Kerumah Laras

1294 Kata
Titip Benih BAB 08 Aku sedikit takut dengan ucapan Mas Ikhsan. Jujur saja aku memang tidak pernah tahu sedikit pun tentang Mas Ikhsan maupun Mbak Laras. Dan bodohnya lagi aku tidak mencaritahu terlebih dahulu siapa mereka. Apakah mereka itu orang baik atau malah sebaliknya. Keesokan harinya kami pulang. Mas Ikhsan menurunkanku di depan pagar. Mas Ikhsan tidak bisa mampir kerumah, karena Mbak Laras sudah menunggu dirumah. "Dek, Mas antar sampai sini saja ya..." "Kenapa tidak mau masuk dulu?" "Nanti Laras curiga jika Mas mampir," "Ya sudahlah pulang sana!"jawabku kesal, percuma juga jika aku memaksa mas Ikhsan untuk masuk kerumah karena kami pasti akan bertengkar, bagi mas Ikhsan perasaan mbak Laras yang terpenting. Mas Ikhsan tidak mau Mbak Laras curiga. Jadi Dia harus segera sampai rumah. Setelah kepergian Mas Ikhsan, ternyata Bagas sudah berdiri di belakangku. "Mari, Nyonya kita masuk." ajaknya, aku hanya mengangguk. Dan berjalan di depannya. Begitu melihatku, Mbok Minah langsung menghampiriku. Aku lalu memberikan tas yang berisi baju kotor kepada Mbok Minah. Mbok Minah dengan sigap menerima tas itu. Dan langsung ditentengnya. Setelah itu, aku langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Tubuhku terasa sangat capek. Bagaimana tidak capek, mas Ikhsan selalu minta dilayani sepertinya momen itu sangat dimanfaatkan olehnya. Sehingga tidak menginjinkan aku beristirahat. *** Satu minggu telah berlalu. Mas Ikhsan belum datang lagi kerumahku. Aku tidak tahu apa penyebabnya sehingga Dia tak berkunjung kerumahku, yang pasti mbak Laras lah jawabannya. Mungkin mbak Laras melarangnya atau mbak Laras sedang merajuk lagi. Entahlah aku bingung jika memikirkan hal itu. Sore itu aku sedang duduk di beranda rumah, sambil melihat Mbok Minah yang sedang menyapu halaman. Tiba-tiba Mbak Laras datang dan langsung menghampiriku. "Minah! Kemasi barang-barang Airin dan masukkan kedalam mobil." perintahnya "Baik, Nyonya..." jawab Mbok Minah Aku langsung bertanya kepada Mbak Laras. "Mbak! Untuk apa bajuku dikemas?" "Mulai hari ini kamu akan tinggal bersama kami." "Apa! Aku gak mau!" "Mau tidak mau kamu harus nurut sama aku! Karena kamu sedang mengandung anakku!" "Tidak! Ini anakku dan sampai kapan pun adalah anakku! Kalian tidak bisa memisahkan kami!" "Sudahlah Airin. Perempuan kotor seperti kamu itu tidak patas menjadi seorang ibu!" "Apakah Mbak lebih bersih dariku? Sehingga Mbak lebih pantas jadi seorang Ibu?" "Jelas! Aku adalah wanita baik-baik jadi aku yang lebih pantas menjadi Ibu dari anak itu!" "Jika mbak lebih pantas, kenapa tidak mbak saja yang hamil!" "Airin!!! Jaga ucapanmu!" "Kenapa mbak harus marah? Bukankah apa yang aku katakan benar?" "Kamu itu tidak pantas dan tidak layak menjadi seorang Ibu, dan ingat! Anak itu adalah anakku!" "Kenapa Mbak begitu terobsesi kepada anakku? Atau ada sesuatu dibalik itu semua." "Sudah jangan banyak bicara! Cepat naik ke mobil!" "Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini!" "Bagas! Bawa Nyonya Airin masuk kedalam mobil." perintahnya dengan nada cukup keras. Dan benar saja, Bagas langsung sedikit menarik tanganku hingga terasa sakit pergelangan tanganku. Baga berbisik di telingaku, Dia mengucapkan maaf sebelum menarik tanganku. Aku tahu apa yang dilakukan Bagas adalah tuntutan pekerjaan yang harus Dia lakukan agar tidak dipecat oleh Mbak Laras. Akhirnya aku dengan terpaksa mengikuti kemauan Mbak Laras. Setelah mobil melaju sekitar satu jam lebih, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang sangat megah. Dua kali lipat megahnya dari rumah yang aku tempati. Bagas langsung memaksaku untuk tetap turun. Sedangkan Mbak Laras meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan kamarku. Di rumah ini ada lima asisten rumah tangga dan dua orang satpam. Setelah aku diantar ke kamarku. mereka pergi. Aku hanya bisa diam di kamar, karena tidak tahu harus berbuat apa. Mbak Laras menyita ponselku, jadi aku tidak bisa menghubungi Mas Ikhsan. Tak berselang lama terdengar suara seorang asisten memanggilku. "Maaf Nyonya... Sudah di tunggu oleh Nyonya Laras di meja makan." "Oh... Iya, tunggu sebentar. Aku tidak tahu letak meja makannya." "Mari, Saya antar Nyonya..." Aku diantar oleh asisten itu kemeja makan. Ketika aku sampai di meja makan. Mas Ikhsan terlihat sangat terkejut melihat ku. "Sayang... Kenapa ada Airin disini?" "Kejutan... Dia, aku bawa kesini agar aku bisa memantau kondisi anak kita, Mas." "Oh! Baguslah kalau begitu Sayang. Jadi kita bisa tahu bagaimana perkembangan anak kita." Sebenarnya ingin sekali aku memotong pembicaraan mereka. Tapi, aku lagi malas dengan mereka. Aku hanya akan jadi pendengar yang baik saja untuk saat ini. Mbak Laras dan Mas Ikhsan menunjukkan kemesraan mereka di depan ku. Awalnya aku sedikit tidak enak hati. Tapi, aku paksakan hati ini untuk kuat menghadapi segala situasi yang ada di depanku. Setelah selesai makan malam, aku sebenarnya ingin cepat masuk kedalam kamar. Tapi Mbak Laras mencegahku. "Airin! Kita ngobrol dulu disini." Aku lalu duduk di sofa ruang keluarga. Mbak Laras bergelayut manja di lengan Mas Ikhsan. Sedangkan aku fokus menonton televisi. Sesekali aku melirik kearah mereka. Mbak Laras sepertinya memang sengaja pamer kemesraan di depanku. "Masss... Kalau anak kita lahir nanti, Mas mau kasih nama siapa?" "Terserah kamu saja. Mas pasti setuju siapa pun nama yang kamu pilih." "Jadi, aku sendiri yang akan nentuin nama untuk anak kita?" "Iya... Sayang... Pilih nama yang bagus ya." ucap Mas Ikhsan sambil mengelus rambut Mbak Laras dan setelah itu mengecup keningnya. Sakit rasanya hati ini melihat tingkah mereka berdua. Tapi aku tidak mau masuk dalam permainan mbak Laras. Aku hanya mendengarkan saja pembicaraan mereka. Karena aku protes pun tetap kalah. Cemburu! Sudah pasti aku cemburu dengan perlakuan Mas Ikhsan yang begitu lembut kepada Mbak Laras. Tapi, mau bagaimana lagi, nasibku menjadi seorang istri yang hanya dituntut untuk melahirkan keturunannya. Jadi aku harus sadar akan posisi dan statusku. Karena sudah larut malam, aku ijin untuk beristirahat. Sedangkan mereka sepertinya masih asyik bermesraan di ruang keluarga. Keesokan paginya. Kami sarapan bersama. Seperti kemarin, mereka mempertontonkan kemesraan di depanku. Karena sudah tidak tahan, akhirnya aku buka suara. "Mbak, Mas! Tidak bisakah kalian menjaga perasaanku sedikit saja! Jika kalian ingin bermesraan, coba di kamar saja!" Hardikku kepada mereka "Hahahaha... Memangnya kenapa jika kami bermesraan disini? kami Suami istri jadi sah-sah saja." "Memang benar kalian suami istri. Tapi, disini ada aku yang juga bersetatus istri mas Ikhsan juga Mbak!" "Kamu itu hanya seorang isteri diatas kertas Airin! Jadi jangan pernah berharap lebih. Ingat kamu itu dulu hanya perempuan kotor yang hina. Jadi tidak usah terlalu banyak protes! Nikmati saja apa yang saat ini kamu lihat." "Mbak! Tidak bisakah setiap Mbak ngomong itu jangan membawa-bawa masa laluku." "kenapa? Kamu malu dengan masa lalu mu!?" "Mbak tahu bagaimana masa laluku? Tapi, mengapa Mbak mau menikahkan Kami?" "Aku menyuruh Mas Ikhsan menikahi mu karena aku ingin kamu mengandung benih Mas Ikhsan." "Kenapa Mbak tidak mencari perempuan baik-baik yang lebih bersih dari ku. Daripada setiap saat mbak selalu mencibir dan menghinaku." "kalau ada orang baik-baik yang mau dititipin benih Mas Ikhsan, tentu saja aku tidak akan sudi jika Mas Ikhsan menikahi mu!" "Mbak pikir aku senang dengan pernikahan ini?" "Ya sudah pasti senang dong kamu itu, karena kamu akan mendapatkan rumah dan uang setelah melahirkan anakku!" "Apakah Mbak pikir aku mau menukar anak ku dengan rumah ataupun uang! Mbak salah besar. Aku tidak akan menukar anak ku dengan apapun!" Mbak Laras terlihat sangat marah. Dia mendekat kearahku dan langsung menampar pipi ku. "Kamu jangan pernah main-main dengan ku. Aku tidak segan-segan untuk mengurungmu sampai kamu melahirkan!" Aku meringis kesakitan sambil memegang pipiku. Mas Ikhsan tidak membelaku ataupun melarang Mbak Laras melakukan itu kepadaku. Mas Ikhsan seperti patung. Dia hanya diam melihat kearahku. Dengan tatapan datar. Seolah tidak terjadi apa-apa didepan matanya. Setelah itu aku langsung dikurung dalam kamar. Pintu kamarku dikunci dari luar. aku berteriak-teriak memanggil mereka, namun tak ada yang meresponku sama sekali. Aku hanya bisa menangis meratapi nasib. Entah, aku harus meminta tolong kepada siapa…? Agar aku bisa lepas dari pernikahan ini. Karena merasa percuma saja memanggil mereka. Akhirnya aku hanya diam dan menangis didalam kamar. Aku sangat kecewa, Marah dan benci kepada mas Ikhsan. karena dia begitu tega menarikku kedalam sebuah pernikahan yang sangat menyiksa ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN