Abimana mencondongkan tubuhnya, menatap Tiara dengan mata yang gelap oleh hasrat. "Menggairahkan sekali," bisik Abimana. "Istriku pandai sekali menggoda suaminya. Apa tadi, istri yang baik? Bukan istri yang nakal?" Tiara membalas tatapan itu, senyumnya kini tak lagi dipaksakan, melainkan murni karena gairah yang sudah terlanjur tersulut. "Aku bisa jadi apa pun yang kamu mau, Mas. Malam ini, aku ingin menjadi milikmu, dan segalanya untuk kamu. Masuki aku, Mas!" Abimana tidak perlu diperintah dua kali. Dia melayangkan tubuhnya, mencium Tiara dengan ciuman yang mendominasi, merampas semua napas Tiara. Ciuman itu kasar, menuntut, sarat akan kerinduan yang ditahan seharian, ditambah ketegangan emosi yang belum usai. Tiara membalasnya sama intensnya. Ia mencengkeram kemeja Abimana yang

