Hana sedang sarapan bersama ayah, ibunya dan Sena. Setelah ayah Hana selesai sarapan, beliau langsung bergegas ke halaman depan rumah untuk meminum kopi dan membaca koran.
"Hari ini kamu jadi tahun baru diluar?" tanya ibunya sambil memasukkan suapan roti terakhir ke dalam mulutnya.
Hana mengangguk. "Iya jadi bu." jawab Hana.
Ibu mengangguk-nganggukkan kepala lalu beralih pada Sena. "Mungkin ibu dan ayah juga akan pulang malam." ucap ibu lalu beralih melihat Hana. "nanti kalian berdua jangan pulang terlalu malam. Dan selalu berhati-hati." pesan ibunya mengingatkan.
"Siap bos." sahut Hana dan Sena bersamaan lalu melanjutkan kembali sarapan.
Menjelang tengah hari Hana mengantuk dan merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ia melirik jam di ponselnya dan merasa masih ada waktu untuknya tidur sebentar.
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup kencang diluar kamarnya. Hana menggeliat lalu menengok ke arah jendela kamarnya. Ia langsung terduduk di tempat tidurnya melihat langit yang kini telah berubah warna menjadi gelap.
"Kak Hana ini ada telepon dari kak Sera." teriak Sena diluar kamar Hana.
Hana baru tersadar sepenuhnya ketika Sena mengetuk kembali pintu kamarnya dengan tidak sabar. Hana lalu meraih ponselnya dan melihat kini ponselnya telah mati.
"Ah sial." umpat Hana lalu berjalan ke arah pintu kamarnya lalu membukanya.
Ketika Hana membuka pintu, Sena telah berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.
"Kebo banget." ejek Sena lalu menyerahkan ponselnya pada Hana. "jangan lama-lama sebentar lagi aku akan berangkat." kata Sena lalu berjalan ke arah kamarnya yang bersebelahan dengan Hana.
Hana mendengus kesal lalu menempelkan ponsel Sena ke telinganya. "Iya Sera?" tanya Hana. Hana otomatis menjauhkan ponsel dari telinganya, dari seberang sana terdengar suara musik yang sangat kencang. "lagi dimana sih berisik banget?" tanya Hana kesal setelah menempelkan kembali ponsel tersebut tetapi tidak sampai menempel pada telinganya.
"Kamu dimana? Sudah berangkat dengan Derris?" sepertinya Sera sudah menjauh dari keramaian, karena kini hanya sayup-sayup suara musik yang terdengar.
Hana terdiam sejenak. "Eeh aku baru bangun tidur." gagap Hana. "aku akan bersiap-siap dulu. Sampai jumpa Sera."
Hana lalu mematikan sambungannya lalu berjalan ke kamar Sena dan mengembalikan ponselnya. Ia langsung berjalan ke kamarnya untuk mengambil handuk dan bersiap untuk mandi ke lantai bawah.
Kini Hana telah siap. Ia menyalakan ponselnya yang baru terisi setengahnya. Hana langsung menekan beberapa angka dan menunggu sambungan tersambung.
"Halo Derris." ucap Hana pelan.
Tanpa sadar Derris langsung memberondong Hana dengan banyak pertanyaan. Karena sejak siang Hana tidak menjawab semua panggilannya.
"Baiklah maafkan aku." kata Hana di akhir rentetan perkataan Derris. "aku akan menunggumu di halte sekitar sepuluh menit lagi. Jadi bersiap-siaplah dari sekarang." perintah Hana dan langsung mematikan sambungan.
Hana berjalan keluar dari rumahnya dan tak lupa mengunci pintu dan juga pagar rumahnya. Hari ini semua orang di rumah Hana mengadakan acara pergantian tahun masing-masing diluar. Ayah dan ibunya pergi ke reunian bersama teman sekolahnya, yang kebetulan mereka satu sekolah saat remaja dulu. Sedangkan Sena menginap di rumah temannya.
Hana berjalan cepat menuju halte, namun ternyata disana kosong dan Derris pun belum sampai disana. Hana sudah menunggu sepuluh menit namun tanda kehadiran Derris belum terlihat. Ia lalu mencari ponselnya di dalam tas tangannya. Lalu menekan nomor Derris. Pada deringan ketiga barulah Derris mengangkatnya.
"Halo. Kamu sudah berangkat?" tanya Hana.
"Sudah, tunggu sebentar lagi." jawab Derris lalu mematikan sambungan telepon, karena kini Derris hanya beberapa langkah dari tempat Hana duduk. "ayo berangkat." ajak Derris lalu memberhentikan sebuah taxi.
Macetnya jalanan membuat Derris dan Hana terpaksa datang sedikit terlambat dari waktu yang di tentukan. Mereka berhenti di sebuah rumah yang berukuran cukup besar dengan halaman rumahnya yang sangat luas.
Ketika mereka memasuki gerbang besi besar berwarna hitam. Disana mereka telah di suguhkan pemandangan taman yang indah yang telah di sulap sebagai tempat pesta. Terdapat lima meja berukuran sedang yang di atasnya telah tersaji aneka macam makanan dan juga berbagai macam minuman.
Hana memandang sekeliling mencari sosok Sera yang tidak terlihat. Hana lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sera.
Derris pun melakukan hal sama seperti yang di lakukan Hana memandang dan memperhatikan sekeliling tempat tersebut. Hana lalu memegang tangan Derris dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka lebar.
Di dalam rumah pun tak kalah ramai seperti di halaman. Terdapat live musik dan juga sofa-sofa besar. Di dalam ruangan tersebut pun sama terdapat meja-meja kecil yang penuh dengan makanan dan minuman. Sera melambaikan tangannya pada Hana yang kini sedang berdiri di ambang pintu bersama Derris.
Sera berjalan menghampiri Hana. "Ayo duduk disana." ajak Sera setelah sampai di ambang pintu. Hana mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti Sera berjalan ke arah sofa yang tadi di dudukinya.
Hana dan Derris duduk di seberang Sera. Mereka lalu berkenalan dengan pacar Sera dan beberapa temannya yang kini duduk bersama mereka berdua.
Sera meminta izin pada Derris untuk meminjam Hana sebentar untuk mengambilkan minuman. Derris duduk di antara orang-orang yang baru saja di kenalnya, tentu saja ia hanya diam karena tidak mengerti pembicaraan apa yang sedang anak kuliahan ini bicarakan.
Derris mengalihkan pandangannya menuju live musik yang berada di pojok ruangan. Sayup-sayup terdengar suara lelaki dari sofa belakang ada yang sedang membicarakan Hana dan berniat untuk mengajaknya berkenalan. Derris melirik sekilas dan melihat lelaki itu kini tengah menghampiri Hana yang sedang mengambil minuman di dekat live musik.
Dari jauh Derris terus memperhatikan Hana. Terlihat Hana tidak menanggapi lelaki tersebut dan malah membuang muka dan pura-pura langsung melihat ke panggung live musik. Hanya Sera yang terus tersenyum menanggapi lelaki tersebut.
Derris tersenyum simpul. "Benar-benar Hana yang kukenal." gumam Derris.
Lelaki itu terus mengikuti Hana dan Sera yang kini sedang berjalan ke arah meja lain. Lelaki itu mencoba terus mengajak Hana berbicara lalu memegang tangan Hana. Hana lalu menatap tajam lelaki itu dan entah apa yang Hana katakan. Lelaki itu tiba-tiba mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei." panggil Bima pada Derris.
Derris menengok pada Bima. "Iya?" jawab Derris bingung.
"Lebih baik kamu keluar mencari kesenangan kamu sendiri. Para gadis itu.." tunjuk Bima pada Hana dan Sera. "sedang bersenang-senang. Jadi ke halaman saja cari wanita lain." bisik Bima sambil tersenyum simpul.
