37

1877 Kata

Rangga memandang memincing penuh curiga pada Pian yang menatap padanya juga. Rangga menjambak rambutnya gemas, sebelum akhirnya anak itu merengek manja. "Papa teriak tadi sama Rangga. Orang teriak sama bicara keras, lagi marahin' kan?"Rangga merengek menuntut jawaban dari Pian. Huff! Hembusan nafas penuh lega keluar dari mulut, dan hidung Pian. Anaknya emang the best, marahnya nggak lama-lama, pasti dia selalu di maafin. Suatu kesyukuran yang harus Pian syukuri. "Nggak semua teriak atau bentak itu di marahin, sayang. Ada yang teriak kasih semangat, ada yang bentak biar nggak di ulang lagi kesalahan yang buat orang nggak suka. Teriak banyak versinya, sayang. Tadi papa nyuruh Rangga masuk kamar cepat, karena Rangga nggak boleh lihat sesuatu yang belum boleh di lihat sama Rangga."Jel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN