Nyaman. Itulah yang Jasmin rasakan ketika baru saja menghempaskan pantatnya di kursi plastiknya yang keras dan dingin. Tidak hanya nyaman, bahkan kursinya beraroma harum maskulin. Itu sangat aneh. Jasmin lalu menoleh ke belakang. Matanya seketika melotot. Ia pasti bermimpi. Seorang pria yang hampir saja ia lupakan kini tengah duduk di belakangnya, tidak, ia duduk di pangkuan pria itu. Jika mata jasmin melotot terkejut, syok dengan kehadiran pria itu. Namun berbanding terbalik dengan wajah pria itu, ia terlihat santai, bibirnya bahkan tersenyum ramah ke arah Jasmin. Tubuh Jasmin seketika bangkit. “Pak Rei? Apa yang Bapak lakukan di sini?” desis Jasmin, tidak percaya dengan penglihatannya. Jari-jari lentiknya cepat mengebas-ebas pantatnya, seolah tak rela tubuhnya bersentuhan dengan tubu