Derris membalikkan badannya lalu melihat Hana kembali yang sedang tertawa bersama Sera.
"Tadi kamu lihat bukan mereka juga sedang bersama pria lain. Apalagi pacarmu terlihat pendiam tapi sepertinya yang paling banyak menyimpan lelaki." ejek Bima.
"Jaga bicaramu." Derris lalu menarik kerah baju Bima, amarahnya tak bisa di tahan. Namun Bima hanya tersenyum mengejek.
"Coba pukul." tantang Bima.
Derris melepaskan kerah baju Bima dengan kasar. Ia sadar dirinya bisa menjadi pusat perhatian jika memukul Bima. Akhirnya Derris memgalah lalu bangkit dan menghampiri Hana.
"Kita pergi dari sini." perintah Derris.
Hana mengernyit. "Kita baru sampai. Tunggu sebentar lagi." jawab Hana.
"Kalau begitu aku pulang duluan." ucap Derris dingin lalu meninggalkan Hana dan Sera yang kini sedang melihat punggung Derris yang berjalan menjauh.
Hana terpaku melihat sifat Derris yang berubah secara tiba-tiba. Kini Derris sudah tidak terlihat dari pandangannya. Sera lalu menepuk bahu Hana perlahan.
"Kamu harus kejar Derris." usul Sera.
"Tapi pestanya.."
"Tidak usah di pikirkan, cepat kejar Derris sebelum dia jauh." Sera lalu mendorong tangan Hana pelan sambil tersenyum.
Hana menggangguk lalu berjalan cepat keluar dari ruangan pesta. Hana sudah hampir sampai di gerbang, kini sosok Derris terlihat sedang menunggu taxi.
"Derris." teriak Hana.
Derris tidak membalikkan badannya, Hana lalu mendekati Derris yang terlihat kesal.
"Ada apa?" tanya Hana pelan.
Derris tetap diam membisu dan menatap jalanan di depannya yang cukup sepi.
"Baiklah kalo kamu tidak mau bicara, aku akan pergi ke dalam lagi kalo begitu." goda Hana lalu berjalan mundur perlahan sambil melihat reaksi Derris.
"Tunggu." gumam Derris lalu membalikkan badannya pada Hana. "jangan kembali kesana. Aku sudah lelah berada satu ruangan dengan pacar Sera." keluh Derris.
Hana melihat raut wajah Derris yang sedang menahan amarah. Berbeda sekali dengan biasanya yang selalu ceria.
"Aku tadi lihat kamu menarik kerah baju pacar Sera. Sebenarnya ada apa?" tanya Hana penasaran.
Derris terdiam kembali beberapa saat lalu mendesah. "Dia sangat menyebalkan." adu Derris.
"Kamu juga sama bukan?" ledek Hana sambil tersenyum kecil.
Derris memajukan beberapa senti bibirnya dan membalikkan badannya bersiap untuk pergi. Hana seketika langsung berjalan dan otomatis meraih tangan Derris.
"Kamu pemarah sekali." kata Hana. "baiklah kita pergi dari sini." ajak Hana lalu melepaskan tangannya.
Derris tersenyum lebar lalu merangkul bahu Hana, Hana langsung menyiku tulang rusuk Derris dengan cukup keras. Derris lalu melepas rangkulannya dan mengaduh kesakitan.
"Lepas." geram Hana.
"Huh!! Padahal tadi sudah baik, sekarang berubah jadi jahat lagi." gerutu Derris dan Hana hanya tersenyum simpul.
Hana lalu memberhentikan sebuah taxi dan memasukinya bersama Derris. Taxi tersebut menembus jalanan yang cukup macet. Tempat yang Derris tunjukan membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai kesana. Namun karena turun hujan yang cukup lebat, rencana awal di batalkan dan langsung menjalankan rencana kedua.
Taxi tersebut berhenti di sebuah hotel bintang lima. Mereka turun tepat didepan lobby hotel. Hana hanya menurut saat Derris menggenggam tangannya dan masuk ke dalam lobby hotel. Derris berbicara dengan seorang pria yang merupakan seorang manajer hotel. Entah apa yang Derris bicarakan dengan manajer tersebut, namun kini mereka telah menaiki lift dan berhenti di lantai paling atas.
Manajer tersebut tersenyum ramah pada Hana lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Hana curiga lalu menarik tangannya yang sedang di pegang Derris.
Derris hanya tersenyum. "Sudah jangan berpikiran buruk. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam romantis." jawab Derris sambil meraih tangan Hana kembali dan berjalan ke arah pintu besar berwarna coklat.
Pintu itu di buka oleh Derris, hanya ada dua wanita yang berpakaian hitam putih sedang menyambut mereka berdua. Terdapat meja persegi panjang yang berada di dekat kaca besar. yang menampilkan pemandangan kota yang indah. Di atas meja tersebut telah terhidang beberapa makanan yang sangat menggunggah selera.
"Ayo kita makan, lihat air liurmu hampir menetes." goda Derris, Hana lalu mencubit lengan Derris. Dan Derris malah tertawa kecil.
Derris dan Hana duduk bersebelahan di meja sambil melihat pemandangan kota. Lalu mulai mencicipi makanan di atas meja. Kedua wanita yang menyambut mereka keluar dari ruangan meninggalkan Hana dan Derris.
"Aku tidak mengerti, kenapa kita makan harus bersebelahan seperti ini?" tanya Hana di sela-sela makannya. "padahal biasanya makannya kan disana." tunjuk Hana pada kedua ujung meja.
Derris terkekeh. "Dari sekian banyaknya pertanyaan hanya itu yang kamu tanyakan?" Derris balik bertanya.
Hana berdecak kesal pada Derris lalu melanjutkan makannya kembali.
"Karena kalo kita duduk seperti ini kita bisa berdekatan dan bisa saling mengobrol ringan tanpa harus berteriak." Derris terkekeh kembali.
Hana memutar bola matanya. "Ngomong-ngomong apa kamu membawa uang yang banyak?" bisik Hana.
Derris menggeleng lalu memasukkan potongan daging terakhir ke dalam mulutnya.
"Jadi bagaimana membayar semua ini?" tanya Hana panik karena ia pun tidak membawa uang banyak saat pergi dari rumah.
"Tenang saja, semua ini gratis." bisik Derris. "aku mempunyai voucher makan gratis disini." tambah Derris.
Hana terlihat tidak percaya dengan perkataan Derris. Ketika Hana akan membuka mulutnya Derris telah menyelanya.
"Ssttt sudah makan saja sampai kenyang, lalu setelah ini aku akan memberimu kejutan." ujar Derris.
Hana pun hanya mengangguk patuh namun masih merasa takut bahwa Derris sedang membohonginya.
Tak lama setelah mereka selesai makan. Hana dan Derris menatap langit yang terlihat masih menurunkan air hujan. Rencana kembang api pun sepertinya akan gagal seperti rencana pertama yang Derris siapkan.
Hana melirik Derris yang kini terlihat gelisah. Ia terus menatap langit dan Hana secara bergantian.
"Kau membuatku takut." kata Hana.
Derris menengok ke arah Hana lalu tersenyum kecil. "Sepertinya butuh waktu sedikit lama untuk kejutannya tiba." kata Derris.
Derris meraih tangan Hana yang berada di atas meja lalu mengecupnya cukup lama. Derris melepaskan ciumannya pada tangan Hana sambil tersenyum kecil. Derris mendekatkan wajahnya pada Hana dan mengecup bibirnya. Perlahan Hana membuka bibirnya dan Derris langsung melumat dan menikmati bibir Hana.
Hana terpana dengan ciuman Derris yang sangat intim. Derris menarik tangan Hana perlahan menuntunnya agar duduk di atas pangkuannya. Hana hanya menurut tanpa melepaskan ciuman mereka. Hana menggigit kecil lidah Derris dan hanya erangan yang keluar dari mulutnya. Derris menutup matanya dan memperdalam ciumannya pada Hana.
Derris melepaskan ciumannya untuk mengisi oksigen pada paru-parunya, sejenak Hana merasakan matanya gelap. Merasa tidak rela untuk melepas ciuman Derris.
Derris hanya tersenyum simpul melihat muka Hana yang kini bersemu merah. Derris mengecup pipi Hana sekilas dan berbisik. "Coba katakan bahwa kamu menyukaiku?"
Hana terpaku mendengar pertanyaan Derris yang tiba-tiba. Sejujurnya Hana masih bingung dengan perasaannya sendiri. Derris adalah orang yang baik dan Hana merasa nyaman saat berada di dekat Derris. Namun Hana merasa tidak mengerti apakah ini bisa di artikan sebagai suka atau tidak.
Hana turun dari pangkuan Derris dan kembali duduk di kursinya. Ia berpikir sejenak dan Derris hanya tersenyum kecil sambil membelai pipi Hana dengan lembut.
"Tidak usah di jawab sekarang." ucap Derris pelan. "asalkan kamu bahagia di dekatku, itu sudah cukup untukku, Hana." kata Derris tulus.
Hana terdiam tak bisa menjawab, tidak ada kebohongan dari kata-kata Derris. Derris selalu tulus padanya dan selalu memastikan semua akan baik-baik saja jika ia bersamanya.
Derris bangkit dan mengajak Hana untuk pulang karena sepertinya malam ini kejutannya akan gagal karena hujan mulai turun dengan cukup deras
Hana masih duduk di tempatnya dan meraih tangan Derris. Derris menatap Hana dengan bingung.
"Aku suka kamu." cicit Hana.
"Kamu suka aku?" tanpa sadar Derris bertanya dengan nada yang tinggi. Hana mengangguk kecil. "coba katakan lagi." pinta Derris dengan semangat.
Hana melepaskan tangan Derris dan bangkit berdiri. "Aku sudah bilang tadi." bentak Hana dengan muka yang merah padam menahan malu.
"Ayolah sekali lagi, aku ingin mendengarnya." bujuk Derris sambil berusaha melihat wajah Hana yang terus di tutupi oleh kedua tangannya.
"Cepat kita pulang." kata Hana sambil berjalan ke arah pintu besar dan mengipasi wajahnya yang panas.
Derris mengikuti Hana dari belakang dan terus menggodanya tanpa henti. Hana yang merasa sangat malu terus saja memalingkan wajahnya tak ingin bertatapan langsung dengan wajah Derris.
Mobil yang mengantar mereka berdua berhenti tepat di depan rumah Hana. Derris mengucapkan terima kasih sebelum mobil itu pergi meninggalkan mereka berdua. Kini hujan telah berhenti, udara malam pun semakin dingin membuat Hana ingin segera masuk dan menyelimuti tubuhnya.
"Sudah ya aku mau masuk dulu." kata Hana.
Derris mendesah. "Aku masih ingin bersama." rengek Derris. "sekarang masih jam setengah sebelas. Jangan pulang sayang." pinta Derris.
"Siapa dia menyuruhmu tidak boleh pulang?" terdengar suara wanita di belakang Derris. Derris langsung membalikan badannya. Dan kini di hadapannya ada wanita yang rupanya hampir serupa dengan Hana namun dengan versi yang lebih berumur.
"Ibu sudah pulang?" tanya Hana.
Ibu mengangguk kecil. "Siapa dia?" tanya Ibu Hana.
"Oh euh dia eh pacarku," jawab Hana gagap.
Derris tersenyum ramah, "Selamat malam ibu." kata Derris sopan.
"Aku bukan ibumu." jawab ibu Hana datar. Derris diam terpaku mendengar jawaban ibu Hana yang sangat dingin.