sampai dia beneran lupa sama dunia. Untung aja gak mampus!”
Obrolan The Rescue itu cukup menarik, ledekan dan olokan menyertai. Sudah lama sejak pertama kali sampai di sini akhirnya kelima orang itu bisa berkumpul dan bercengkrama seperti saat ini.
“Lo kenapa bisa selamat?” tanya Alvian.
“Karena gue ingat cerita dia,” tunjuk Wira kepada Chandra. “Gue keburu sadar kalau gue tidur gue pasti mati. Untungnya gue pingsan dan itu tetep aja bikin luka luka ini.”
Tangannya yang pucat seperti polkadot, dihiasi bentol bentol merah, dengan luka yang hapir mengering.
“Dia minum darah gue seikit demi sedikit pas gue tidur, atau setengah sadar. Makanya gue sama sekali gak berani tidur.”
Alana mengumpulkan piring kotor bekas makan Wira, lalu mengajak semuanya untuk meninggalkan laki laki itu untuk tidur.
“Ingat masih ada pertempuran melawan Empusa besok. Lo pada keluar dulu, biarin Wira tidur dulu.”
“Adik ipar gue perhatian banget, deh!”
Chandra mencebik mendengar kata Adik ipar dari Wira. Mati matian menyembunyikan hubungannya dengan Alana akhirnya terbongkar juga karena keceplosan.
Sisa hari itu dihabiskan Wira untuk membayar utang pada tubuhnya yang berhari hari tidak makan tidak minum dan tidak istirahat dengan benar.
Sementara itu Alvian dan yang lainnya menemui Tarbuya dan Nitisara yang kembali dibuat pusing dengan kegagalan mereka.
***
Malam gelap yang mencekam. Empusa menghabisi seluruh prajurit yang menyusup ke tempatnya. Kobaran api yang berasal dari murkanya monster itu berpijar selayaknya api yang mengamuk membakar gedung.
Tidak ada lagi pasukan yang menjaga kota dari serangan prajurit, semua habis tak bersisa. Menyisakan Empusa dan beberapa cerberus yang berjaga di sekitar istana Raja.
Makhluk itu bertambah kuat setelah mendapatkan serangan dari prajurit dan juga The Rescue. Sayangnya kekuatannya mendorongnya untuk terus mencari pemuda dan memangsanya.
Diantarkan embusan angin yang yang cukup kecang Empusa terbang mengitari penjuru kota, mencari siapa saja yang bisa dia jadikan mangsa agar tetap hidup dan kuat. Yang dia lihat hanya tubuh-tubuh ahool yang berserak.
Empusa lantas berbalik arah menuju selatan tempat di mana camp pengungsi berada. Kemampuannya untuk berubah wujud menjadi wanita cantik membuat setiap prajurit yang berjaga di pintu masuk camp pengungsi terpana karenanya.
Empusa terus berjalan ke arah sungai. Rambutnya yang berkibar kebiruan tergerai dan berkibar indah. Empusa berjalan selayaknya perempuan cantik yang tengah memikat lelakinya. Dia melirik melihat salah satu prajurit lalu mengedipkan mata.
Prajurit prajurit itu terhipnotis, mereka berjalan menanggalkan senjataa yang melekat pada tubuhnya. Berjalan di atas rumput memegang hasrat tanpa menyadari mereka menuju gerbang kematian masing-masing.
Satu prajurit mendekat laksana binatang ternak yang mengikuti gembalanya. Lantas dia berhadapan dengan sosok empusa yang menawan dan memesona. Tubuh prajurit itu melengkung bersamaan dengan sentuhan empusa dalam dirinya. Lantas angin seakan memberikan irama pengiring tarian indah di tepi sungai. Hingga sang prajurit mengecap apa itu nikmat dunia dan terlelap karenanya.
Tidak hanya satu, tetapi tiga prajurit lainnya pun begitu. Mereka berlomba mendapatkan dan mengecap itu. Berlomba mencapai puncak gairah dengan melepaskan tali kekangnya.
Gerbang kematian sudah terbuka. Dengan rakus empusa menghabisi mereka satu per satu menghabiskan darah hingga tetes terakhir dan menggerogoti dagingnya seperti seekor harimau yang memangsa kijang yang lemah.
Empusa kembali mendapatkan kekuatannya. Angin yang berembus kencang pun akhirnya berhenti seiring dengan kembalinya sosok itu ke istana raja.
Kemunculan empusa dekat camp pengungsi di rasakan oleh setiap penduduk termasuk Bolo. Ketua suku itu lantas membawa beberapa penduduk pria untuk memeriksa. Semua aman, tidak ada satu orang pun yang hilang.
Bahkan binatang ternah pun juga aman. Setidaknya mereka lega karena empusa tidak masuk ke camp pengungsi.
Tentu saja karena Nitisara menempatkan beberapa prajurit yang berjaga di perbatasan gerbang masuk antara perkotaan dan juga camp pengungsi.
Bolo lega, tetapi begitu melihat lokasi di mana seharusnya prajurit itu berjaga, Bolo lekas lekas menghampiri tempat itu. Prajurit menghilang. Menyisakan alas kaki dan juga pedang dan busur panah di sana.
Kelegaan yang dia rasakan beberapa saat yang lalu kini menghilang berganti menjadi perasaan cemas dan rasa takut yang tidak bisa diungkapkan.
Terlebih ketika mereka menyusuri tepian sungai. Tubuh-tubuh prajurit yang terkoyang membuat penduduk yang berjalan bersama bolo berlariasn menuju camp masing-masing. Berlindung dari Empusa yang semakin ganas dan berbahaya.