Di sebuah ruang utama, rumah megah keluarga Calvin. Duduk berdua Emir dan Rindu. Emir tak bisa kemana-mana, karena Jasmin menahannya, mengajaknya berbincang-bincang. "Emir, katanya kita pernah ketemu malam-malam di Eropa? Itu kapan? Kok aku nggak ingat?" Tanya Jasmin. Emir tersenyum. Ia mengangguk. Tangannya gemetar membelai pipi halus Jasmin. "Gimana kamu bisa ingat, kalau selama kita bersama kamu nangis terus? Seolah aku nggak ada di sana. Dan yang menarik hatimu hanyalah tangisanmu. Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya, apa yang membuatmu terus menangis selama ada di pesawat?" "Pesawat? Kita pertama ketemu di sana?" Tanya Jasmin. Emir pun mengangguk. "Dan selama kita ada di pesawat. Kamu nangis terus" "Masa sih" ucap Jasmin tak yakin. Ia tak mengingat apapun. "Ternyata k

