Seperti Kencan

1040 Kata
Hari ini Mami Lestari berencana mengajak Luna ke butik temanya, untuk melalukan fitting baju pernikahannya. "Luna! Bersiapalah kita akan ke butik tante Yunita butik langganannya Mami." "Em ... buat apa kita ke butik Mami?" "Kita akan fitting baju pernikahan kamu Lun." "Baiklah Mi. Luna bersiap-siap dulu," ucapnya memberi senyum tipis lalu masuk ke kamar. Luna pun bersiap, tidak lama dia turun menyusul Mami di bawah. "Mi. Luna sudah siap, kita pergi sekarang?" tanyanya. "Iya yuk Lun." Ajaknya merangkul lengan calon mentunya itu. Tidak berselang lama mereka pun tiba di sebuah butik yang mereka tuju. "Hai Yunita, apa kabar kenalkan ini Luna calon mantuku," sapanya, sembari mengecup pipi sahabatnya itu. "Hai. Lestari, kabar ku baik. Wah sudah mau punya menantu kamu ya, selamat ya Tari. " "Hai, sayang kenalin aku Yunita sahabatnya Mami kamu," ujarnya mengucup pipi kan dan kiri Luna. "Cantik sekali kamu Lun," imbuhnya lagi. "Terimakasih tante Yuni atas pujiannya," ucapnya, memberi senyum tulus. "Yun! Kamu pilih kan gaun pernikahan yang paling bagus buat Luna ya." "Sebentar, aku ada gaun khusus dan indah yang baru ku rancang, mungkin itu cocok buat Luna, Tar." "Oh iya Agamnya kemana, apa dia tidak kemari buat fitting baju Tar?" "Sebentar aku hubungi dulu, agar Agam menyusul kemari Yun." "Kemari Lun! Kita coba gaunnya." "Iya tante." Mengangguk lalu mengikuti Yunita. Luna pun masuk ke ruang fitting untuk mencoba gaunnya, tidak lama Luna pun keluar dari ruang fitting baju, lalu mrlsngkahkan kakinya perlahan menuju ke tempat sang mami. "Tari. Bagaimana? Bagus tidak gaun yang ku buat ini, pas tidak di pakai Luna?" "Wah! Indah sekali pantas saja para artis suka dengan semua rancanganmu, kamu memang hebat dalam merancang baju Yun," puji Lestari yang takjub melihat indahnya gaun Luna. "Luna. Kamu semakin terlihat lebih cantik menggunakan gaun ini." "Benarkah Mi?" tanya Luna yang tidak percaya. Tidak lama Agam pun tiba di butik, saat masuk dia terpana melihat Luna yang lebih terlihat cantik menggunakan gaun pernikahan itu. Agam memandangi Luna tanpa berkedip sampai deheman sang Mami dan tante Yunita membuatnya tersadar kembali. Dia terlihat lebih anggun dan cantik sekali dengan menggunakan gaun itu. "Kamu cantik Lun, kalau tidak percaya tanyakan saja kepada Agam." "Benarkan Agam. Luna terlihat semakin cantik menggunakan gaun ini? "I ... iya Mi cantik," ucap Agam canggung, mengusap tengkuknya. "Ya sudah sekarang kamu gantian cobain jas kamu, mari ikut tante Gam," pinta Yunita memberikan jasnya. "iya Tan." Agam pun masuk keruang fitting, tak lama dia keluar dari ruangan itu, lalu berjalan menuju ketempat Sang mami dan Luna. "Gimana pas tidak, Agam memakai jas ini Tar?" Tanya sembari memutar si calon pengantin ke kanan dan kiri. "Iya pas sekali, anaku bertambah tampan menggungankan jas bewarna hitam ini. " "Kalian memang pasangan yang serasih." puji Yunita kepada Luna dan Agam. "Baiklah tinggal memperbaik di beberapa sisih lagi agar terlihat semakin pas di gunakan nanti, kapan mau di ambil Tar?" "Lusa aku kemari buat ambil gaun dan jasnya Yun." "Tinggal cincin pernikahan yang belum kalian pilih, kalian pergilah ke toko perhiasan langganan teman." "Mami, masih ada urusan sebentar dengan teman Mami." "Baiklah Mi, kalau begitu Agam dan Luna pamit dulu." ______________¥______________ Mereka telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar, yang ada di Jakarta. Mereka