Sepulang dari menguntit kediaman Fani dan Tiyan, Munos tak bisa memejamkan mata, pikirannya melayang, mengingat kembali wajah manis Fani yang berbalut hijab, tubuh mantan istrinya itu terlihat lebih berisi dan lebih segar.
"Ah, kenapa gue jadi kepikiran Fani terus, ck, seandainya waktu bisa diulang, gue pasti udah punya anak kembar yang lucu-lucu, dan bundanya yang semok begitu, Ya...nasib, apa bisa dia jadi milik gue lagi?"
"Waduh, baru begini doang ponakan gue udah puyeng, lhaa...lhaaa..." Mata Munos terbelalak, menatap ke arah pukul enam, sudah hampir setahun ponakannya tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tapi baru kepikiran wajah Fani aja, ponakan langsung tersadar dari mati surinya.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya," ucap Munos penuh sukur diikuti dengan senyum gembira.
"Baiklah, besok gue uji coba," gumam Munos dengan senyum mesumnya.
Dua hari berlalu, Munos belum sempat melakukan test drive untuk ponakannya. Pembangunan kos-kosan membuat waktunya banyak tersita. Tiyan juga bekerja dengan cukup giat, tak pernah terlihat lelah, atau pun mengeluh, senyumnya selalu melebar disela-sela kegiatannya membantu membangun kos-kosan milik keluarga Munos. Pantas saja Fani luluh kepada Tiyan, karena memang orangnya pekerja keras dan sangat menyenangkan.
Siang ini Fani memasak urap sayur dan sambel goreng kentang hati sapi. Senyumnya merekah, dia akan mengantar makan siang untuk suaminya.
Fani mengetik pesan singkat.
"Sayaang, Ade rindu. Ade mau anter makan siang ya."
Sepuluh menit berlalu, belum ada balasan, namun Fani sudah menyiapkan semuanya. Dia sangat maklum, jika suaminya tak bisa sering-sering berbalas pesan dengannya.
Suamiku sayang.
[Maaf De, Mas baru balas pesannya, Mas baru aja selesai ngecor, manja banget sih istri Mas, hehehe tentu boleh sayang, kalau Ade ga kerepotan.]
Fani membaca balasan pesan suaminya dengan senyum penuh arti.
[Iya sayang, ga papa, sekarang Ade otewe ya Mas, naik ojol]
Suamiku sayang
[Iya De, hati-hati di jalan,mmuucchh]
Munos memperhatikan dengan tidak suka Tiyan dari kejauhan yang tampak senyam-senyum sendiri, menatap layar ponselnya. "Itu pasti Fani, apa sih yang ditulisnya sampe senyum-senyum begitu?" bisik Munos dalam hati.
Dengan langkah begitu ringan dan senyum merekah, Fani berjalan ke luar rumah, untuk menunggu ojol yang telah ia pesan. Sudah dua hari ini perasaannya sangat gembira, entah karena apa dia pun tahu, pokoknya Fani merasa tak bisa berjauhan lama dengan Sang suami. "Ahh...ternyata jatuh cinta itu seperti ini, bahagia terus,"gumamnya dalam hati sambil menikmati pemandangan jalan raya menuju lokasi proyek tempat suaminya bekerja.
Setengah jam berlalu akhirnya Fani sampai di tujuan. Fani berjalan memasuki area proyek sambil memperhatikan sekeliling dengan membawa rantang makan siang untuk suaminya, dan Pakde Warmo. Iya, hari ini Fani memasak lebih, sengaja juga mau menjamu pade suaminya itu. Namun, Fani tak melihat suaminya.
"Mas, numpang tanya, Mas Sep..." belum lagi selesai bertanya, sang lelaki menatap Fani dengan senyuman.
"Wah, bojo ne Tiyan ki, pangling saya Mbak Fani, ini saya Rusdi konco ne Tiyan yang waktu itu bawa Mbak ke klinik." Mas Rusdi menjelaskan sambil tersenyum ramah.
"Ohh, iya yaa...saya ingat sekarang, Mas, maaf ya tadi sedikit bingung," ucap Fani sambil salah tingkah.
"Tunggu di situ Mbak, biar saya panggilkan Tiyan, orangnya ada di dalam." Rusdi menunjuk kursi kayu dekat bangunan kecil yang bertuliskan Kantor.
Tak lama, Tiyan dan Pakde Warmo datang menghampiri Fani, Fani tersenyum manis menyambut suami dan Pakde Warmo, lalu mencium punggung tangan keduanya.
"Waah, manglingin ki, sekarang tambah ayu nee ponakan Pakde," puji Pade Warmo sambil menatap Fani dengan takjub.
"Ah...Pade bisa saja." Fani menunduk malu.
"Ayo kita langsung makan!" ajak Pakde Warmo saat air liurnya hampir menetes melihat lauk yang dibawa Fani. Mereka duduk di bawah, tak masalah karena teras kantor itu cukup bersih.
"Ade ndak makan tah?" tanya Tiyan memperhatikan istrinya yang sedari tadi senyam senyum sendiri.
"Ade sudah tadi Mas, habis masak langsung makan, udah lapar," sahut Fani sambil tersenyum.
Fani memperhatikan Pakde dan suaminya sangat menikmati hidangan yang dibawanya.
"Enak bener ini, Fan," puji pade Warmo.
"Ndak salah kamu pilih istri, sudah manis, pinter masak, pinter jahit, sholeha pula," pujinya lagi.
Fani hanya bisa mesem-mesem. "Rezeki anak sholeh Pakde, padahal waktu ngelamar pertama kali sempat ditolak lho," goda Tiyan menyindir sang istri yang kini sudah merona malu.
"Apaan sih Mas? jangan buka rahasia, malu!" ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya sayangkuu...maaf, muucchh," ucap Tiyan sambil mengecup jauh istrinya.
Tanpa mereka sadari seorang pria dewasa sudah memperhatikan aktifitas ketiganya dari dalam mobilnya. Kini, lelaki itu berjalan tanpa ragu menghampiri, Fani, Tiyan dan Pade Warmo.
"Boleh saya bergabung?" suara baritonnya yang sangat dikenal Fani, tangannya gemetar tak berani melihat sang pemilik suara, tubuhnya masih menatap suaminya, memunggungi sang pemilik suara barusan.
"Eh, Pak Karim. Ayo ikut makan, Pak. Lauknya masih banyak nih," ucap Tiyan.
"Huuuufftt...kirain." Fani menarik nafas lega saat Tiyan menyebutkan nama bosnya , ternyata bukan lelaki yang tak ingin dia lihat lagi seumur hidupnya.
"Mas, Ade pulang ya," ucap Fani tiba-tiba karena perasaannya menjadi tidak nyaman. Fani masih tak berani manatap ke arah lain, hanya fokus pada suaminya yang duduk di depannya.
"Kok pulang, Fan?" tanya Pakde heran.
"Ini Pakde, sudah mendung, cucian saya lupa diangkat tadi." Fani beralasan.
"Ya udah De, ndak papa, hati-hati ya sayang," ucap Tiyan dengan lembut.
"De, kok nunduk terus? ini kenalin Pak Karim, bos Mas."
"De," panggil Tiyan sambil mencolek pundak Fani agar menoleh pada Munos.
Fani memberanikan diri, berdiri lalu berbalik menatap sosok yang hawa tubuhnya saja Fani sangat kenal.
Mata Fani terbelalak. "Ya Allah benar dia," bisik Fani dalam hati, masih tak percaya. Kepalanya menggeleng, matanya digosok dengan cepat, berharap ini hanya mimpi.
"Kenalkan Mbak, saya Munos Karim, bosnya Septiyan, suaminya Mbak!" Munos tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya. Fani mendelik kaget dengan napas yang tiba-tiba berhenti.
****