1. Dermaga Ikan Runcing

2524 Kata
Laut di kota Vier merupakan hal yang mustahil. Kota tua itu adalah kota yang berada di tengah-tengah kepadatan kota lainnya. Hanya sungai yang berhak menghiasinya dengan air. Lalu, kenyataan yang dibawa buku Leazova bukanlah ilusi belaka. Rey telah terjebak ke dimensi pulau Leazova. "Tidaaaakk! Kumohon lepaskan aku!" Serak, tenggorokan kering, suaranya hampir habis, Rey tak berhenti menjerit. Pemuda pemalu itu sudah tak sanggup meronta lagi. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Orang-orang aneh yang membawanya tak kunjung berhenti di suatu tempat di mana penguasa dermaga yang mereka sebut berada. Rey sudah hampir menangis. Pikirannya melayang jauh seolah-olah dirinya akan dieksekusi mati. Pisau besar, golok panjang, senjata tajam yang runcing nan mengerikan, disertai aroma amis yang menembus jiwa. Lengkap sudah tanda-tanda kematian di depan mata. "Kumohon dengarkan aku. Aku sudah lelah berteriak," kata Rey lemas. Menengadah ke langit yang terik tanpa ada harapan meskipun otaknya terus berpikir bagaimana dirinya bisa tiba di tempat aneh ini. "Hei, bocah aneh! Jangan pura-pura begitu. Mata-mata yang gagal harusnya tidak menangis di saat penghujung tugasnya," seseorang yang menjunjung tinggi kaki Rey berkomentar dengan suara baritonnya. Rey menelan ludah susah payah, "Sudah berapa kali kujelaskan? Aku bukan orang jahat." wajahnya menyedihkan begitu frustasi. "Hmm?" orang itu berdeham tidak mengerti. "Hei, apa benar yang dia katakan?" tanyanya pada salah satu rekannya. "Tentu saja tidak. Dia datang dari langit. Pasti dilempar oleh anggotanya!" "Ya, ya, aku dengar pulau seberang berencana menyerbu laut yang mengelilingi pulau kita karena mereka kehabisan terumbu karang. Bukan hanya itu, Mereka akan merebut ikan langka yang kita jaga di dalam laut!" salah satu dari mereka mulai memprovokasi. Rey pun pasrah mendengar tuduhan mereka. 'Seseorang ... tolong aku,' rintih Rey dalam hati. "Berhentiiii!!!" Sontak Rey terbelalak, berusaha melihat ke bawah. Seruan seorang gadis melengking menahan langkah semua orang yang membawa Rey. Tatapan yang tajam, tangan menahan udara, kaki terbuka lebar, pakaian khas penjual ikan yang mempunyai ikat pinggang berbentuk ikan. Rey menganga. Siapa gadis itu yang berani menghentikan semua orang dengan badan lebih besar darinya? Seketika mereka meneleng bingung memandang gadis itu yang sangat garang. "Kalian mau ke mana?" tanya gadis itu sembari berkacak pinggang. Rey kelagapan tidak bisa berkutik. Dalam hati bertanya-tanya siapa gadis itu yang beraninya menarik pisau dari ikat pinggangnya seakan mengancam. "Anak kecil, Minggir!" ujar orang yang memegang kaki Rey. "Hei, usiaku sudah dua puluh tahun! Dasar orang besar!" elak gadis itu tegas. Rey terkesiap. Lagi dan lagi gadis itu berbicara kasar. 'Sa-sangat berani!' Rey terkesan dalam hati. "Hahh, minggir-minggir!" orang berbeda kekar tak menginginkannya. Dia mendorong gadis itu hingga tersungkur. Rey merasa kasihan, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Gadis itu bangkit dengan melompat ke udara dan menghentikan orang-orang itu lagi. "Lepaskan dia!" menunjuk Rey tegas menggunakan pisau. Rey membuka matanya lebar. Napasnya tercekat. "Pedagang ikan kecil, jangan ikut campur! Aku buang semua ikanmu baru tau! Cepat minggir atau aku akan...," orang kekar itu belum selesai bicara, tetapi gadis itu menyerangnya dengan pisau kecil yang melatik seperti ketapel dan mengenai tangan orang itu sampai golok yang dia pegang jatuh. "Aaargghh, kurang