“Dari mana, Sayang?” Bayu membawa Nuri kedalam pelukannya. “Jangan peluk-peluk, Bay. Aku bau keringat.” Berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulan sang suami. Bayu tidak menghiraukan perkataan Nuri. Bahkan ia malah mempererat pelukannya. “Tidak apa, aku suka. Hari ini waktuku untukmu,” bisiknya. “Tidak, Bay. Hari ini kamu masih milik Yuna, nanti malam kamu baru milikku.” Nuri meronta. Ia tidak suka dipeluk jika di tubuh Bayu masih melekat aroma parfum Yuna. “Kamu kenapa?” Akhirnya Bayu mengalah dan mengurai pelukannya. “Aku tidak kenapa-kenapa. Hanya saja aku bau keringat, Bay. Aku mau mandi dulu ya. Kamu juga langsung mandi. Aku sudah bikinin sarapan untukmu.” Nuri beranjak dan meraih handuk untuk Bayu. “Sekarang kamu mandi.” “Mandi bersama?” Kedua alis Bayu terangkat. “Tida

