Derris merasakan sentuhan lembut pada pipinya. Tidur yang belum sepenuhnya terlelap membuatnya ingin membuka mata dan melihat siapa yang sedang menyentuh pipinya. Ia membuka mata perlahan dan langsung melihat mata Hana yang terlihat sedih. Sedih? Sungguh benarkan penglihatannya ini setelah melakukan operasi usus buntu? Atau dirinya sedang bermimpi? "Maaf aku membangunkanmu." ucap Hana pelan. Oh ternyata bukan mimpi, karena ia dapat mendengar suara Hana sangat jelas dan nyata. "Kenapa kamu disini?" bodoh mengapa dari sekian banyaknya pertanyaan yang bisa ia tanyakan, malah tiga kata itu yang keluar dari mulutnya. Hana menarik lengannya dan terlihat sedikit gugup. "Aku ingin melihat kondisimu. Aku sangat khawatir." Wajah Hana terlihat sedih kembali dan sepertinya mata Hana mulai berkaca

