Beberapa saksi atas kejadian masa lalu masih berkeliaran dengan rutinitas yang berbeda. Semua itu tidak mengherankan karena Fang dan Zee melakukan hal yang serupa. Kakek yang memberi tumpangan kapal telah bicara banyak dan begitu menghormati Fang. Perjalanan yang ditempuh ke pulau Biru Laut hampir memakan setengah hari. Selama itu pula Rey tidur. Matahari telah terik di atas kepala dan perjalanan hampir sampai.
"Zee, kau kenapa di dekat Rey terus? Lebih baik bantu aku menaikkan barang-barang ke kuda. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Vay membuat Zee menoleh. "Buat apa diam di situ? Orang tidur, ya, biarkan saja," sambung Vay.
Zee segera bangun dan membantu Vay menaikkan barang mereka ke punggung kuda.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin melihat Rey. Dia terlihat lelah. Aku rasa sedikit demam." kata Zee sambil mengangkat bingkisan besar miliknya.
"Hmm, wajahnya cukup pucat. Aku lupa kalau dia tidak kuat seperti kita. Menerjang hujan dan tidak tidur malam tentu saja membuatnya sakit. Zee, bisakah kau buatkan obat untuknya? Kau, 'kan, punya banyak bahan herbal kering." Vay menatap Rey sekilas dan beralih pada Zee.
Zee mengangguk cepat, "Tentu aku bisa."
"Haha, terima kasih. Dia cukup merepotkan, 'kan?" Vay tertawa.
Zee menggeleng, "Tidak juga. Aku senang bersamanya." segera pergi membuat obat sederhana yang bisa mencegah demam agar tidak lebih parah.
Seketika tawa Vay terhenti, "Hah? Apa?" dia celingukan mencari Zee yang dengan riang di dekat perlengkapan bahan herbalnya.
"Hmm, aku tidak mengerti." Vay mengendikkan bahu dan kembali menyusun perbekalan mereka. Tidak dia duga sebuah tangan membantunya ketika Vay hendak menaikkan barang yang lebih berat yaitu berisi aneka pusaka milik Zee dan Fang. Kuda itu meringkik bersamaan Vay menoleh heran.
"Eh, kau pikir ke mana kita setelah tiba di pulau itu? Aku bisa melihatnya! Mayoritas berwarna biru. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana air laut dan mana tanah pulau."
Ternyata tangan itu milik Kal. Sembari bicara, dia menunjuk pulau destinasinya dengan dagu, lalu berhasil menaikkan barang mereka.
"Oh, terima kasih kau membantuku. Benar-benar! Senjata mereka berat sekali!" Vay melirik Fang dan Zee yang sibuk sendiri-sendiri.
"Wah, lihat! Apa itu ramai-ramai?! Sepertinya ada perayaan! Wah, hahaha, menarik sekali! Ada banyak gadis biru!" Kal menepuk bahu Vay berkali-kali dengan pandangan antusias pada pulau yang terlihat sedikit lebih jelas.
Vay berdecak kesal dan kembali memukul Kal yang tetap tertawa sambil terpesona, "Sakit tau! Tidak perlu memukulku, 'kan, bisa! Memangnya ada gadis biru?! Matamu itu yang biru!"
"Bukan kulit mereka yang biru, tapi pakaiannya serba biru! Buka matamu lebar-lebar, penjual ikan bau!" Kal melebarkan kedua mata Vay dengan jarinya membuat Vay berteriak.
Kehebohan mereka menarik perhatian semua orang, sehingga mereka mendekat kecuali kakek yang mengemudikan kapal dan Rey yang masih tidur.
"Ada apa?" Fang dan Zee bertanya bersamaan. Mereka melihat apa yang Vay dan Kal lihat. Sontak mereka terkesan.
"Wah! Ramai sekali! Kenapa semua orang berpakaian biru?" Zee menaruh telapak tangannya di dahi untuk memperjelas pandangannya.
"Benar! Katanya ini pulau yang tenang, tapi justru ramai seperti ini? Kukira pulau ini pulau membosankan yang memiliki pesona lebih dari pulau lainnya." Kal menggeleng sambil memetik senar di alat musiknya, mendramatisir ucapannya.
Vay menepuk punggung Fang tanpa berpikir panjang, "Kenapa kau diam? Jangan bilang kau tidak tau!"
Fang menoleh dengan wajah dingin. Namun, Vay jauh menatapnya tajam, "Apa?! Tidak terima aku pukul?!"
Fang menatap Vay dari ujung rambut hingga kaki, "Kau perempuan seperti apa?"
Nada menghina dari Fang membuat Vay ternganga, "Keterlaluan! Bilang apa tadi, hah?!" menunjuk Fang tidak terima.
Kal memegangi Vay agar tidak lepas kendali. Tangan Vay memang terkenal, tetapi mulutnya tak berhenti memakai dan bicara sesuka hatinya. Sampai kebisingan tersebut mampu menyadarkan Rey dari tidur yang lumayan panjang. Rey mendesis karena merasa pusing. Zee langsung terlonjak dan menyelesaikan obat herbal sederhananya. Segera dia memberikan obat itu yang terlihat pahit pada Rey.
Rey menoleh sambil menutupi wajahnya dengan rambut karena malu dia baru bangun, "Zee? Apa yang kau lakukan?"
Zee meneleng bingung. Suara Rey serak seperti takut, "Apa aku menakutimu? Aku hanya memberimu obat. Kau mengalami gejala demam." menodongkan obat itu lagi.
Rey mengerjap. Menatap obat di cawan itu dan memeriksa dahinya sendiri, "Ti-tidak, aku tidak takut. Hanya ... sedikit malu."
"Malu? Ah, karena kau baru bangun dari tidur, ya? Haha, itu wajar, karena kau tidak tidur semalam. Maaf, kalau aku langsung menghampirimu setelah bangun." senyum kikuk Zee menyapa.
Rey merasakan kehangatannya dan ikut tersenyum, "Iya, tidak masalah. Terima kasih, ya." menerima obat itu dengan senang hati.
Zee mendadak menghangat dan merasa tidak mau melunturkan senyumnya. Dia terus menemani Rey sampai memastikan kondisi Rey benar-benar sanggup untuk melakukan perjalanan di tengah kerumunan desa kecil di pulau Biru Laut.
"Oh, kau sudah bangun? Kita akan sampai dalam lima menit," ucap kakek itu dengan senyum yang serupa seperti kemarin malam. Rey dan Zee menoleh kompak.
"Kakek?" Rey segera berdiri menghampiri kakek itu. Zee mengikutinya sebelum tangannya diulurkan untuk menggapai Rey. Wajah Rey nampak berseri. Suasana hatinya terlihat dalam kondisi baik. Dia melihat tujuan mereka setelah berdiri tepat di samping kakek itu.
"Cepat sekali! Ternyata sudah terlihat jelas, ya?" Rey memandang hadapan dengan penuh imajinasi.
"Cepat? Matahari sudah di atas kepalamu, Rey? Apanya yang cepat?" heran Zee.
"Oh, ya? Ahaha, aku melewati banyak hal." Rey menggaruk kepala.
Zee dan kakek itu menghela napas panjang. Rey bertanya mengapa sangat ramai di pelabuhan itu. Lalu, kakek itu menjawab jika di depan mereka bukanlah pelabuhan, melainkan sebuah desa yang menyambut orang-orang dari pulau lain. Dapat diperjelas dengan adanya kapal dan perahu di pesisir pantai menuju desa dan jembatan yang panjang sebagai jalan khusus untuk masuk ke desa. Kemudian, Fang menambah penjelasan kakek tersebut jika pantai kecil itu sama seperti dermaga. Memiliki kegunaan yang beragam termasuk perdagangan ikan hingga tempat sewa kapal.
Akhirnya Vay diam setelah mendengar penjelasan mereka. Rey terkesima dengan apa yang dilakukan orang-orang di desa tersebut. Semakin dekat dilihat, semakin jelas jika tidak ada penjual ikan atau kapal besar yang memuat banyak barang. Serta lokasi yang tidak terlihat seperti dermaga. Sebuah perayaan memang sedang dilakukan.
Kapal telah berhenti. Semua turun termasuk kuda yang menjadi sulit diatur hingga Fang harus menjinakkan kuda tersebut. Bukan hanya ramai orang, melainkan ramai alat musik yang dimainkan seiring mereka melangkah. Berada di kerumunan orang-orang berpakaian biru tidak membuat mereka terasingkan, justru diabaikan. Kal sangat senang seakan matanya hampir keluar karena melihat gadis-gadis cantik sedang menari di barisan tepi pantai.
"Selamat hari ranting!"
"Selamat!"
Semua orang bersorak. Langkah Rey dan yang lainnya berhenti di atas jembatan. Penduduk yang ceria seperti sedang menyambut sesuatu tersebut tepat di depan mereka. Tontonan yang sangat mengagumkan. Rey membulatkan mata dan bibirnya karena tak bisa berkata-kata. Kebingungan melanda mereka kecuali Kal yang terus memperhatikan gadis-gadis penari.
