Abimana melepaskan ciuman sejenak, namun wajahnya tetap menempel erat pada kening Tiara, napas hangat mereka beradu. βAku jauh lebih mencintai kamu, Tiara,β jawabnya dengan suara serak, berat, penuh janji. Ia memejamkan mata, seolah sedang menyerap setiap inci keberadaan istrinya. Tiara mengangkat tangan, mengusap rahang tegas Abimana yang sedikit kasar. Ia tahu, suaminya tidak akan pernah memaksanya, selalu menjaganya. Justru kehati-hatian itu yang membuat Tiara semakin menginginkannya. βJangan berhenti, Mas. Aku baik-baik saja,β bisik Tiara, mendorong sedikit tubuh Abimana, meminta sentuhan lebih. Abimana mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, menahan gelombang gairah yang bergemuruh di dadanya. Senyum miring muncul di wajahnya, senyum yang selalu membuat Tiara meleleh. βKamu y

