3. Ramalan Cuaca

2708 Kata
Tidak ada yang memperhatikan Rey ketika melintasi jalanan lurus menuju pusat pulau meskipun para penduduk masih berlalu-lalang mencari kesibukan malam. Setidaknya Rey bisa tenang membiarkan rambutnya terbuka menampakkan keseluruhan wajahnya karena angin tidak berhenti menerbangkannya. Dingin memang tidak bisa dibendung walau pakaian tebal menyelimuti tubuh. Namun, perjalanan harus tetap dilakukan. Tidak pernah Rey duga akan berjalan sejauh ini. Dia mengeluh dalam hati, tetapi malu ketika melihat Vay yang tidak terpengaruh sama sekali. Seolah-olah kaki gadis itu sudah terbiasa berjalan jauh. Dingin juga tidak terlalu mengganggunya. Seketika sesuatu mengetuk relung hati Rey. Dia tertunduk, memikirkan sesuatu.  Membandingkan dirinya dengan gadis itu membuatnya sedikit tersentak yaitu rasa malu telah timbul. Seburuk itukah dia menjadi laki-laki? Hanya dengan jalan kaki saja sudah letih tidak peduli seberapa jauh langkahnya. Itulah yang terselip di benak Rey. Dia tidak berani mengatakannya, hanya tersimpan dalam diam.  'Sejauh ini?' tanya Rey dalam hati.  Rey tidak menyalahkan langkah Vay. Dia sadar jika tengah-tengah pulau pasti tidak lah dekat. Dia tidak berpikir jika akan salah jalan. Seiring kakinya melangkah, buku itu kembali diperhatian. Tidak pernah dia buka setelah tiba di negeri berpulau ini. Dibuka pun percuma karena tidak ada petunjuk tulisan selain peta pulau di halaman belakang.  Matanya menjadi redup seredup cahaya bulan yang mulai tertutup awan. Binarnya tercetak jelas jika dia sedang risau. Vay menyadarinya, karena dia terus melirik Rey diam-diam. Rey tak kunjung mengalihkan perhatiannya. 'Dia benar-benar tampan. Wajahnya sangat hangat ketika serius memandang buku. Kuakui dia berbeda dengan yang lain. Apa yang begitu mengganggumu, Rey?' batin Vay.  Tidak sadar mereka telah berjalan cukup jauh, hingga sebuah gapura kembar nan tua nampak di hadapan. Ada tulisan kuno yang tertera di atas gapura dan Rey tidak bisa mengerti tulisan itu. Mereka berhenti memandangi gapura. Tanpa sadar pula orang-orang telah menghilang. Sepertinya gapura itu adalah perbatasan antara sebuah desa dengan desa lain. Rumah-rumah sebelumnya pun tak terlihat lagi. Hanya ladang yang penuh rumput di kanan-kiri yang memenuhi jalan. Rey menoleh ke segala arah.  "Apa kita sudah dekat?" tanya Rey ketika pandangannya jatuh ke tulisan kuno di dua gapura.  "Hmm, masih lumayan jauh. Kita hanya perlu melewati beberapa gapura kembar seperti ini lagi. Haha, ayo cepat! Sebelum pagi datang!" Vay sempat mengelus dagunya seolah ikut berpikir seraya menatap tulisan kuno itu. Kemudian, dia menarik tangan Rey dan mengajaknya berlari kecil menerobos dua gapura yang masih memperlihatkan ladang yang luas. Namun, ada banyak lentera di tepi jalan.  Rey memekik kecil. Terpaksa dia mengikuti langkah Vay yang cepat lagi hingga Vay melepaskan genggaman tangannya.  "Apa mau istirahat sebentar?" Vay menawarkan tanpa melirik Rey. Dia memandang lurus sembari mengulas sebuah senyum.  Rey menatapnya, "Tidak perlu, tapi kalau kau lelah kita istirahat saja."  "Wah, kau memikirkanku, ya? Aku justru kasihan melihatmu menggigil dan sok kuat di depanku. Dasar payah!" Vay mengerling sengaja menjahili Rey, membuat Rey mendelik. "Tidak, aku tidak menggigil," sanggahnya.  "Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu nanti di pukul dua belas malam kita istirahat. Jangan membantah! Aku lebih tau kondisi di sini. Tengah malam nanti cuacanya akan lebih ekstrim. Kurasa akan terjadi badai angin sebentar dan itu berasal dari laut. Kira-kira akan terjadi tepat pada pukul dua belas. Sepertinya semua orang sudah menyadarinya. Biasanya orang-orang lebih ramai dari ini, tetapi mereka kini bersembunyi di rumah. Kita lihat saja bagaimana kondisi selanjutnya," terang Vay setelah kembali menatap lurus ke depan.  Rey tersentak dalam hati, tetapi tidak dia perlihatkan, "Kau bisa meramal cuaca?"  Vay tertawa, "Ini bukan ramalan, Payah! Ini adalah ilmu pengetahuan. Aku ini penjual ikan, jadi tahu bagaimana sifat laut dan seisinya termasuk angin yang akan datang. Tenang saja, hanya perkiraanku jika badai itu datang, tapi secara singkat. Bukankah duniamu jauh lebih keren? Seharusnya kau jauh lebih tahu dariku, bukan?"  Rey dibuat tergagap meskipun di dalam hatinya dia tersenyum membenarkan ucapan Vay.  "Baiklah, aku ikut kau saja, Nona penjual ikan." Rey tersenyum.  Vay menganga, "Aaaaa! Jangan beri aku wajahmu itu! Kau mau membuatku pingsan!" Vay menepuk-nepuk pipinya.  Rey pun heran, "Apa? Apa aku salah bicara?"  Vay menepuk dahinya. "Aduh! Dia justru bingung," gumamnya. Rey mendengar gumaman Vay dan dia pun terkekeh. Sebenarnya Rey mengerti maksud Vay jika Vay salah tingkah meskipun hanya bermain-main saja, akan tetapi itu cukup menghibur bagi Rey. Kemudian, Rey kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentang sekilas berita cuaca terbaru yang dia dengar langsung dari teman barunya dan juga tentang buku di tangan. Genggamannya semakin kuat, jangan sampai buku itu terlepas.  'Bagaimanapun juga, Vay orang yang pintar, tapi dia tidak memperlihatkan keahliannya yang satu ini, justru bersikap liar,' pikir Rey.  "Semua orang melihat keadaan cuaca untuk bertahan hidup, Rey. Bukan berarti kami pintar dalam segala hal," tiba-tiba Vay berbicara dan mengagetkan Rey dalam lamunannya.  "A-apa?" Rey terbata-bata.  Vay menoleh serta tersenyum, "Kalau kau berpikir aku pintar, itu salah besar. Semua orang di sini juga bisa meramal cuaca, kami selalu berhadapan dengan arus laut dan kondisi langit, dengan begitu kami tau kapan harus menangkap ikan dan kapan harus berlayar untuk pergi ke pulau lainnya. Begitulah cara kami bertahan hidup dan itu menyenangkan, hahaha. Aku tahu apa yang kau pikirkan, ya!" menunjuk Rey sebentar di akhir ucapannya.  Rey tersenyum kecil, "Oh, ternyata begitu. Kalian mendeteksi cuaca karena terbiasa. Luar biasa!"  "Ck, pujianmu harus lebih dari itu! Aku tahu kau terus menilaiku di hati polosmu itu, 'kan? Hah, sangat mudah ditebak!" Vay menyentuh d**a Rey dengan telunjuknya, tetapi Rey segera menjauh karena terkejut.  "Haha, baiklah-baiklah. Kita kembali berjalan saja dengan hening. Aku lelah bicara." Vay meringis dan beralih menghadap ke depan lagi.  Ray seakan tidak mendapat kesempatan untuk bicara, jadi dia hanya menghela napas panjang dan melanjutkan perjalanan. Tidak berpikir lagi tentang Vay, dia hanya tersenyum sekilas untuk semua penjelasan dan kepekaan Vay.  'Teman sepertimu ... jarang sekali ada di kota Vier,' batin Rey.  Mereka kembali berjalan dengan hening tanpa bicara sepatah kata pun hingga satu jam berlalu dan mereka telah berhasil melewati gapura kembar lagi dengan tulisan aneh yang tentunya tidak bisa dibaca oleh Rey. Rey pun tidak ingin bertanya pada Vay apa maksud dari tulisan itu. Dia menghitung ada berapa gapura yang telah dia lewati dan ini untuk kedua kalinya. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk tiba di pertengahan pulau. Benar ucapan Vay, semkin lama suhu semakin bertambah dingin. Namun, untuk menuju pukul dua belas malam itu masih terlalu jauh. Semua rumah telah tertutup rapat. Lentera di tiap pinggiran jalan bergoyang-goyang tertepa angin yang semakin kencang. Bahkan Vay mulai menggosok kedua lengannya sembari terus berjalan. Wajah telah kaku dan pucat. Seluruh tubuh menjadi putih seperti tidak ada darah mengalir. Kedua pipi bersemu merah dan ketika mereka menghela napas dari mulut akan timbul uap yang mengepul di udara. Perkiraan Rey suhu saat ini mencapai enam belas derajat Celcius.  Raut bingung pun tidak bisa disembuhkan lagi. Keduanya mencari tempat yang sempurna untuk berteduh. Kanan dan kiri tidak memperlihatkan adanya tempat yang aman. Jika bukan rumah-rumah yang ditutup pasti hanyalah ladang berumput yang menghiasi. Terlebih lagi bangunan besar yang nampak seperti toko dan gudang penyimpanan barang juga tertutup rapat. Tidak ada yang menyisakan tempat bagi mereka. Langit semakin gelap dan tidak kondusif. Rey harus mengalah demi kesehatan mereka. Namun, di situasi seperti ini justru tidak ada tempat untuk berteduh. Tidak pernah dia bayangkan jika akan berhadapan dengan cuaca ekstrim malam ini.  Mendadak Vay berhenti berjalan menimbulkan tanda tanya bagi Rey. Vay hanya memandang sebuah bangunan besar nan tinggi hingga menuju lantai tiga dan di sana terdapat banyak lentera. Di sekitar bangunan besar itu terdapat bangunan lain yang tidak seperti rumah. Kerutan di dahi mereka semakin bertambah dan gigi saling bertautan. Rey ingin bertanya, tetapi Vay telah bicara terlebih dahulu.  "Itu adalah rumah hiburan berlantai tiga. Ada banyak lentera, artinya masih dibuka. Rey, kita istirahat di sana." Vay langsung ingin melangkahkan kaki, tetapi Rey mencegahnya dengan kata-kata. "Bukankah kau bilang kita akan istirahat di tengah malam? Kurasa ini baru menjelang pukul sembilan malam. Mengapa harus istirahat?"  Vay berdecak, "Rey, situasinya lebih buruk dari yang kukira. Lihat, badai sebentar lagi akan datang. Kita tidak mungkin berjalan lebih jauh lagi, kecuali kau ingin diterpa badai angin."  Sorot mata Vay menyiratkan kepanikan. Namun, Rey tetap tenang meskipun wajahnya sudah terlalu pucat.  "Aku mengerti. Baik, kita berteduh di sana, tapi bukankah harus membayar? Kau tidak punya uang." Rey menggeleng jujur.  "Benar juga, tapi kita tidak akan lewat pintu depan, tapi belakangan." Vay ikut menggeleng.  "Apa? Kenapa?" Rey tidak mengerti dengan kesepakatan Vay.  "Ck, kau menurut saja! Kau tidak mau dihabisi oleh gadis-gadis perayu, 'kan? Di sana pusatnya gadis cantik dan laki-laki bodoh. Kalau kau masuk dari pintu depan sudah kupastikan wajahmu babak belur tanpa sisa! Ayo ikut saja!" Vay mengibaskan tangannya buru-buru dan melenggang begitu saja.  Rey tidak mengerti pun menurut saja dan masih berpikir apa salahnya jika dia masuk dari pintu depan. Dia pikir tidak ada hubungannya rumah hiburan dengan para gadis perayu. Pikirnya rumah hiburan adalah tempat yang memiliki banyak permainan, tidak ada hubungannya dengan gadis ataupun laki-laki bodoh. Dia terus memasang wajah polos sampai tiba di halaman belakang tepat di depan pintu. Hanya ada sedikit lentera di sana dan yang dipandang Vay adalah lantai tiga. Pandangannya disertai dengan seringaian aneh membuat Rey tidak mengerti lagi.  "Kali ini apa yang kau rencanakan?" Rey berbisik.  "Sssttt, diam! Kita akan memanjat ke lantai atas. Di sana ada banyak kamar yang hangat." Vay menaruh telunjuknya ke bibir.  "Apa? Memanjat? Aku ... Aku tidak bisa memanjat." Rey menggeleng kecil.  "Aduh, kau ini! Apa aku harus melemparmu agar sampai di atas? Ayolah!" Vay frustasi.  "Kau sudah sangat dingin, ya? Bagaimana kalau kita berlindung di tempat itu saja? Tidak perlu memanjat dan masuk ke dalam." dengan lugunya Rey menunjuk toko di sebelah bangunan besar itu. Toko yang memiliki teras kuat dengan dua tiang besar sebagai penyangga.  Vay pun melihat toko itu kemudian berpikir, 'Benar juga. Kalau Rey ketahuan di rumah hiburan ini dia bisa habis.' "Iya, ide bagus! Tapi di sana tidak ada kamar yang hangat. Tidak bisa menerobos masuk juga." bisik Vay seraya melambaikan tangannya sebagai isyarat.  "Tidak masalah, yang penting bisa istirahat. Memangnya pintu lantai tiga itu bisa dibuka?" tanya Rey dengan wajah lugu lagi.  Vay meringis, "Semua pintu kamar di sini bisa dibuka seenaknya kecuali pintu di bagian depan. Itu sebabnya aku mengajakmu ke sini diam-diam. Jika lewat depan pasti disuruh membayar, aku tidak punya uang, 'kan?'  "Hmm? Kenapa begitu? Kamar yang aneh!" Rey mengerutkan dahinya heran.  "Haisshh, sudah-sudah. Ayo ke toko itu!" Vay memilih mengabaikan pertanyaan Rey dan pergi terlebih dahulu.  Rey masih memiliki banyak pertanyaan tentang rumah hiburan itu, tetapi dia tidak bertanya lagi dan ikut pergi dengan Vay. Setelah duduk bersandar pintu toko, mereka sedikit lega. Kakinya tidak dipaksa berjalan lagi. Tidak masalah akan semakin lama menuju perpustakaan, yang terpenting mereka harus melewati cuaca ekstrim malam ini. Rey menggosok kedua telapak tangannya dan menaruhnya ke wajah setelah sedikit hangat. Bukunya dia tekan ke perut. Vay pun melakukan hal yang sama untuk menghangatkan wajahnya. Vay memeriksa pintu dengan mengetuknya dan benar jika pintu itu terkunci. Tidak ada orang di dalamnya. Lalu, dia menghela napas panjang. Rey tidak mengucapkan apapun lagi.  "Emm, tidak apa-apa, 'kan, kalau perjalananmu kita tunda? Hehe, aku menyesatkanmu, ya? Hahaha!" Vay tertawa pelan. Rey menggeleng tidak paham dengan sifat Vay yang bernada halus dan juga tertawa tanpa beban.  "Kau ini...," hanya itu yang bisa Rey katakan dan Vay semakin tertawa.  "Sshh, memang benar. Badainya akan terjadi lebih cepat." Vay menggosok lengannya lebih cepat sembari menatap sekeliling. Rey pun sama.  Daun-daun dari pepohonan mulai terbang dari jalurnya. Pusaran angin semakin terlihat dan tak terkendali. Ini akan menjadi badai yang singkat dan besar. Hati Rey bergemuruh hebat. Dalam sekejap tekanan udara berubah drastis. Apapun penyebabnya, yang jelas badai akan segera datang. Hanya dengan isyarat, Rey dan Vay berbicara dan mereka saling berpegangan pada tiang. Mereka memegangnya dengan erat. Dedaunan yang berguguran diterbangkan perlahan hingga seluruh tiang pelita di tiap tepian jalan roboh. Pusaran kecil itu perlahan menjadi besar. Mengarah ke tempat persembunyian Rey dan Vay, tetapi angin itu menyusuri jalan dan menerbangkan apapun yang bersifat ringan. Rambut Rey dan Vay sampai terbang tak terkendali, terkadang pula menutupi pandangan mereka. Namun, ada beberapa pusaran angin kecil yang datang dari arah berlawanan. Sepertinya angin malam ini memang tak terkendali. Rey panik. Sedari tadi memeluk buku dan tiang tanpa mau melepaskannya walau satu jari sekalipun. Napasnya pun mulai memburu.  "Vay, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi?!" sangat jelas dari nada bicaranya Rey sangat ketakutan.  Vay menoleh sambil menggeleng, "Jangan takut, Rey. Ini tidak akan lama. Sebentar lagi angin besarnya akan datang. Teruslah berpegangan! Jangan sampai terbawa angin dingin!"  "Bukan, bukan itu maksudku! Apa kita akan selamat?!" Rey jauh lebih panik.  "Tidak akan terjadi apapun pada kita, tenanglah!" Vay menjadi terbawa panik. Melihat raut wajah Rey membuatnya tak karuan.  'Bagaimana jika dia pingsan ketakutan? Seperti anak kecil saja! Aku harus membuatnya tenang. Ck, siapa suruh tadi tidak mau masuk ke rumah hiburan? Ah, itu dia! Aku harus mengalihkan perhatiannya sampai badainya datang sungguhan!' pikir Vay.  Gadis penjual ikan itu berdeham sebentar menetralkan nada suaranya dan dia berhasil menarik perhatian Rey meskipun wajah Rey masih jelas sangat takut sembari menatap Vay.  "Hai, Rey! Apa kau tahu rumah hiburan itu apa? Kau tidak penasaran? Aku akan menceritakannya padamu!" Vay bicara sedikit keras. Dia seperti berteriak.  "Ha?" hanya itu jawaban Rey. Itu pun dengan nada keras. Angin besar di sekelilingnya membuat telinga mereka sedikit tak mendengar apapun dengan jelas.  "Ck, rumah hiburan berlantai tiga di sana!" Vay menunjuk bangunan itu dengan sorot mata dan Rey mengikutinya.  "Oh, kenapa? Kau ingin kembali lagi ke sana? Jangan! Berbahaya!" Rey menggeleng kuat.  Vay berdecak lagi, "Siapa juga yang ingin kembali? Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu tentang rumah itu! Beruntung juga kita tidak jadi masuk, kalau tidak kau dalam bahaya!"  "Apa?! Bahaya?!" ekspresi Rey lebih buruk dari sebelumnya. Dia sangat ketakutan seolah semua yang ada di sekelilingnya tengah mengancamnya.  'Angin puyuh atau badai dan apapun itu akan datang. Lalu, rumah itu punya misteri sendiri. Kenapa aku dikepung hal yang mengejutkan? Aku ingin kembali!' rengek Rey dalam hati. Napasnya pun semakin memburu.  Vay sedikit menahan senyum ejekannya. "Hei, rumah itu adalah tempat hiburan paling banyak diminati laki-laki bodoh! Mereka membuang uang hanya untuk merayu gadis-gadis jelek. Makan dan minum sepuasnya kemudian pulang setelah fajar tiba. Memang benar kalau kau jangan masuk ke sana. Bisa merusak diri!"  "Oh, tidak! Vay, angin besar! Anginnya sangat besar! Itu p****g beliung!" Rey berteriak menunjuk hadapan yang cukup jauh untuk dilihat, tetapi menampilkan sebuah pusaran angin yang sangat jelas. Bahkan angin itu mulai merobohkan apapun yang diterjangnya. Pohon pun tumbang. Kaki Rey hampir merangkak ke tiang. Dia bergetar. Seluruh tubuhnya bergemuruh dan Vay menyadari itu, tetapi dia terus melanjutkan ucapannya.  "Memangnya kenapa jika anginnya datang? Lihat, semua orang tenang di dalam rumah. Kerena mereka tahu tidak akan terjadi apa-apa pada mereka nanti. Jika angin menerbangkan rumahnya, biarkan saja, tapi itu tidak akan terjadi. Hmm, aku justru mengkhawatirkan mereka yang ada di kamar lantai tiga rumah hiburan. Pasti mereka tidak menikmati malam ini. Ck, suasana yang menyebalkan!" dengan mudahnya Vay menggeleng prihatin.  Rey justru membelalakkan matanya. Tangannya mencengkeram tiang lebih kuat. Kali ini pikirannya benar-benar kalut. Dia takut tiangnya akan dibawa angin.  "Vay, badainya menuju kemari! Dia sangat besar! Vay, lakukan sesuatu!!!" "Astaga, sayang sekali makanan di sana harus terbang. Aku ingin mencicipi saus jeruk yang ditaburkan ke roti panggang. Ck, pasti sangat lezat dimakan selagi hangat. Wah, rumah hiburan itu memang kenikmatan tiada tara. Meskipun begitu aku orang baik-baik! Aku tidak akan masuk ke sana meskipun mengidamkan makan roti panggang dengan saus jeruk!" Vay membayangkan betapa nikmatnya makanan di bangunan besar itu.  Rey tidak bisa bergerak. "Se-semakin dekat! Siapapun, tolong!!!"  "Berteriak tiada guna! Tidak akan ada yang menyelamatkanmu! Wah, rumah itu benar-benar racun, Rey. Apa ditempatmu tidak ada rumah hiburan? Membosankan!" Vay masih dengan santai mengatakannya.  "Ck, berhentilah bicara, Vay! Lihat ke depan! Kita akan mati!" bahkan untuk mengucapkan hal itu lidah Rey bergetar hebat.  "Hmm?" Vay menoleh ke mana Rey menatap dan dia terbelalak. "Aaaaaa!!! Badainya telah datang!!!" dia berteriak jauh lebih keras daripada Rey.  Rey ingin membenturkan kepalanya entah karena takut atau pusing merasakan bodohnya Vay, akan tetapi dia tahu jika Vay sengaja mengajaknya bicara agar dia tidak terlalu takut. Namun, badai di depannya jauh lebih menakutkan, tidak bisa dihindari jika mereka menantang badai dengan berdiri tepat di depan pusaran badai tanpa perlindungan. Sayangnya hanya Rey yang memiliki ketakutan besar. Vay tidak ragu sedikitpun untuk mengatakan Rey agar tenang. Dia sangat yakin jika badai kecil itu tidak akan melukai mereka. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN