"Jadi nanti hari sabtu di rumah Sera." kata Arin sambil menghabiskan jus jeruknya. Sera dan Hana mengangguk bersama.
Jam istirahat pertama mereka memilih untuk pergi ke kantin karena Arin terus memaksa Hana dan Sera untuk menemaninya. Hana lebih memilih membeli s**u coklat karena tidak terlalu lapar sedangkan Sera lebih memilih membeli satu porsi siomay dan air mineral.
"Aku tidak menyangka Derris sangat penakut." ucap Sera dan mendapat anggukan dari Arin.
Hana memutar bola matanya. "Maka dari itu aku tidak mau menonton film horor dengannya. Dia selalu mencari kesempatan." jawab Hana kesal.
Sera dan Arin tertawa bersama, di sela tawanya Sera tersedak siomay lalu buru-buru meraih air mineral yang berada di depannya.
"Tapi kau tahu Hana, skinship dalam sebuah hubungan itu wajar." kata Arin serius. "Temanku satu minggu sudah ada yang berciuman."
Kini Hana yang tersedak oleh s**u coklatnya. "Hei!! Sudah gila membicarakan yang seperti itu.." Hana terbatuk-batuk lalu mendelik ke arah Arin.
Arin dan Sera tersenyum misterius ke arah Hana. Terlintas ide jahil dalam otak mereka.
"Ada kejadian yang tidak kamu ceritakan bukan waktu menjenguk Derris?" tanya Sera penasaran.
Hana melotot pada Sera. "Jangan mulai deh."
Sera tersenyum lebar. "Bagaimana kalo kamu kesana lagi dengan alasan mau memberikan makanan atau apapun pada Derris." kata Sera.
"Iya. Terus disana atur suasana romantis agar bisa mendapatkan waktu yang pas untuk melakukan..." Arin memanjukan bibirnya beberapa senti lalu mengedipkan sebelah matanya.
Hana yang mengerti arah pembicaraan mereka lalu bangkit berdiri. "Dasar gila, otak kalian berdua sudah rusak." sungut Hana lalu pergi meninggalkan Sera dan Arin yang kini tertawa kencang dan mendapat tatapan dari beberapa siswa yang berada di kantin.
Hana baru sampai di kelasnya, Hana lalu berjalan ke arah tempat duduknya. Ia mendapati Derris yang sedang mengobrol dengan teman SMP-nya yang kini sekelas dengan Hana. Beberapa kali Derris terlihat tersenyum mendengar obrolan dari temannya. Obrolan mereka terhenti ketika Derris menengok pada Hana. Derris pamitan pada teman-temannya lalu menghampiri Hana yang kini sudah duduk di bangkunya.
Derris tersenyum kecil lalu duduk di sebelah Hana dan menyodorkan s**u coklat pada Hana.
"Aku sudah beli." ucap Hana pada Derris yang kini memajukan beberapa senti bibirnya. "Iya aku ambil." Hana lalu mengambil s**u coklat itu dan menyimpannya di laci.
Lalu setelah itu Derris berbicara panjang lebar mengusulkan untuk liburan bersama saat tahun baru dan mengajak teman-teman yang lain untuk ikut serta. Hana hanya mengiyakan setiap omongan Derris tanpa minat. Hana melirik Derris sekilas lalu kembali lagi memainkan game di ponselnya. Pikirannya malah berkelana kepada percakapan terakhir dengan Sera dan Arin saat di kantin, Ia lalu menggeleng-gelengkan kepala mengenyahkan pikiran bodohnya.
"Hana...Hana." panggil Derris sambil menyentuh lengan Hana. Hana menengok ke arah Derris dengan muka yang bersemu merah. "kamu sakit? Muka kamu merah." tanya Derris lalu menyentuh kening Hana yang hangat.
Hana menepis tangan Derris. "Aku ngga sakit. Sana kamu kembali ke kelasmu saja." usir Hana lalu mendorong Derris dengan pelan.
"Tap.."
"Udah aku ngga sakit. Sana pergi." sela Hana.
Derris menatap Hana dengan curiga, "Baiklah aku pergi. Kabari aku kalau terjadi sesuatu." Derris lalu bangkit dan berjalan keluar dari kelas Hana.
Sera dan Arin memasuki kelas dan menghampiri Hana yang sedang duduk memainkan ponselnya.
"Tumben Derris ngga ada." kata Sera heran.
"Dia baru saja pergi." jawab Hana acuh. Sera hanya mengangguk kecil lalu duduk di sebelah Hana.
***
Sabtu siang Hana telah bersiap untuk pergi ke rumah Sera. Ia merapikan rambutnya untuk yang terakhir kali sebelum turun ke bawah untuk pamitan kepada ibunya.
Hana tidak menemukan ibunya yang selalu berada di ruang televisi saat siang hari. Ia pun berjalan ke arah dapur untuk mencari ibunya.
Ibunya terlihat sedang sibuk memasukan beberapa makanan ke dalam kantong plastik putih. Ibu melirik Hana yang kini sudah berada di depannya.
Ibu tersenyum, "Ini ada sedikit oleh-oleh dari ayah sehabis pulang dari luar kota kemarin. Berikan pada Sera." ibu menyerahkan satu kantong plastik yang berukuran sedang pada Hana. Hana mengangguk kecil lalu mencium tangan ibunya dan membalikan badan untuk bergegas pergi. "Hana." panggil ibunya. Hana seketika membalikkan badannya.
"Hmm." gumam Hana.
"Kamu tidak pergi dengan pacarmu?" tanya ibunya dengan senyuman jahil.
"Aku tidak punya pacar ibu." jawab Hana langsung membuat ibunya tambah curiga. "ak.."
"Kak Hana jelas-jelas sudah ketahuan tapi masih aja bohong." sela Sena yang baru datang dari arah ruang televisi lalu mengambil minuman dari dalam kulkas dan meminumnya. Sena melirik sekilas ke arah Hana dan mendapat tatapan tajam dari Hana.
Hana menarik nafas pelan, merasa akan memakan waktu yang lama jika Hana meladeni Sena dan ibunya Hana memutuskan untuk pergi dan tak menghiraukan Sena yang terus menggodanya. "Sepertinya lebih baik aku pergi." Sena dan ibunya hanya tergelak melihat tingkah laku Hana.
Hana baru saja akan menutup pagar rumah, ponselnya bergetar. Ia lalu merogoh mencari ponselnya yang berada di dalam tas gendongnya dan melihat nama Derris yang tertera.
"Halo." kata Hana.
"Kamu sudah berangkat?" tanya Derris di seberang sana.
"Belum. kenapa?"
"Aku bosan, boleh aku ikut denganmu?"
Hana diam sejenak menimbang-nimbang apakah lebih baik mengajak Derris atau tidak. Sepertinya, "Tidak." tolak Hana mentah-mentah.
"Ayolah. Aku janji tidak akan mengganggu." bujuk Derris di seberang sana. "dan aku bisa menjadi bodyguard-mu selama di perjalanan."
Hana tertawa mengejek Derris. "Kau jadi bodyguard? Ke rumah hantu saja kamu teriak-teriak seperti pengecut."
Bukannya marah Derris malah terkekeh geli mendengar ejekan dari Hana. "Sebenarnya aku hanya berpura-pura Hana. Aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan agar bisa memelukmu." kilah Derris.
Hana mendengus. "Ya ya terserah. Yang jelas kamu tidak boleh ikut." Hana lalu memutuskan telepon lalu berjalan menuju halte.
Arin telah sampai terlebih dahulu di rumah Sera. Saat memasuki rumah Sera, Arin sedang sibuk memainkan ponselnya dan memakan keripik singkong di dalam toples yang berada di atas meja. Arin mendongak ketika Hana duduk di sofa di seberang Arin.
"Dari tadi?" tanya Hana lalu menyimpan tas gendongnya di sebelah Hana.
"Baru lima menitan kok, ayo kita mulai." ajak Arin.
Mereka bertiga sedang mengerjakan tugas kelompok untuk persentasi minggu depan. Tugas ini di peruntukan untuk empat orang, namun Niken yang sedang berhalangan hadir saat kerja kelompok di tugaskan untuk mengedit dan juga presentasi di depan bersama Arin.
Mereka tengah sibuk dengan pembagian tugas yang telah di berikan oleh Arin. Hana mencari semua bahan yang di perlukan dari buku-buku yang telah di pinjamnya di perpustakaan sekolah kemarin. Sedangkan Arin dan Sera tengah sibuk mencari bahan dari internet. Dua jam lamanya akhirnya tugas itu selesai, Arin kemudian mengirim tugas itu pada Niken lewat email.
"Akhirnya beres juga." Sera merentangkan tangannya yang pegal karena selama satu jam mengetik di laptop. "Mau ngapain lagi nih?" tanya Sera.
"Aku sangat lapar." keluh Arin sambil mengusap perutnya. "Gimana kalo kita pesan makanan aja?" tawar Arin.
"Baiklah. Kita menurut saja pada ketua kelompok." kata Hana, Arin hanya terkekeh geli.
Sera lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu memesan makanan.
"Ngomong-ngomong ada yang aneh engga sih dengan Niken?" kata Sera menarik perhatian kedua temannya yang kini sedang menonton televisi.
"Aneh gimana?" tanya Hana tanpa minat dan tetap menonton televisi yang kini menayangkan acara memasak.
"Ya setiap Derris datang ke kelas untuk menemui Hana dia selalu memperhatikan Derris." kata Sera dengan wajah yang di pasang super serius.
"Ya karena mereka satu SMP. Udah jangan gosip." jawab Arin.
"Ini beda. Jelas-jelas dia terlihat tertarik dengan Derris. Kalian harus perhatikan nanti jika Derris datang ke kelas kita." kata Sera langsung bangkit dan berjalan ke arah dapur.
"Jangan di pikirkan Hana. Sera memang seperti itu." kata Arin menenangkan. "mungkin itu hanya perasaannya saja." Arin berjalan ke sofa yang di duduki Hana dan menepuk bahu Hana pelan.
Hana hanya tersenyum kecil. "Semua orang bebas bukan untuk menyukai siapapun. Lagi pula katanya Niken yang menyukai Derris, bukan sebaliknya." Hana diam sejenak. "kalo mereka saling suka, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Hana mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Derris yang malang." di ikuti dengan gelak tawa Arin yang kencang. "aku percaya Derris akan setia padamu Hana." Hana memilih diam tidak menjawab.
Sera datang kembali ke ruang televisi sambil membawa nampan dengan berisi tiga gelas jus jeruk. Mereka bertiga akhirnya menonton televisi dengan acara memasak sambil menunggu pesanan makanan datang. Tidak sampai tiga puluh menit, bel rumah Sera berbunyi. Sera langsung berdiri dan membuka pintu rumahnya. Makanan sudah tiba, Arin langsung menyerbu makanan tersebut. Hana dan Sera mengikutinya.
"Jadi sudah kamu lakukan ide untuk melakukan skinship dengan Derris?" tanya Sera di sela-sela obrolan santai mereka.
Hana hampir tersedak minuman yang baru saja akan di minumnya. "Gila. Sempet-sempetnya ngomongin yang begituan." Sera dan Arin terkekeh.
"Lagipula hubunganmu sudah tiga bulan lebih dengan Derris, jadi kukira sudah saatnya." kata Sera dengan senyuman yang lebar sambil meraih jus jeruk yang berada di hadapannya.
Hana memutar bola matanya dengan kesal. "Jangan banyak bicara cepat habiskan makanannya." Arin dan Sera masih terkekeh geli melihat Hana yang wajahnya kini bersemu merah.