Tangan Hana mencari-cari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Ia meraba di bawah bantalnya, matanya tetap terpejam lalu ia menempelkan ponselnya di telinga kanannya tanpa melihat siapa penelpon tersebut.
"Halo." ucap Hana serak.
"Halo sayangg." ucap sang penelpon dengan riang.
"Apakah ini sudah waktunya untuk mengangguku,?" tanya Hana kesal.
"Hehehe. Aku hanya ingin mengingatkan kita ada kencan jam 2." ada penekanan di kalimat terakhir agar Hana bisa mengingat bahwa hari sabtu ini mereka sudah janjian untuk berkencan.
"Ini masih pagi. Dan kau sudah membangunkanku?" desah Hana kesal karena tidurnya telah terganggu oleh Derris.
"Hmm sayang ini sudah jam dua belas, dan kurasa ini sudah bukan pagi lagi."
Hana memaksakan matanya untuk terbuka, ia pun melirik sekilas ke arah jendela kamarnya yang kini sinar matahari mulai mengintip di sela-sela gorden kamarnya. Hana mengucek matanya lalu duduk di tempat tidurnya.
"Halo Hana, kau tidur lagi?" tanya Derris kembali, karena tidak ada jawaban dari Hana.
"Tidak." gumam Hana lalu bangkit dan berjalan membuka gorden kamarnya. "Sudah dulu. Aku mau mandi." Hana langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Derris. Hana lalu mengambil handuknya di dalam lemari dan berjalan turun ke bawah untuk mandi.
Hana sedang melihat dirinya di cermin ia sedang merapikan rambut dan pakaian yang ia kenakan. Hari ini Hana hanya memakai sweter bewarna biru dan celana jeans hitam. Wajahnya hanya di poles dengan makeup tipis. Setelah di rasa cukup Hana berpamitan kepada ibunya yang sedang menonton televisi.
"Mau kemana?" tanya ibu setelah memperhatikan penampilan anak sulungnya dari atas hingga bawah.
"Keluar sebentar." jawab Hana, ia tahu ibunya akan terus bertanya sampai rasa penasarannya terjawab. Akhirnya Hana langsung mencium tangan kanan ibunya lalu pergi sebelum ibunya bertanya kembali.
"Heh dasar anak muda, sudah mulai punya pacar sepertinya." kata ibunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Derris yang sedang duduk di halte dan melihat kedatangan Hana dari jauh langsung bangkit dan tersenyum.
"Kamu sangat cantik hari ini.." kata Derris memuji Hana sesampainya ia di halte. Hana hanya memutar kedua bola matanya. "Ayo naik." lanjut Derris ketika bis yang akan membawa mereka ke tengah kota sudah tiba.
Hari ini Derris dan Hana akan menonton film horor di bioskop. Ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar pergi berkencan sebagai sepasang kekasih. Derris yang tidak menyukai bahkan ia sangat membenci film horor akhirnya harus mengalah pada Hana yang memberi syarat jika ingin berkencan dengannya ia harus menonton film horor yang baru keluar sekitar satu bulan yang lalu.
Sepanjang film di putar Derris terus menutup matanya dan kadang membukanya kembali, karena penasaran dengan alur cerita film tersebut. Derris sengaja memegang tangan Hana dengan alasan ia sangat ketakutan. Hana yang sebenarnya tidak nyaman pada Derris yang terus memegang tangannya akhirnya mengalah karena tidak tega melihat Derris yang mukanya sudah berubah menjadi pucat. Tak hentinya pula Derris berteriak setiap ada adegan yang menampilkan hantu tersebut. Hana menjadi malu dengan tingkah laku Derris. Beberapa orang yang berada di dalam bioskop melirik pada Hana dan Derris dengan kesal. Bahkan sampai ada seorang pria yang usianya kira-kira sekitar tiga puluh tahunan yang memarahi Derris karena membuat tidak fokus menonton. Hana mengusap mukanya dengan kasar, Derris dan Hana lalu meminta maaf pada orang-orang yang duduk di samping, di depan dan belakang mereka dengan senyum kikuk.
"Aku tidak mau menonton denganmu lagi." geram Hana lalu membetulkan posisi duduknya
Derris terkekeh geli. "Siapa coba yang meminta ingin menonton film horor." kata Derris dengan muka di buat polos. "Aku kan sudah bilang, aku tidak bisa menonton film horor. Mereka itu seperti nyata dan akan keluar dari layar dan juga akan menakutiku." lanjutnya dengan nada serius
Hana mendecakan lidah. "Sudah gila. Mana ada yang seperti itu. Dasar payah." gerutu Hana, dan Derris hanya tersenyum lebar.
Setelah film selesai Derris mengajak Hana untuk makan malam. Derris memilih sebuah restoran yang menghidangkan makanan khas italia. Ia tahu Hana sangat menyukai pasta dan restoran ini adalah salah satu restoran terenak yang di rekomendasikan oleh sosial media.
Sesudah makan Derris berniat mengajak Hana ke sebuah toko eskrim yang cukup terkenal. Namun Hana menolaknya, dengan alasan sudah malam dan Hana pun sudah lelah karena tenaganya sudah terkuras habis saat di bioskop tadi. Derris melirik sekilas jam tangannya. Ia pun mendesah dan menuruti Hana. Mereka pun akhirnya keluar dari restoran setelah membayar tagihan.
"Derris," teriak seseorang dari arah belakang. Derris dan Hana pun berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Dari jarak satu meter Rian dan Romi menghampiri Derris dengan senyuman yang lebar. Lalu mereka beralih melihat Hana yang kini berada di samping Derris.
"Wah malam mingguan." goda Romi. Derris hanya tersenyum bangga.
"Kau sedang merayakan hari ul.."
Derris berjalan ke arah Rian lalu menutup mulut Rian dengan kasar.
"Ssttt diam." bisik Derris, Rian menggangguk kecil. Romi yang penasaran dengan tingkah laku kedua temannya lalu bertanya dengan isyarat mata. Namun baik Derris maupun Rian tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan Romi.
"Ayo sayang kita pulang. Sepertinya mereka mau melanjutkan malam minggu mereka berdua. Dah." ajak Derris lalu menarik tangan Hana dengan pelan untuk segera meninggalkan kedua temanya. Hana yang di tarik tangannya dengan tiba-tiba hanya menurut tanpa protes.
"Ada apa sih?" tanya Romi penasaran melihat tingkah laku Derris yang aneh.
Rian masih menatap kedua orang yang kini sedang berjalan ke pintu keluar mal. Rian menggelengkan kepala. "Dasar bocah." gerutu Rian.
"Iya memang, makanya cepet kasih tau." kata Romi tak sabar.
"Udah-udah yuk cabut keburu telat." kata Rian lalu berjalan meninggalkan Romi yang sedang kebingungan.
***
Hana dan Derris berjalan pelan ke arah rumah Hana. Derris berniat untuk mengantar Hana sampai di depan rumahnya, karena hari sudah malam jadi Derris khawatir terjadi sesuatu kepada Hana.
Derris menghentikan langkahnya. "Hana." panggil Derris pelan.
Hana pun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Derris. "Hmm." gumam Hana.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Derris ragu sambil menautkan jemarinya.
"Apa?" Hana balik bertanya dengan curiga.
Derris tersenyum. "Aku ingin minta di peluk." kata Derris dengan malu.
Hana melongo beberapa detik lalu tanpa sadar ia telah melotot dengan horor ke arah Derris.
"Tunggu maksudku..."
Hana mundur beberapa langkah. "Dasar mesum." pekik Hana.
"m***m? Tunggu Hana maksudku bukan seperti aku tidak..Aarrgh" Derris tergagap dan kata-katanya pun tidak jelas.
Hana bersiap untuk lari, namun Derris langsung menahan tangan Hana. "Aku hanya ingin minta kado pelukan darimu." desah Derris frustrasi.
Hah? Hana untuk kedua kalinya melongo dan tidak menyangka Derris meminta kado. Kado?
Hana memicingkan matanya. "Kamu ulang tahun?" tanya Hana ragu. Dan Derris tersenyum malu dan mengangguk pelan.
"Kenapa tidak bilang? Aku belum menyiapkan kado." Hana tersadar dengan kata kado yang ia ucapkan.
"Hari ini aku anggap sebagai kado dari kamu." kata Derris, "Dan aku ingin minta kado satu lagi darimu." lanjut Derris sambil tersenyum misterius.
Hana memang pernah berpacaran sebelum dengan Derris, namun itu sudah dua tahun yang lalu. Kenangan yang tak pernah ingin di ingat sama sekali. Sekarang ia harus di hadapkan dengan Derris yang meminta pelukan darinya membuat Hana tidak nyaman dan juga risih. Hana sebisa mungkin tidak ingin melakukan skinship saat berpacaran. Setelah bergulat dengan pikirannya Hana menghembuskan nafas pelan.
"Ak.."
Tiba-tiba Derris memeluk Hana dengan lembut dan juga terasa hangat. "Terima kasih. Tahun depan aku ingin meminta lebih." bisik Derris, terdengar nada gurauan dari ucapannya. Hana terdiam kaku dan tak membalas pelukan Derris.
Hanya beberapa detik Derris pun melepas pelukannya dan tersenyum kecil pada Hana. Ia pun menggenggam tangan Hana dan melanjutkan perjalanannya ke rumah Hana.