“Gagal bagaimana?” balas seorang pria dari seberang ponsel. Suaranya terdengar agak panik dan kesal. “Aku sudah berhasil membuat istrinya pergi. Tapi sekarang, Adam juga pergi. Aku seorang diri di hutan ini. Sekarang juga, cepat kirimkan jemputan untukku!” terang Ruby sembari menyeret koper dan mantelnya kembali ke pondok. Alih-alih marah, Edward malah tertawa. Kegeliannya membuat darah Ruby semakin mendidih. “Jangan menertawakan aku! Sudah kukatakan kalau rencana ini tidak akan berhasil. Adam sudah tidak mencintaiku lagi. Sia-sia aku merendahkan diriku sendiri kalau hasilnya seperti ini.” “Jangan merasa rendah! Bukankah dulu kau sudah sering memperlihatkan tubuhmu kepadanya? Interaksi kalian dulu justru jauh lebih intim daripada rayuanmu semalam,” celetuk Edward, sukses membuat Ruby

