Air mata membasahi pipinya. Oh... Jangan menangis di sini. Banyak orang. Tapi Jelita hanya diam mematung. Ia tidak bisa bergerak cepat untuk mencari tempat yang lebih sepi dan tersembunyi. Banyu masih ada di dekatnya. Kalau aku keluar sekarang, bisa jadi dia melihatku. Mau tidak mau, matanya terus memperhatikan pergerakan keduanya. Banyu tidak berubah, dia masih tetap tampan seperti yang aku ingat. Jelita memperhatikan sosoknya yang tinggi besar dan memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Dibalik penampilannya yang garang, ekspresinya tetap dingin seperti biasanya. Tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Tapi memang sehari hari, Banyu yang aku kenal memang seperti itu. Sedikit bicara dan tidak banyak berkata kata. Matanya bergeser pada sosok perempuan di samping

