Bab 29

1429 Kata
Sarah Sarah tersenyum puas dalam hati. Karena rencana yang telah di susunnya dengan matang ini kini berhasil membuat Derris bisa jatuh ke dalam genggamannya seperti dulu. Memang sangat mudah untuk membodohi Derris terlebih sepertinya ia masih memiliki rasa pada Sarah. Sekitar dua minggu yang lalu, Sarah yang tidak sengaja melihat sosial media Derris merasa sangat kesal. Ia melihat semua foto-foto yang telah di unggah oleh Derris. Kebanyakan adalah foto Derris bersama pacar barunya. Terlihat dari foto-foto tersebut rata-rata adalah foto perayaan dan juga foto liburan. Ternyata apa yang telah di katakan oleh teman-teman Sarah, yang kini satu sekolah dengan Derris memang benar. Derris terlalu memanjakan pacar barunya. Mereka selalu liburan ke tempat yang Sarah minta dulu pada Derris. Namun ketika masih bersama Sarah, Derris selalu menolak dan juga selalu beralasan bahwa ia tidak mempunyai uang. Sarah pun langsung menghubungi Niken dan memintanya untuk membantu Sarah agar bisa dekat kembali dengan Derris dan juga sekaligus bisa menjadi mata-mata untuk Sarah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, itulah peribahasa yang tepat untuk Sarah kini. Ia hanya berniat memanfaatkan agar Derris kembali pada Sarah, namun tidak di sangka olehnya bahwa Rian, sahabat Derris masih saja berada di dekatnya. Membuat Sarah ingin sekaligus balas dendam dan juga menghancurkan persahabatan mereka. Kini Sarah hanya perlu memikirkan langkah selanjutnya agar Derris bisa putus dengan pacarnya dan membuat Rian bertekuk lutut di hadapannya. Derris menarik tangannya di atas meja yang sedang di pegang oleh Sarah. Sangat jelas terlihat bahwa Derris sangat tidak nyaman bersama Sarah. Namun Sarah tidak peduli, yang terpenting kini Sarah dapat bertemu kembali dengan Derris dan juga memanfaatkannya kembali. "Oh maafkan aku Derris. Aku terlalu senang sampai tidak sadar memegang tanganmu." kata Sarah sambil tersenyum kecil. Derris hanya tersenyum kikuk. 'Dia masih sama seperti dulu, sangat membosankan dan juga jual mahal.' pikir Sarah. Derris langsung melirik jam yang berada di tangan kirinya. "Oh aku sepertinya harus pergi. Aku baru teringat bahwa hari ini aku ada janji dengan Rian." Derris langsung bangkit berdiri. "Tapi bagaimana dengan minumannya?" tanya Sarah. "maksudku siapa yang akan membayarnya?" Derris berdecak pelan lalu merogoh saku belakang celana jeansnya dan mengeluarkan satu lembar uang pecahan lima puluh ribu dan menyimpannya ke atas meja. "Maaf aku pergi duluan. Aku juga tidak bisa mengantarmu pulang." Derris langsung bergegas pergi keluar dari cafe dengan terburu-buru dan meninggalkan Sarah. "Br*****k. Kalau tau dia akan pergi secepat ini harusnya aku manfaatkan dia dan memesan makanan yang mahal." gerutu Sarah. "Ahh. Perutku sangat lapar." Sarah mengusap perutnya yang sedang keroncongan. Seperti sedang mendapat lotre, Sarah memanfaatkan kesempatan yang Derris berikan kepadanya. Sarah terus menghubungi Derris dan mengajaknya untuk bertemu kembali. Namun Derris selalu menolak dan beralasan sedang memiliki banyak tugas sekolah. Sarah yang mempunyai mata-mata langsung menghubungi Niken dan menyuruhnya untuk mencari tahu keseharian Derris. Ia pun meminta Niken mencari tahu dengan siapa saja Derris bertemu. Tak hanya mau menunggu, setelah pulang sekolah Sarah langsung pergi menunggu Derris di halte bis dekat sekolahnya. Sudah tiga hari Derris terus menolak ajakannya untuk bertemu. Cara halus tidak membuahkan hasil, akhirnya Sarah nekat datang untuk memberikan peringatan pada Derris. Hampir satu jam Sarah duduk menunggu Derris di halte bis. Pandangannya terus tertuju pada gerbang sekolah berwarna hitam yang masih tertutup rapat. Ia lalu beralih pada jalan raya yang berada tepat di depannya. Memperhatikan setiap kendaraan yang berlalu lalang. Tak lama suara hiruk piruk dari arah gerbang sekolah mulai terdengar, Sarah langsung memalingkan wajahnya ke arah gerbang dan melihat semua siswa sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sarah langsung berdiri dan menajamkan matanya untuk melihat keberadaan Derris. Namun sudah hampir sepuluh menit, Derris sama sekali tidak terlihat oleh Sarah. Sarah memutuskan untuk duduk kembali dan menghubungi Niken. "Bukannya dia mantan pacar Derris?" terdengar suara seorang wanita dari sampingnya. Sarah langsung menengok ke asal suara dan tersenyum kecil. Ada dua wanita yang sedang menatap Sarah dengan pandangan tidak suka. "Ya kau benar." jawab wanita yang rambutnya di kuncir kuda. Ah Sarah baru mengingatnya, kedua wanita itu adalah teman-teman pacar Derris. Sudah sangat jelas pandangannya seperti seakan ingin membunuh Sarah. Sarah tersenyum dalam hati. Ia berniat untuk mengajak ngobrol mereka berdua dan mencoba untuk memanasi hubungan Derris dan pacarnya. Namun dari arah belakang mereka, Derris dan pacarnya telah datang mendekati halte. Niken, Rian dan seorang lelaki yang pernah Sarah temui tempo hari di halte pun berjalan dan berada di samping Derris. "Untuk apa wanita s****n ini datang kembali?" ujar Rian dan berjalan lebih dulu untuk mendekati Sarah. "Yang jelas bukan untuk bertemu denganmu," sahut Sarah santai lalu melihat ke arah Derris dan tersenyum lebar. Derris langsung menundukan kepalanya. Rian berdecak kesal. "Sudah cepat pergi sana." usir Rian. "Harusnya kau tau diri. Mantan pacarmu ini sudah mempunyai pacar jadi jangan menganggunya lagi." timbal wanita yang di kuncir kuda. "Kalau tidak tau apa-apa, tidak usah ikut berkomentar." Sarah tertawa mengejek. "aku kemari untuk bertemu dengan temanku. Benarkan Niken?" Niken hanya mengangguk pelan. Derris berdehem mencoba menjadi penengah, "Baiklah, jadi sudah jelas bukan? Kedatangan Sarah untuk bertemu dengan Niken." ujar Derris. "kalau begitu aku dan Hana pulang duluan." Derris langsung menarik tangan Hana menuju bis yang kebetulan sedang berhenti. Sarah terus memperhatikan dua teman pacar Derris yang melihatnya dengan pandangan tidak suka. Niken yang berada di samping Romi lalu menghampiri Sarah. Niken lalu berpamitan pada Romi untuk pergi bersama Sarah. Romi hanya mengangguk lalu mengajak Rian untuk pergi. Sarah dan Niken memasuki bis yang mengarah ke rumah Niken. Setelah Sarah duduk di dalam bis, ia tersenyum misterius ke arah Arin dan Sera. Sarah mengetahui nama kedua teman Hana dari Niken, ia memperingati Sarah agar lebih berhati-hati pada teman-teman Hana. Saat akhir pekan Sarah menghubungi Derris. Ia meminta Derris untuk datang ke rumahnya untuk menemani Sarah. Seperti biasa, Derris akan menolak Sarah mentah-mentah. Sarah langsung mengancam Derris dengan membongkar semua kebohongan Derris yang diam-diam selalu menemui Sarah. Sarah pun akan datang setiap hari ke sekolah Derris untuk menemui Hana. Derris yang tidak punya pilihan, akhirnya terpaksa hanya bisa menurut dan pasrah. Janji yang telah di buat dengan Hana pun harus rela ia batalkan karena Sarah terus mengancamnya. Siang harinya Derris telah tiba di depan pintu pagar rumah Sarah. Suara bel yang begitu kencang membuat Sarah yang sedang siap-siap di kamarnya di lantai dua, langsung berjalan cepat untuk membuka pintu pagar. Sarah menyunggingkan senyuman lebar ketika melihat Derris kini berdiri di hadapannya. Wajah Derris terlihat tidak semangat dan juga sangat kesal. Namun Sarah tidak perduli, karena yang lebih penting adalah Derris yang menuruti semua keinginan Sarah. "Kamu membawa pesananku bukan?" tanya Sarah tana basa-basi sambil meraih keresek putih besar yang sedang di pegang Derris. "Hmm." gumam Derris malas. Sarah langsung mempersilahkan Derris untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat ini keadaan rumah sangat sepi, karena mama Sarah kini sedang pergi ke rumah kerabat jauhnya. Hanya mereka berdua di dalam rumah yang berukuran cukup besar itu. Derris memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Sarah. Keheningan menyelimuti mereka. Sarah terus memperhatikan Derris yang terlihat sangat gelisah. Sesekali Derris mengecek ponselnya, tak pernah sekalipun Derris menatap wajah Sarah. Saat di tanya oleh Sarah pun Derris hanya menjawab singkat dan kembali melihat ponselnya. Sarah yang kesal akhirnya memutar otak agar mendapat perhatian dari Derris. Sarah memegang kepalanya dan berpura-pura mengaduh kesakitan. "Tolong Derris, kepalaku sangat sakit." erang Sarah sambil terus memegang kepalanya. Sarah melirik sekilas pada Derris, terlihat ia sedikit bereaksi lalu matanya terus tertuju pada Sarah yang sedang pura-pura kesakitan. Karena Sarah yang terus mengatakan kesakitan Derris akhirnya mendekati Sarah yang duduknya di seberang Derris. "Aku akan panggilkan dokter." Derris merogoh saku depan celana jeansnya untuk mengambil ponsel. Namun tangan Sarah menahannya. "Kamu duduk saja disini. Nanti juga akan hilang sendiri rasa sakitnya." pinta Sarah. Derris hanya mengangguk patuh lalu duduk di sebelah Sarah. Sarah terus berpura-pura kesakitan. Satu tangannya memegang kepalanya dan satu tangan lainnya mencengkram tangan Derris. Sesekali ia melirik pada Derris. Derris terlihat sangat bingung dan juga khawatir pada Sarah. Sarah hanya tersenyum puas dalam hati dan terus melanjutkan sandiwaranya. Kurang lebih lima menit, Sarah mengakhiri sandiwaranya. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya lalu melihat Derris dengan senyum yang di paksakan. "Aku sudah lebih baik." kata Sarah lemah. "Apakah tidak ada obat untuk meringankan sakitmu?" tanya Derris lalu membantu Sarah membenarkan posisi duduknya. "Aku sudah terlalu banyak meminum obat." kata Sarah. "aku ingin bisa sembuh tanpa obat-obatan." Derris mengangguk lalu meraih gelas di atas meja dan memberikannya pada Sarah. "Semoga kamu bisa membantu aku Derris. Inilah keadaanku yang sesungguhnya." kata Sarah pelan. Derris tidak menjawab, ia hanya mengangguk dengan ragu. Tanpa di duga Sarah memeluk Derris dengan erat. "Apa yang kamu.." "Hanya sebentar saja, aku mohon." sela Sarah cepat. Derris hanya pasrah dan terdiam kaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN