Cerai!
Hanya satu kata, tapi sudah cukup membuatnya gemetar, belum lagi perceraian terjadi secara sepihak. Suaminya alias mantan suaminya tidak memunculkan diri. Semua hanya melewati seorang pengacara.
Jelita tak sanggup berkata kata dan hanya bisa menangis. Banyak tanya menyeruak di dalam dirinya, tapi ia tidak menemukan jawabannya.
Apa salahku?
Kenapa tiba tiba ada surat cerai ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan.
Setelah begitu menantikan kepulanganmu. Ternyata...
Padahal, aku ingin menyampaikan kabar bahagia.
Tangannya mengelus perutnya secara perlahan.
Dokter bilang, aku hamil Banyu. Sekarang sudah berusia dua bulan.
Oh.. Bagaimana ini?
Di tangannya ada ponsel yang ia genggam begitu saja. Berulang kali Jelita mencoba menghubungi Banyu Adhiarja, suaminya, tapi tidak bisa.
Nomorku diblok.
Air mata lagi lagi mengalir di pipinya.
Kenapa seperti ini?
"Apa salahku?" Jelita tersedu sedu.
Tiba tiba di ambang pintu kamarnya yang terbuka, muncul bibik Retna yang biasa melayaninya.
Bibik Retna datang dengan membawa sebuah tas, "Biar bibik bantu membereskan baju ibu."
Wajah wanita tua itu terlihat sedih. Ia tidak menutupi perasaannya.
Begitupun Jelita yang tidak bisa menutupi kesedihannya.
"Terima kasih bik," ia menjawab sambil terisak.
Namun, setelah mencoba kuat dan menenangkan dirinya, Jelita memilih pakaian secukupnya. Tidak ada perhiasan atau apapun yang dibawanya. Hanya beberapa helai baju dan dompet miliknya.
Akta cerai itu ia bawa, beserta beberapa dokumen penting miliknya.
Bersamaan dengan akta cerai tersebut, di dalam amplopnya terdapat cek senilai sepuluh milyar rupiah.
Jelita hanya menatap sendu cek tersebut. Bibirnya mengatup menahan kesedihan yang terasa menyesakkan dadanya. Ia memutuskan untuk menyimpan cek tersebut kembali ke dalam amplop dan meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
Ia lalu membuka dompetnya. Ada sekitar tiga lembar pecahan seratus ribu rupiah dan lima lembar pecahan lima puluh ribu rupiah.
Lima ratus lima puluh ribu.
Apa yang bisa aku lakukan dengan uang segini? Pengacara Banyu jelas jelas mengatakan hanya boleh membawa yang ada di dalam amplop coklat tadi. Jadi, aku tidak mungkin membawa ATM pemberiannya.
Tapi, a-aku mau kemana dengan lima ratus lima puluh ribu? Bahkan, uang segini tidak mungkin cukup untuk bertahan satu bulan.
Apalagi, aku tidak sendiri sekarang.
Jelita lagi lagi mengelus perutnya.
Anakku, bagaimana dengan nasibmu kedepan?
Jelita menghapus air mata yang terus menerus mengalir di pipinya.
"Ke... Kenapa buk?" tanya Bik Retna.
"Pengacara dari bapak bilang kalau saya tidak boleh membawa apapun kecuali yang di amplop coklat tadi. Tapi..." Jelita terdiam.
"Sebentar buk," Bik Retna keluar dari kamarnya. Ia bisa merasakan kalau istri majikannya itu tidak ingin membawa apapun. Tapi, situasinya sungguh sulit.
Tak lama, Bik Retna pun kembali. Dengan hati hati ia mendekati Jelita dan menarik tangannya.
"Buk, terima ini," ucapnya sambil menyerahkan sebuah amplop. "Saya baru gajian. Ibu bisa menggunakannya."
Bik Retna merasa berterima kasih kepada Jelita, karena selama mereka saling mengenal, istri dari majikannya itu telah membantunya beberapa kali. Itu sebabnya ia merasa berhutang budi.
Jelita menatapnya dengan kaget, "Bik.. Jangan. Bagaimana bibik hidup sebulan kedepan?"
Ia menyerahkan kembali amplop berisi uang tersebut ke tangan Retna.
"Ambil saja. Ibu lebih membutuhkannya.
"Saya tahu.. Saya tahu buk. Ibu diperlakukan tidak adil," Bik Retna ikut menangis. "Jadi.... Gunakan saja.
"Selain itu, saya tinggal di rumah ini, setidaknya makan terjamin. Saya tidak perlu apapun."
Jelita kembali menangis tersedu sedu, "Saya.. Saya memang membutuhkannya. Bik, suatu hari nanti, saya pasti akan menggantinya."
"Saya percaya itu," Bik Retna mengusap usap tangan Jelita. "Yang kuat ya buk."
Jelita lagi lagi terisak, "Terima kasih.
"Saya tidak tahu, kenapa semua ini terjadi..."
"Iya buk, saya juga bingung," ucap Bik Retna. "Tapi, kebenaran akan terungkap. Saya percaya ibu akan kembali."
Jelita menangis sejadi jadinya sambil memeluk Bik Retna dengan erat.
"Terima kasih bik. Saya.. Saya pasti akan mengembalikannya," Jelita bicara dengan terputus putus.
Bibik Retna mengelus elus punggungnya naik turun.
Jelita melepaskan pelukannya. Ia kemudian memasukkan amplop berisi uang ke dalam tasnya sambil memastikan barang barang lainnya tidak ada yang tertinggal. Matanya melihat ke sekeliling kamar tidur dengan perasaan kehilangan yang begitu besar.
Ia menangkap foto di meja samping tempat tidurnya yang merupakan foto pernikahannya dengan Banyu.
Oh... Semua ini hanya tinggal kenangan. Sungguh, aku tidak menyangka.
Secepat ini? Sesingkat ini?
Saat sedang melamun, tiba tiba muncul dua orang sekuriti rumah di ambang pintu.
"Ibu maaf, perintah bapak, kami..." salah seorang dari sekuriti tersebut bicara tapi tidak melanjutkan ucapannya karena merasa tidak enak.
"Iya, saya paham," Jelita menghapus air matanya. Ia mengerti maksud dari kedua orang tersebut yang secara halus memintanya segera keluar dari rumah.
Jelita mendekat ke arah letak foto pernikahannya terpajang. Untuk kemudian membiarkan kamera ponselnya mengambil gambar peristiwa penuh kenangan tersebut. Ia meletakkan kembali pigura sambil mengelusnya untuk terakhir kali.
Banyu, ada apa denganmu?
Jelita mencoba tersenyum menatap wajah suaminya yang begitu tampan.
Tak terasa, air mata kembali menetes. Ia pun dengan cepat menghapusnya.
Aku harus pergi sekarang.
"Bik, saya pamit dulu," Jelita kembali memeluk Bik Retna.
:"Iya buk... Hati hati," ucapnya.
Jelita mengangguk.
Setelahnya, ia pun bergerak keluar dari kamar tidurnya dengan gontai. Jelita menutup pintunya.
Tanpa berpamitan dengan siapapun, ia pergi dari rumah besar yang telah menjadi tempat tinggalnya selama tiga bulan terakhir ini.
Jelita hanya mengenakan pakaian apa adanya tanpa sempat berdandan dan bahkan melupakan jaketnya. Tapi, ia sungguh tidak peduli. Kedua kakinya melangkah demi langkah menuju gerbang besar berwarna hitam yamg kokoh melindungi Kediaman Keluarga Adhiarja.
Sepanjang langkahnya, air mata tak henti mengalir. Matanya semakin sembab dan yang utama hatinya terasa getir dan pahit.
Kesedihan terasa sangat menyesakkan.
Oh, dadaku sakit.
Secara bergantian, Jelita mengelus d**a dan perutnya berulang kali.
Tepat di depan gerbang rumah, ia membalikkan tubuhnya. Jelita menatap rumah mewah yang tadinya ia pikir akan menjadi tempat tinggalnya seumur hidup.
"Aku pikir, kita akan selamanya.
"Ternyata, aku salah.
"Selamat tinggal.."
Jelita menatap perutnya sambil berkata kata, "Anakku, kita hanya berdua saja sekarang. Maafkan ibu sudah membuatmu jauh dari ayah kandungmu. Tapi...
"Mungkin ini kesalahpahaman, atau bukan kesalahpahaman. Ibu tidak tahu...
"Tapi, meski tanpa ayahmu, ibu akan berjuang untukmu."
Jelita kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya tanpa henti hingga berada di luar gerbang. Pagar hitam itu pun tertutup dan menjadi tanda kalau kehadirannya sudah tidak lagi diinginkan di rumah besar tersebut.
Jelita Maharani bukan lagi siapa siapa dalam hidup Banyu Adhiarja.
Mereka bercerai setelah tiga bulan pernikahan.