ajar! Tangkap dia!" orang kekar itu kesakitan. Memang tak bisa membuat lawannya mengeluarkan darah, tetapi memberi efek ngilu seperti suntikan jarum besar. Gadis itu tertawa kemudian lari menerobos masuk ke sela-sela orang-orang besar itu dengan sangat gesit. Jangankan menangkapnya, untuk menyentuhnya saja kesulitan. Hingga mereka berujung saking tabrak karena gadis itu selalu berpindah-pindah posisi. Gadis itu teris terkikik merasa sedang bermwin. Rey pun ikut pusing melihat ke mana arah gadis itu berlari. Hingga sesuatu datang memukul punggungnya membuat Rey memekik keras. "Aarghh!!!" Gadis itu tertawa lagi dan secepat kilat menyambar tangan Rey. Dia mengajaknya berlari. "Huaaaaaa!!!" tidak ada yang bisa mengekspresikan keterkejutan Rey selain berteriak. Jantungnya seakan ingin lepas. Kakinya yang kemas mendadak bisa berlari kencang lantaran orang-orang besar itu mengejarnya setelah sadar telah lalai membiarkannya lepas. "Hahaha, ayo lari!!!" gadis itu memegang tangan Rey erat. Persetan dengan malu atau ego yang tak mau disentuh perempuan, saat ini yang terpenting bagi Rey adalah selamat. Dia lari kalang kabut untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya. Gadis itu justru tertawa dan semakin tertawa terbahak-bahak melintasi tiap sudut jalan yang berjajar pedagang ikan. "Sial! Kejar mereka!" Mereka berseru mengejar Rey tanpa ampun. Rey berteriak lagi, kakinya hampir terpeleset yang sekian kali. Apalagi kala gadis itu mengajaknya berbelok ke suatu tempat, membuatnya sulit melihat ke depan lantaran terlalu cepat. Hampir saja dia menabrak dinding yang mengapit jalan itu. Deru napas terus terbuang bagai debu yang terhempas sapuan kaki. Tiap kali mereka berpindah tempat untuk sembunyi, mereka selalu bertemu dengan salah satu dari mereka yang berhasil mengepung jalan. Rey hanya bisa berteriak di belakang gadis itu hingga gadis itu memilih berhenti di depan deretan perahu penangkap ikan milik nelayan yang selesai berlayar. Rey tidak tahu apa yang direncanakan gadis itu sehingga tersenyum lebar, tetapi dia mendapat firasat buruk. "Akhirnya ketemu kau, bocah ikan! Serahkan pemuda itu kalau kau tak ingin kami buang ke laut!" "Ha!!!" gadis itu dan Rey berbalik. Mereka terkejut orang-orang itu berhasil mengejar hingga sejauh ini. "Jangan menjadi pemberontak! Berikan orang misterius itu!" mereka terus meminta, tetapi gadis itu tak melepaskan Rey bahkan mencengkeram tangan Rey erat. Wajah Rey bercucuran keringat. Untuk menelan ludahnya sendiri pun susah payah. 'Bagaimana ini? Jalan buntu!' batin Rey takut. Dia meremas buku misteri itu. Seketika gadis itu tersenyum licik. Rey tersentak hingga kedua alisnya terangkat. "Kalau mau ambil saja! Cobalah kalau bisa!" gadis itu menarik Rey agar berbalik lagi sehingga memunggungi mereka. "Aaargghh! Gadis kurang ajar! Membuatku kesal saja!" salah satu orang yang membawa pisau amis menghadang langkah gadis itu yang baru saja melangkahkan satu kakinya. "Ha!!!" dia terkejut lagi. Rey menahan napas sejak tadi. "Kau tetaplah di belakangku," gumamnya pada Rey serius. "Apa?" Rey ingin bertanya apa yang ingin gadis itu lakukan, tetapi tak berani mengatakannya. Terlebih lagi tindakan telah menjawab sebelum pertanyaan dilontarkan. "Hiyaaaa!!!" gadis itu menendang kaki orang besar itu hingga lawannya tersungkur. Rey ternganga, gadis itu benar-benar kuat. Hatinya jadi meringkuk merasa berbanding terbalik dengannya. "Kurang ajar! Serang dia!" Mereka mulai mengepung dan menyerbu gadis itu bersamaan. Kilatan tajam dari cahaya yang terpancar di mata gadis itu membuat mereka sedikit gentar. "Ck! Lawan aku kalau berani!" gadis itu semakin erat menggenggam lengan Rey membuat Rey memekik tertahan. Dia lari lima langkah lalu lompat menapaki tubuh orang yang tersungkur itu lalu dengan gesit menendang semua orang dengan lari di perutnya dalam keadaan miring. "Aaaaaaa!" Rey pusing seakan bergelantungan di komedi putar yang berputar cepat. Ketika gadis itu kembali menapaki tanah, Rey tersungkur tak bergerak. Bola matanya masih berputar-putar. Gadis itu berkacak pinggang, "Badan saja yang besar, tapi melawan satu gadis saja tidak bisa." Mendengar hinaan gadis itu, Rey mendongak lalu berusaha berdiri. "Kau...," lagi dan lagi ucapannya tak terselesaikan. Salah satu dari mereka menyerang dengan pisau besar. Terpaksa gadis itu melompat demi menghindarinya. Rey terkejut tangannya ditarik-tarik. Sringgg!!! Pisau itu melintas tepat di samping telinga gadis itu. Karena gadis itu menghindarinya alhasil hampir menusuk hidung Rey membuat mata Rey juling menahan napas. Pisau itu ditarik kembali dan terus berusaha menyerang, tetapi gadis itu dengan lihainya menghindar tanpa takut. Rey ingin pingsan. Benda tajam itu terus mengarah padanya. Lalu, dengan sekali sapuan gadis itu berhasil merobohkan kaki lawan yang jika dinalar mustahil. Kaki gadis itu jauh lebih kecil dari lawannya. Lalu, Rey mengerti jika gadis aneh itu benar-benar kuat. "Orang asing, kau sembunyilah di balik tong itu. Tunggu aku di sana." gadis itu mendorong Rey sampai hampir jatuh lagi. Rey menurut karena tak ada pilihan lain. Sembunyi di balik tong yang sedikit tersisa lendir ikan dan berbau amis. Meskipun ingin muntah, tapi Rey menahannya. Dia mengawasi perkelahian yang tak seimbang itu. Gadis itu menghalangi jalan mereka yang akan menangkap Chris di balik tong ikan. Dilanda takut membuat kepala pusing dan mual yang tidak berujung. Rey berharap gadis itu baik-baik saja. "Kami bilang minggir! Kenapa kau membela orang asing itu? Kau mengenalnya? Apa mungkin kau bersekongkol dengannya?" salah satu dari mereka menunjuk tempat Rey bersembunyi membuat Rey semakin takut dan menyurukkan kepalanya meskipun masih mengintip apa yang terjadi. "Kalian tidak bisa diajak bicara baik-baik? Dia bukan orang jahat! Lihat wajah lugunya yang ketakutan karena wajah jelek kalian! Aku juga melihat kedatangannya, tapi tidak berpikir jika dia irnag jahat. Mungkin saja terjadi sesuatu di langit sehingga orang itu datang. Kalau masih bersikeras menangkapnya lawan aku dulu!" gadis itu dengan lantang tanpa gentar mengepalkan tangan dan memasang posisi siap bertarung. "Dasar bodoh! Hanya kau yang berpikir dia bukan orang jahat! Baiklah, menjauhlah gadis ikan!" salah satu dari mereka membuang senjata dan diikuti yang lain. Mereka akan berkelahi dengan tangan kosong. Rey menganga selebar-lebarnya. Gadis itu tetap diam ketika orang-orang besar nan kasar menyerang bersamaan. Namun, ketika dia benar-benar terkepung, tiba-tiba mereka membungkuk mencengkeram perut yang terasa sangat sakit. Ternyata gadis itu meninju perut mereka secara beruntun dan cepat. Tidak ada waktu lagi untuk meladeni orang-orang besar itu. Selama mereka kesakitan itulah kesempatan bagi gadis itu melarikan diri. Dia segera lari dan menarik Rey ketika tiba di tong persembunyian. Mengajak Rey turun dari tanah yang miring dan menuju deretan perahu kosong. Melompat tanpa aba-aba ke salah satu perahu membuat Rey pun melompat kesulitan. Kakinya hampir saja tersandung tepian perahu. Lalu, gadis itu mendayung perahunya cepat dan dalam sekejap bergabung dengan beberapa perahu yang masih menangkap ikan membuat mereka cukup terlihat sama dengan para perahu nelayan. "Hei!!! Kembali!!! Apa-apaan kau ini?!" "Gadis ikan kurang ajar! Kami tidak akan melepaskanmu, Pengkhianatan!" "Serahkan penyusup itu!!!" Mereka berteriak menahan sakit masih memegangi perut. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengejar. Mereka memilih pergi dan melanjutkan pekerjaan masing-masing. Percuma saja mengejar gadis itu yang membawa lari orang asing dari langit. Meskipun begitu gadis tersebut yakin jika mereka akan melapor pada penguasa dermaga tentang kejadian tak terduga ini. Terlebih lagi dirinya sudah dipastikan tidak akan diterima baik untuk berniaga. Ikan-ikannya yang masih tersisa dibiarkan begitu saja. Itu sangat disayangkan. Lalu, dia mendayung lebih santai. Menghela napas lega sembari menyapa para nelayan yang kebetulan perahunya sangat dekat dengannya. Sebaik mungkin gadis itu menghindar badan pergi lebih jauh ke tengah-tengah perbatasan pulau yaitu mengarungi lautan kecil. Kondisi Rey tidak baik. Buku itu dia cengkeram, napasnya turun-naik. Tak henti-hentinya terkejut akan pertarungan singkat layaknya trik sulap yang selesai bagai kilat dan sekarang dihadapkan dengan birunya lautan asli nan murni. Percikan air yang berasal dari dayung gadis itu mengenai wajahnya. Airnya terasa asin. Itu air laut sungguhan. Rey berpikir buruk jika dia akan tenggelam. Berkali-kali memakai logika jika peta kota Vier tidak ada lautan apalagi pulau-pulau kecil yang berjarak dekat bahkan bisa dipandang mata kosong. Menangis, menyesali telah membuka buku itu, memaksakan diri untuk menolak kebenaran juga tidak ada gunanya. Sekujur tubuh Rey gemetar memikirkannya. Dia hanya memandang dermaga dan air biru di depannya tanpa berkedip. Angin yang berhembus ringan mampu menyibak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya beberapa kali. Gadis itu menyadarinya sembari terus mendayung. Bukan hanya penampilan bahkan ekspresi Rey begitu asing baginya. "Hei, kau. Seharusnya senang kita sudah lolos dari mereka. Kalau tidak mungkin kau sudah jadi ikan cincang," ucap gadis itu tenang nan kejam. Rey terbelalak sadar mengerjap memandnag gadis itu. "Kau siapa?" Rey ketakutan. Gadis itu meneleng dan tersenyum, "Aku adalah pelindung yang ditakdirkan untuk hal-hal yang aneh. Karena kau aneh maka aku melindungimu!" ujarnya meledak-ledak bagai pahlawan yang selalu membanggakan dirinya. Mendengarnya membuat Rey terdiam dan menaikkan alisnya. "Te-terima kasih sudah menyelamatkanku," katanya terbata-bata. "Tidak apa-apa, Kawan! Jangan malu begitu!" gadis itu tertawa sambil memukul lutut Rey. Seketika Rey tersentak membuat perahu mereka sedikit bergoyang. Gadis itu terkejut berhenti mendayung demi menjaga keseimbangan perahu. "Hei, hati-hati! Kau mau kita tenggelam? Sudah susah payah kabur dari sana jangan mati di sini. Tidak lucu jadinya!" gadis itu bislcara sangat kasar. Rey mengerjap-ngerjap tidak mengerti dengan sikap gadis di depannya yang terlihat bukan seperti seorang gadis meskipun pakaiannya jauh lebih baik dari orang-orang besar yang menangkapnya. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Tenang saja, aku bukan orang jahat. Anggap saja kita sama." gadis itu menepuk lutut Rey lagi dan Rey terjingkat kecil. Gadis itu justru heran sekarang, "Kau ini kenapa? Dipukul begitu saja sudah kaget." Bukannya menjawab Rey justru menganga. Perahu itu dibiarkan terapung dan mengikuti haluan angin dan ombak kecil tanpa didayung. Mereka saling pandang dengan cara yang berbeda. Gadis itu melototi Rey tajam bukan seperti tatapan manis yang sama seperti gadis-gadis lain lontarkan padanya. Dia cenderung kuat dan pukulan ringannya terasa menyakitkan di lutut Rey. Menurutnya tidak mungkin seorang gadis bisa memukul pria seperti itu. Gadis itu tidak memiliki sopan santun sama sekali dan berjiwa bebas. Tidak punya rasa takut dan malu. Terlebih lagi dia bau amis. "Eee, boleh aku tanya sesuatu?" Rey meminta izin baik-baik takut jika gadis itu marah. Namun, gadis itu tertawa terbahak-bahak. "Kau lucu sekali! Apa kau pecundang?!" menunjuk Rey tidak sopan dan tertawa menghadap langit. "Pecundang?" gumam Rey terkejut. Dalam hati Rey menilai gadis itu lekat. Bicaranya kasar, sangat tegas dan tidak punya belas kasihan, pemberani, seperti seorang penyelamat, penjual ikan dan pandai bela diri. Banyak nilai baik dan buruk yang terkandung di diri gadis itu. Satu hal lagi, sifatnya cenderung seperti laki-laki. "Baiklah, biar kuperjelas karena aku yakin kau tidak bisa berkata-kata dengan baik. Ehm, namamu adalah Vay Ijri. Aku seorang pedagang ikan yang tangguh dan hebat di dermaga ikan runcing ini. Semua ikan yang kupunya selalu berkualitas tinggi. Bahkan pemilik kapal layar besar yang di sana selalu kalah denganku. Padahal aku hanya menangkap ikan dengan jala dan perahu kecil. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Banyak orang bodoh seperti orang-orang tadi yang tidak mengenalku, tapi penguasa dermaga sangat mengenalku. Kau tau kenapa? Karena aku selalu menang beradu membunuh ikan dan mengumpulkan sirip ikan langka darinya, hahaha. Kau jangan takut padaku, ya. Walaupun aku perempuan, aku tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan. Bagiku semua teman dan sama. Aku hanya membedakan lawan jenis ketika sudah berurusan dengan penangkapan ikan. Kuakui jika cuaca sedang buruk aku tidak bisa menangkap ikan di laut lepas dan hanya laki-laki yang bisa bertahan di cuaca seperti itu. Hahh, menyebalkan sekali! Aku suka berkelahi. Memukul, menendang, dan menghantam lawan ke benda keras itu adalah kesenangan tersendiri. Apa kau juga begitu? Haha, semua laki-laki suka melakukannya, 'kan? Suatu hari nanti kita bisa beradu kalau mau. Sayangnya ... kurasa kau bukan tipe laki-laki yang seperti itu. Lalu, siapa kau sebenarnya?" Gadis yang bernama Vay Ijri itu sangat antusias memperkenalkan diri. Dia punya semangat yang selalu membara membuat hati yang suram terlihat cerah dan semakin cerah. Ketika tiba di akhir ucapannya dia sadar jika orang aneh yang dia jumpai tidak sama dengan orang-orang pada umumnya. Dia menatap Rey lekat. Kata heran tersirat jelas di matanya. Dipandang seperti itu bagai diinterogasi badan hukum bagi Rey. Dia meneguk ludahnya susah payah. Bahkan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Sekuat tenaga mencoba mengeluarkan suara dengan nada yang sederhana agar tidak terlihat gugup. Rey tersenyum tipis dan itu berhasil membuat Vay terbelalak. "Aku Rey Sann. Senang bertemu denganmu," hanya itu yang mampu terlontar dari mulut Rey. Vay semakin terbelalak, "Wah! Kau mempunyai senyum yang menawan! Hebat!!!" Rey tersentak lagi ketika Vay memekik heboh sambil menunjuk senyumnya yang langsung luntur. Bagaimana bisa gadis itu begitu berisik dan ceria? Dunia macam apa yang Rey jumpai? Walau begitu Rey percaya ini sudah takdir. Jika bukan karena Vay mungkin dirinya memang sudah menjadi ikan cincang di dermaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN