Tiara menggigit bibirnya, masih menatap Abimana dengan d**a yang naik-turun tak beraturan. Wajahnya merah padam, tapi sorot matanya tak lagi bisa bersembunyi. Tangannya gemetar saat menyentuh d**a pria itu, seolah tubuhnya mendesak untuk menuntut sesuatu yang selama ini hanya ada dalam batas hasrat. "Aku benci saat wanita itu memanggil kamu dengan nama itu," ucapnya pelan, tetapi jelas. "Aku jijik dengarnya. Seolah dia yang paling mengenal kamu." Mata Abimana menyala. Tatapannya tajam, namun penuh permainan. Bibirnya menyungging senyum setipis silet. “Kamu benci karena dia menyebutnya seakan aku miliknya?” Tiara mendekat. Napasnya menyentuh wajah Abimana. “Karena kamu bukan milik dia.” Ia menatap bibir pria itu lalu turun ke leher, lalu d**a. "Kamu..." suaranya lirih, "kamu milikku."