"Baiklah, sampai di sini saja. Aku akan kembali."
Suara kakek itu menyadarkan Rey, sehingga Rey berbalik badan dan tersenyum pada kakek itu. Disusul oleh teman-temannya yang masih dilanda bingung.
"Sungguh, aku sangat berterimakasih. Kami telah berhasil tiba di sini berkat kakek. Apa kakek yakin tidak mau singgah dan menjual ikan dulu?" tanya Rey.
"Anak muda, terkadang ucapan tidak sama seperti apa yang dipikirkan. Aku tidak benar-benar ingin menjual ikan, aku hanya ingin mengantar kalian." Kakek itu melipat tangannya di d**a.
"Apa?" Rey mengerjap satu kali.
Kakek itu menatap sekeliling, "Hmm, sungguh keceriaan yang meriah. Apa yang sedang mereka lakukan?"
Pertanyaan itu mengubah pandangan Rey lagi. Ketika Rey hendak menjawab dengan pertanyaan yang sama, kakek itu telah membalik badannya dan melambaikan tangan, sehingga terlihat seperti pergi tanpa berpamitan.
"Kakek!" Rey berseru memanggil, tetapi tak dihiraukan. Hanya lambaian tangan kakek itu yang menjawab. Fang menepuk pundak Rey seraya ikut melambaikan tangan sebentar, sekadar salam perpisahan dan ungkapan terima kasih.
"Jadi, bagaimana?" kata Fang.
Rey mendesah dengan perhatian yang masih tertuju pada kakek yang menolongnya, "Ayo kita cari tempat istirahat. Kita butuh mandi. Kudanya juga butuh makan."
"Wah, mereka cantik sekali!" ucapan Rey seakan disambung oleh Kal. Sontak Vay mencekik Kal sampai Kal tersedak ludahnya sendiri.
"Ayo ikut aku cari penginapan. Kalau di desa pasti harganya lebih murah. Dasar penyanyi aneh!" Vay menarik kerja baju Kal dan terus melewati jembatan. Lain dengan Kal yang menetralkan suaranya dan masih senang melihat gadis-gadis cantik meskipun kakinya mengikuti langkah Vay.
Zee mengelus kepala kuda, "Oh, kasihan sekali kau. Di mana ada peternakan kuda, ya? Dia lapar dan lelah."
Zee begitu prihatin dengan kuda itu, sehingga Rey membagi tugas agar Zee mencari peternakan kuda atau tempat apapun yang bisa membantu merawat kuda mereka, sedangkan dirinya dan Fang mencari tahu tentang desa tersebut. Zee pergi dan melakukannya dengan senang hati meskipun kuda tersebut kembali susah diajak berjalan.
"Permisi, apa yang sedang kalian lakukan? Kelihatannya sangat menyenangkan!" Rey mulai bertanya pada salah satu orang yang sedang bersorak gembira di sebelahnya.
Orang itu menoleh, "Oh, ada yang datang. Maaf, pasar ikan tidak ada sekarang. Kami sedang merayakan hari baik. Bagaimana kalau kalian bergabung? Pasti kalian akan senang!"
Rasa antusias yang begitu luar biasa, sehingga mampu membuat Rey dan Fang terheran-heran. Dia bahkan mengira Rey dan Fang penjual ikan.
"Hari baik apa itu?" tanya Rey dan Fang bersamaan. Mereka pun saling pandang setelahnya.
"Oh, kalian tidak tau, ya? Pohon tua di teluk sana sudah bercabang dan menumbuhkan ranting yang sangat indah. Ini pertama kalinya selama satu tahun. Tentu saja kami merayakannya," jawab orang itu semangat. Dia mengepalkan tangannya ke udara.
"Ranting? Apa istimewanya ranting itu sampai dibuat perayaan?" Rey berkedip polos.
"Aduh, kau tidak mengerti?" orang itu menggeleng. Sebelum menjelaskan kembali, Fang menahannya dengan terlebih dulu berbicara.
"Oh, apa ranting biru itu? Ternyata sudah tumbuh, ya? Aku ikut senang. Selamat untuk kalian." Fang tersenyum.
"Apa? Kau tau?" Rey menatap Fang penuh pertanyaan.
"Ahaha, terima kasih! Jadi, kalian mau bergabung? Kalau begitu cepat pakailah pakaian warn biru! Selamat hari ranting!" orang itu kembali bersorak bahkan lebih gembira dari raut wajahnya.
Rey membulatkan mulutnya lagi masih tak mengerti.
"Sudahlah, nanti ku jelaskan. Kita cari susul Kal dan Vay dulu." Fang menunjuk jalan ke jembatan dengan dagu.
"Hah? Oh, baiklah." Rey sedikit tergagap. Kemudian, mengikuti Fang menunjukkan jalan.
Tidak butuh waktu lama hingga mereka tiba di sebuah penginapan sederhana yang telah dipesan oleh Kal dan Vay. Lalu, Zee menyusul tidak lama dari mereka. Kuda pun telah dirawat di salah satu peternakan dengan biaya yang cukup mahal karena pemilik peternakan memanfaatkan keadaan, melihat Zee adalah orang asing sehingga menaikkan harga. Namun, peternakan itu tidak jauh dari penginapan mereka dan semua barang telah disimpan di penginapan sebelum Zee mencari peternakan kuda.
Air panas telah mengepulkan asap dari panci. Sup, vitamin penyegar tubuh, bahkan air hangat untuk mandi telah disiapkan oleh satu gadis yaitu Zee. Vay hanya menyangga kepala dan melihat Zee mengotak-atik peralatan dapur dengan sangat lihai. Sementara para laki-laki istirahat dan mandi.
"Aku tidak tau bagaimana kau bisa melakukan itu semua. Luar biasa!" Vay bergumam malas sampai menjatuhkan kepalanya di meja.
Zee terkekeh, "Ini mudah. Hanya butuh hati-hati dan melakukannya dari hati." dia sedang mengaduk sup yang sebentar lagi matang dari panci panas.
"Hah? Dari hati? Kau melakukannya dengan tangan, bukan hati, Zee," gumam Vay malas lagi.
Zee hanya terkekeh. Saat semuanya sudah tersedia dan suasana mendadak hening ketika mereka berkumpul di meja makan dengan penampilan bugar tak terkecuali Vay dan Zee yang mandi paling belakang. Mereka baru menyadari sesuatu jika penginapan itu sepi. Bahkan pemiliknya telah pergi. Di meja dan kursi itu, mereka memandang sekeliling dan halaman yang nampak kosong dengan pintu terbuka. Tidak ada yang salah, ternyata semua orang telah pergi ke pantai untuk merayakan sesuatu.
Rey masih memutar pandangannya, "Sepi sekali! Ini agak aneh."
"Huft, percuma kau bergumam. Hei, cepat jelaskan! Kau bilang mengetahuinya," Kal pun mulai malas. Bukan karena kondisi lingkungan yang sepi, tetapi lantaran tidak bisa lihat para gadis cantik di perayaan lagi. Dia menyuruh Fang berbicara.
Rey masih menutup sebagian wajahnya meskipun terlihat cukup segar. Obat darurat dari Vay sangat mujarab. Rey pun mengakuinya dalam hati. Dia melihat Fang seakan menuntut sesuatu.
Fang mengangguk, "Jadi, ini adalah sebuah desa yang menjadi tujuan setiap kapal yang berlabuh. Des ini bernama desa Ranting Biru. Mereka sedang melaksanakan perayaan tahunan untuk ranting yang tubuh sekali dalam setahun di sebuah pohon yang berada di teluk."
"Apa?!" teriak Rey dan yang lainnya bersamaan kecuali Zee. Zee hanya mengangguk karena mengetahui hal yang serupa.
"Hanya sebuah ranting saja mengapa mereka gembira?" Kal memukul meja sampai air hangat yang ada di cangkirnya sedikit tumpah.
"Pohon itu satu-satunya pohon berwarna biru murni dari akar hingga setiap ujung dahan dan rantingnya. Namun, mereka hanya bisa menumbuhkan dahan dan ranting, tanpa daun, bunga maupun buah. Hanya setahun sekali mereka dapat tumbuh dan di sinilah kekuatan misterius itu muncul. Ranting dan dahan tersebut dapat digunakan sebagai obat yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Ketika satu ranting saja diambil, maka ranting lainnya sudah tidak bisa digunakan sebagai obat. Jadi, hanya satu ranting yang bisa diambil dan semua orang harus menunggu satu tahun lagi untuk dapat menggunakan ranting itu. Sama hal nya dengan dahan. Karena itu, mereka antusias menyambut tumbuhnya ranting biru. Itu sangat berguna bagi desa mereka dan kerajaan. Oleh karena itu juga banyak orang yang mengincar ranting biru, sayangnya selalu gagal karena sudah ada jalan peredaran sendiri untuk ranting tersebut. Zee memiliki salah satunya yang diawetkan." Fang mempersilahkan Zee untuk memperlihatkan sesuatu.
Zee mengeluarkan benda itu dari saku bajunya dan seketika tangannya bersinar. Semua perhatian beralih pada tangan Zee. Mereka terkejut hebat bahkan kal dan Vay tidak mengetahuinya. Benda di tangan Zee benar-benar bersinar biru meskipun telah kering dan lebih mirip akar daripada ranting.
Zee tersenyum, "Aku mengeringkannya dengan berbagai ramuan lainnya. Ranting ini hanya bisa digunakan dalam model celup sehingga bisa digunakan berkali-kali. Orang-orang biasanya mengubahnya menjadi bubuk atau dipadukan dengan batu alam, tetapi aku punya caraku sendiri. Ini juga yang bisa mengubah tubuh Rey menjadi fit seperti semula." Zee menatap Rey
"A-apa? Jadi aku meminum ramuan ajaib?" Rey tersentak.
"Iya, kau senang?" Zee tersenyum lebih manis.
Rey tidak bisa berkata-kata. Dia pikir tidak akan ada pohon seperti itu, tetapi ini dunia sihir, apapun pasti bisa terjadi.
"Wah, luar biasa! Apa dia akan terus bersinar?" Kal menyentuh ranting itu.
Zee menggeleng, "Jika sering digunakan, dia akan hilang kuasanya. Sepertinya karena sihir pulau ini sudah tidak ada, jadi Pohon Biru pun tidak punya kuasa lebih. Dia hanya bertahan dengan kekuatan murninya sendiri sebagai pohon obat sama seperti tanaman obat lainnya."
"Lalu, apa obat-obatan keringmu yang lain juga akan tidak berfungsi suatu saat nanti?" tanya Kal lagi setelah mendongak pada Zee.
"Tentu saja. Mereka akan sangat kering dan lebih kering hingga tidak bisa digunakan. Bahkan bisa menghilang menjadi abu seperti daun ini." Zee mengeluarkan selembar daun yang terlalu kering dari sakunya. Baru dipegang saja sudah rapuh, membuat Kal memegangi serpihannya yang akan jatuh di meja karena kasihan.
"Aduh, sayang sekali! Kenapa bisa begini?" Kal sedih melihat serpihan daun kering itu yang terlalu kering.
"Ya, seperti yang kubilang tadi. Lalu, khasiatnya akan berkurang dan hilang," jawab Zee.
"Oh, sekarang aku mengerti. Pantas saja mereka merayakannya," Vay yang masih lemas pun ikut bergabung. Dia mengaduk sup tanpa henti.
Rey menegakkan punggungnya lagi, "Keren! Aku ingin melihatnya!"
"Hmm? Kau tertarik?" Fang melirik Rey.
"Iya! Di mana teluknya?" Rey semakin semangat.
"Tidak jauh dari sini. Hanya perlu berjalan kaki," kata Fang dengan senang hati.
"Baiklah, tolong ajak aku ke sana, ya." Rey tersenyum sampai matanya menyipit.
"Ah, aku ikut!" Zee memasukkan rantingnya ke dalam saku dan tanpa sadar meremas daun kering itu sehingga kembali berjatuhan di meja. Kal begitu mengasihaninya dan mengambil semua serpihan daun tersebut.
"Wow, cinta yang luar biasa. Hatimu lembut sekali?" Vay berdecih mengejek Kal.
"Kau tau apa? Lihat, dia mati, telah kering. Seperti pahlawan yang gugur." kata Kal mendayu sambil mengelus serpihan daun itu di tangan kirinya.
"Ck, kuharap kau juga ikut gugur." Vay memutar bola matanya jengah. "Kalau Rey pergi, aku juga pergi. Penyanyi jalanan, kau ikut tidak?" Vay bertanya meskipun sorotan matanya terarah pada Rey.
"Iya, tentu saja." Kal masih sibuk berkutat dengan daunnya yang gugur.
"Baiklah! Sepertinya kita akan bersenang-senang nanti!" Rey tidak memiliki perasaan buruk sama sekali. Dia terus tersenyum meskipun teman-temannya malas.
Fang setuju dengan Rey karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Sesuatu akan terjadi jika mereka melakukan sesuatu dan itu karena Rey menginginkan sesuatu. Keputusan telah dibuat. Mereka pergi setelah makan. Tanpa menunggu sore tiba, kaki mereka telah menginjakkan teluk dan sedang berdiri di depan pohon Ranting Biru.