Part 20. Story 5

921 Kata
What? Beberapa hari Adrian fokus pada pekerjaannya, ditemani Jasmine. Jasmine sangat menghibur Adrian, memasakkan makan siang, menemani Adrian, menghabiskan hari bersama. Adrian bisa melupakan sejenak masalah pribadinya. Jasmine memberikan warna yang berbeda. Drrrrt, drrrrt, Hp Adrian berdering. 'Fene.' "Dri, 1 jam lagi take off, jemput yah." Pinta Fene manja, tidak bisa Adrian menolak. "Ya." Adrian meletakan hpnya, meminta Jasmine bersiap-siap. "Kita kebandara." tegas Adrian. "Hmm, tapi pak, kerjaan." gugup Jasmine. "Pak lagi! beib, Jasmine." "Iiiigh, bapak aneh." "Apa saya tua banget dimata kamu?" Jasmine terkekeh. "Iya beib bos." Merasakan nggak nyaman menyebutkan kata, 'beib'. Adrian menggengam jemari Jasmine, melangkah menuju parkir. "Bapak, bapak jalannya buru-buru banget." sesaknya. "1 jam lagi Fene dan Bram tiba, saya tidak mau mereka lama menunggu." jawab Adrian. "Apaa pak? bu Fene?" Langkah Jasmine terhenti, memikirkan Fene akan marah jika Jasmine bersama Adrian, kemudian memecatnya. "Saya nggak jadi ikut pak." Jasmine membalikkan tubuhnya. Adrian kesal, tanpa menunggu lagi Adrian menggendong tubuh sintal itu segera masuk kedalam mobil. "Bapak, saya nggak jadi ikut." katanya takut. Adrian menyalakan mobilnya, berlalu tanpa menghiraukan racauannya. "Jika saya dipecat bu Fene gimana pak? saya disini sendiri, nanti nggak ada yang bantu saya, keluarga juga nggak ada." sungutnya. "Diam! saya lagi nyetir." Adrian menggenggam erat jemari Jasmine agar tenang selama perjalanan. Jasmine menunduk, kawatir akan dipecat. Fene, Holi dan Bram.... "Haiii, I miss you." Peluk Fene hangat. "I miss you too." Adrian membalas pelukan Fene erat. "Kevin mana?" Adrian menatap Holi. "Udah deluan ke Paris." Fene berjalan beriringan menuju mobil Adrian. "Adik lo kenapa nguntil?" bisik Adrian. "Iya, Holi mau nemenin gue, lusa dia ke New york." tambah Fene. "Mobil lo kecil amat Dri, mana cukup buat kita." Fene kesal. "Udah gue kondisiin, lo ama sopir, gue bareng Jasmine, nanti gue ke apartemen Bram." tegas Adrian. "Oke, gue tunggu dirumah Dri." Peluk Bram, menuju mobil. Fene melihat Adrian dan Jasmine, 'hmm, kedekatan nggak biasa. Adrian bukain pintu mobil Jasmine, hmmmm.' Fene mengangkat bahunya. Selesai jam kantor, Adrian dan Jasmine menghampiri apartemen Bram. Adrian menekan bel agar lift terbuka. Bram menekan password menyambut Adrian. Adrian masih menggengam Jasmine, memasuki lift menuju rumah baru Bram dan Fene. "Halooo." Peluk Fene pada Adrian. Adrian menarik nafas dalam. "Holi nginap dihotel?" Adrian penasaran. "Diaprtemen gue, dia nggak mau gangguin gue, takut terkontraminasi." Gelak Fene, menatap Jasmine berada takut dibalik tubuh Adrian. "Hmm, secretaris lo jadi buntut?" Fene tersenyum melirik Jasmine. "Nggak, Jasmine pacar gue." Adrian menuju sofa, menggandeng Jasmine meninggalkan Fene dan Bram melongo mendengar pernyataan Adrian. "What, you kidding me?" tanya Bram. Fene menghampiri, kemudian menarik tangan Adrian, meninggalkan Jasmine sendiri. "Wait yah Jasmine, saya mau ngobrol sebentar." sarkas Fene, disusul Bram. "Lo serius, pacaran sama dia, Dri? lo tau dia itu wanita lugu, lo macem-macem gue buang dari gedung ini." kesal Fene. "Trus, gue mesti pacaran ama adik lo, kalau ngomong suka-suka dia, ogah gue." Adrian meninggalkan Fene, ditarik kembali oleh Bram. "Gue serius Adrian Moreno Lim!" Fene menatap Bram. "Gue serius." Adrian menatap mata Fene dan Bram melekatkan sisi wajahnya. "Lo cinta?" Fene penasaran. "Setidaknya dia cewek indo membuat gue nyaman, daaaah, kasihan dia ditinggal sendiri." Adrian menuju ruangan memeluk pinggang Jasmine. "What." Fene masih belum percaya, mengikuti Adrian duduk disamping Jasmine. Bram geleng kepala. "Eheeem, Jasmine, kamu jawab jujur!" Fene menghela nafas panjang melanjutkan pertanyaannya. "Kamu pacaran sama Adrian?" tanya Fene serius. "Eeeeee." melirik Adrian masih menggenggam erat jemarinya. "jawab saya Jasmine." Mata Fene melirik Bram. "Iya bu, saya mohon, jangan pecat saya, saya terpaksa menerima bapak, saya bingung bapak ngajakin saya pacaran, sementara saya nggak pernah pacaran, jadi saya jalani aja, kalau ibu marah, saya akan putuskan bapak." mengalihkan tangannya kekedua jemari Fene. "Hmm, bukan begitu maksud saya." Fene tersenyum. "Enak aja putus, kamu pikir aku mau diputusin." Adrian menatap Jasmine. "Huussh, diam." Mata Fene membesar menatap Adrian. "Maksud saya, kamu emang cinta sama Adrian?" lanjut Fene. "Lo kepo banget seh." kesal Adrian. "Gue bukan kepo, gue nggak mau karyawan gue loe kerjain." Fene melotot. "Emang dia bukan karyawan gue?" jawab Adrian nyolot. "Adrian, gue pengen kita lebih terbuka, gue nggak mau Jasmine lo jadiin tempat pelarian." jelas Fene. "Fene Lincoln, gue nggak berniat mempermainkan dia, apalagi menjadikan dia tempat pelarian, gue rasa gue cocok, dia peduli sama gue, peduli sama kerjaan gue, peduli sama perasaa gue, emang salah gue nyaman sama wanita baik kayak dia?" Adrian kesal. Jasmine menelan salivanya, bingung. "Tapi!" Fene menatap Bram merengek. "Hmmm, gue jalanin dulu, gue mau, kemana gue pergi Jasmine ikut." Pinta Adrian. "Maka dari itu, apa daddy nggak keberatan sayang?" "Daddy tidak pernah mempermasalahkan, daddy ingin kita semua bahagia." jelas Bram. "Tapi!!" rengek Fene. "Apa lagi seeh, lo cemburu? kok lo yang greget." kesal Adrian. "Bukan begitu dri, ngapain gue cemburu, apa Jasmine siap, dengan tantangan kita." "Nah gue ngerti maksud Fene, Jasmine, apa kamu pernah begitu dengan Adrian?" tanya Bram. "Hmmm." Jasmine kembali menelan salivanya menatap Adrian kemudian Bram. "Belum pak, kami hanya tidur biasa." Jasmine tertunduk. Fene menutup mulutnya tak percaya akan kenekatan Adrian. "Hmmm, m***m aja otak lo, gue tidur diapartmennya, gue disofa, dia dikamar. Gue males balik, Veni nungguin mulu didepan lift." jelas Adrian nyolot. "Oooogh, gue pikir, lo udah sejauh pikiran gue, habis tu lo tinggalin dia ke Swiss." kesal Fene. "Maksud lo! Tour besok kamu ikut beib." Adrian tersenyum merebahkan kepalanya dibahu Jasmine. "Hm, emang mau kemana bu?" tanya Jasmine kaku. Fene tersenyum, "kita akan keliling eropa." "Saya nggak punya passpor bu." jawab Jasmine jujur. "Nggak masalah, besok kita urus, minggu depan kita nyusul Kevin ke Paris dan Swedia." Jasmine ingin berteriak, kedekatan dengan Adrian, berhadiah keliling Eropa.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN