“Jasmin. Kamu mau kemana?” Emir berlari menyusul Jasmin yang melaluinya. Pikirannya cemas. Bertanya-tanya, mengapa Jasmin berlari sambil menutup mulutnya. Emir pun terus berlari mengikuti Jasmin hingga tempat parkir. “Jasmin, kamu kenapa?” Tanya Emir khawatir. Tangannya memegang bahu ramping Jasmin. "Kamu nangis?" Tanya nya lagi dengan merendahkan tubuhnya. Memperhatikan seksama wajah Jasmin yang menekuk. Sudah tidak di tutup lagi oleh tangannya. Syukurlah tidak ada air mata yang tumpah. Batinnya. Jasmin hanya diam. Justru menarik pundaknya. Dalam diam, ia menarik cepat motornya dari tempat parkir. Trak…. Motor Jasmin yang tepat di ujung tempat parkiran motor. Berada di samping parkiran mobil. Tanpa sengaja menyenggol sebuah mobil yang berada di samping motornya . Wajah Jasmin memucat