berjalan menelusuri Mall menuju salah satu toko perhiasan. Yang terlihat sangat mewah bagi seorang Luna, mereka disambut langsung oleh pemilik toko. Pemilik toko itu sendiri yang turun tangan melayani mereka, Luna tampak berbinar melihat semua perhiasan yang ada di toko ini, tidak pernah terpikir olehnya membeli perhiasan dari toko ini, sudah pasti tidak terjangkau bagi dia harganya. "Apakah Tuan dan Nona ke sini mau mencari cincin pernikahan?" tanya pemilik toko itu dengan senyum manis. "Iya." "Kami punya beberapa rekomendasi cicin berlian berbagai model terbaru saat ini, apakah Tuan mau melihatnya?" "Ya! Perlihatkan kepada kami." Pemilik toko, mengeluarkan beberapa model cincin keluaran terbaru saat ini. "Kamu saja yang pilihkan Lun!" "Iya Gam." Luna pun melihat lihat beberapa pasang cincin, semua tampak terlihat indah sehingga membuat Luna bingung harus memilih yang mana, sampai pandangan dia tertuju kepada sepasang cincin berlian terlihat tidak terlalu mencolok. Akan tetapi terlihat indah jika digunakan. Setelah selesai memilih cincin mereka keluar dari toko itu, mereka berjalan ke salah satu restoran yang ada di mall tesebut untuk makan terlebih dahulu. Makan pun telah usai. Agam memilih untuk segera pulang, namun ketika melewati gedung bioskop timbulah niat usil Agam untuk mengerjain Luna, dengan mengajak Luna menonton film horor yang dia kira akan membuat Luna ketakutan. "Kita nonton dulu ya Lun, kebetulan ada film yang bagus kamu mau kan?" "Em ... boleh deh." Mengangguk samar. "Tunggu sebentar aku beli tiket dan popcronnya dulu." Agam pun berjalan menuju stan tiket dan popcron dia pun ikut masuk dalam antrian penjualan, tidak lama mengantri setelah mendapat tiket dan popcron. Agam pun kembali ke tempat Luna berada, mereka masuk ke dalam bioskop dan memilih tempat duduk nomor dua dari depan . Film pun di mulai, tigapuluh menit pun berlalu. Sound yang semakin kuat disaat sosok hantu dalam film keluar, mengagetkan se isi gedung bioskop, namun bukannya Luna yang takut tetapi Agam-lah yang ketakutan . Luna sampai bersusah payah menahan tawanya, karena kasihan melihat Agam yang menjadi pucat pasih. Luna pun memilih untuk mengajak Agam keluar dari bioskop dan pulang ke rumah. Di mobil Luna tidak henti-hentinya tertawa setelah iya susah payah menahan tawanya, sampai Agam menatap tajam ke arahnya barulah dia berhenti tertawa. "Terus saja tertawa Lun!" "Maaf kamu lucu sekali, kamu yang ajak aku nonton tetapi kamu yang takut." Agam memutar bolamatnya jengah, melihat Luna yang terus tertawa dia pun memlilih pokus menyetir. Setelah sampai di rumah mereka disambut Mami dan Keisya yang sedang berada di ruang tamu, merekapun terlihat heran melihat Agam yang pucat pasih. Agam langsung naik ke kamarnya tanpa berbicara kepada sang mami dan adiknya. "Kak! Ada apa dengan kak Agam?" tanya keisya yang penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Luna pun menceritakan kejadian ketika mereka di mall tadi sambil tertawa, membuat keisya dan mami pun menjadi ikut tertawa mendengar ceritanya. "Kalian membeli cincin, tapi Keisya merasa kalian seperti sedang berkencan ya!" Pernyataan Keisya membuat Luna menjadi canggung dan calon pengantin itu pun memilih untuk pamit kepada mami dan Keisya. "Em ... Mi, Kei! Luna pamit ke kamar mau membersih kan diri dulu." "Ya suda istiratlah kau pasti lelah setelah berkeliling di mall." Luna berlalu ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN