"Papa?" desah Amber, tersedak oleh kengerian. Sebelum Tuan Lim bergerak, secepat mungkin ia merapatkan pintu lalu memutar kunci. "Amber, apa yang kau lakukan?" tanya sang ibu dengan nada heran. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan Papa menyakiti Adam lagi!" seru sang putri dengan napas terengah-engah. Tangannya terentang memagari pintu, berjaga-jaga jika ada yang mendobrak masuk. Memahami ketakutan sang kekasih, Adam pun mengelus kepalanya lembut. "Tenang, Precious. Ayahmu pasti datang untuk menjemput ibumu, bukan mengajak ribut. Sekarang biarkan ibumu keluar." "Dan mengizinkan mereka masuk lalu menghajarmu hingga pingsan? Tidak!" Tiba-tiba, pintu diketuk lagi dari luar. Sedetik kemudian, suara Tuan Lim merambat melalui celah partikelnya. "Inikah caramu menghormati orang tuamu?" "Aku

