43. Memasak Untuk Gar

1013 Kata
Jika dia mencintaimu, dia akan memperlakukanmu dengan sangat spesial tidak peduli di mana pun ia berada. Karena baginya kamu adalah prioritasnya. ~~~~ "Kenapa kamu lemes kayak gitu?" "Nggak tau ni, Gar. Kepala ku pusing banget, dan nggak ada semangatnya untuk sekolah." Pagi ini seperti biasa, Gar menjemput ku agar kami pergi sekolah bareng. Namun, entah kenapa aku merasa sangat malas untuk ke sekolah, tubuhku juga lemes, dan aku juga masih sedikit takut karena kejadian semalam. "Yasudah kalau gitu kamu enggak usah sekolah, rehat dulu. Sepertinya kamu masih butuh istirahat penuh," ucap Gar. "Enggak, deh, Gar. Sayang banget kalau enggak sekolah." "Rhe, tidak apa-apa kalau hanya libur sekali. Toh, kamu libur karena sakit bukan bolos tanpa alasan," ucap Gar. "Tapi Gar, aku takut kalau nanti ayah nanya lagi gimana?" "Yaudah, tinggal jawab kamu kelelahan dan butuh istirahat. Ayah kamu ngerti, kok." "Tapi kan, kamu sudah kesini." "Sekalipun saya enggak ke rumah kamu, saya pergi sekolah juga lewat dari sini Rhe, bedanya kalau ke sekolah saya lurus saja tidak perlu masuk lorong lagi." Aku tersenyum, Gar selalu memiliki penjelasan di setiap pertanyaan ku, sehingga membuatku yang tadinya merasa tidak enak kini malah biasa saja. "Tapi sayang juga Gar, aku udah siap-siap gini." "Sudah, enggak usah banyak alasan. Ini hari terakhir pakai baju putih, kan? Besok sudah pakai baju batik. Nah, kamu masuk lagi ke rumah, terus ke kamar, dan langsung rebahan. Jangan lupa minum air putih yang banyak, jangan main ponsel terus karena itu juga melelahkan. Oke?" "Gar—" "Sudah. Masuk sekarang." Gar mendorong ku masuk ke rumah, lalu menutup pintu rumahku. "Saya pergi ya, Rhe. Pulang sekolah saya langsung ke sini. Assalamualaikum." Lalu Gar menyalakan motornya dan berlalu meninggalkanku. Aku hanya terkekeh melihat tingkah laku Gar, dia adalah lelaki yang bijak dan selalu tahu apa yang terbaik untuk ku. Apalagi aku yang sering kali plin plan dalam memutuskan sesuatu, dan Gar melengkapi kekurangan ku itu. "Loh, Rhea, kenapa masuk lagi?" tanya ayah ketika melihat ku berjalan masuk ke kamar. "Ayah, hari ini Rhea libur dulu, ya. Entah kenapa badan Rhea lemes banget kaykanya kecapekan, deh." "Oalah, yaudah kalau begitu kamu istirahat aja di kamar." "Iya, Yah. Gar juga tadi bilang gitu." "Oh iya, jadi Gar gimana? Tadi dia udah kesini, kan?" "Iya, tadi dia nyuruh Rhea nggak usah sekolah dulu, jadi dia pergi sendiri, deh." "Kasihan Gar nya Rhea, Gar kan juga pasti kecapekan." Astaga aku sampai lupa kalau Gar juga butuh istirahat, apalagi semalam Gar menghabiskan tenaganya untuk memukul Bima, dia bahkan pulang dari rumah sekitar jam setengah dua belas malam, dan hari ini jam enam pagi dia sudah sampai ke rumah ku. Kasihan Gar, dia pasti sangat kecapekan dan bisa-bisanya aku melupakan itu. "Iya, Yah, Rhea sampai lupa. Kasihan Gar, malah tadi dia bilang pulang sekolah dia mau langsung ke sini." "Yasudah kalau begitu nanti kamu masak untuk Gar, pulang sekolah dia pasti lapar kan." "Oke, ayah." Ayah benar, sebagai tanda terima kasihku, aku harus memasak untuk Gar. Kasihan dia, hari-harinya semakin berat dan aku pun semakin menjadi beban untuknya. Setidaknya jika aku memasak untuknya Gar akan senang dan merasa di hargai. Saat ini aku harus istirahat dulu dan nanti bangun agar langsung memasak untuk Gar. *** "Wah wah, anak ayah sudah belanja banyak ni." Ayah menyambut ku di depan pintu dengan senyum mengejeknya, karena hari ini aku belanja sangat banyak. "Iya, dong ... duh, berat ni, Yah. Rhea langsung ke dapur, ya. Kalau lama-lama takutnya Gar udah pulang." "Iya, sayang. Semangat, ya." Aku mengacungkan jempol dengan semangat, beberapa jam lagi Gar akan datang dan aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini semua. Ketika baru mau mulai memasak, tiba-tiba ponselku bunyi ternyata ada pesan masuk dari Gar. Gar-anteng ❤️ "Rhe, kamu sudah istirahatnya?" Iya, Gar, sudah kok. Bagus. Jelas, dong. Oh iya, Gar, kamu jadi kesini, kan? Jadi, Rhea. Pulang sekolah saya langsung ke rumah kamu. Kamu mau nitip sesuatu? Atau kamu mau makan apa? Tidak ada, Gar. Kamu jangan beli makanan ya, karena aku masak. Loh, kok, kamu masak. Kan seharusnya kamu istirahat. Kan, istirahatnya sudah Gar. Ini juga badan aku udah enakan, kok. Pokoknya kamu jangan beli makanan di luar, ya. Sudah, ya, aku lanjut dulu. Semangat buat kamu ❤️ Setelah mengirim pesan itu aku langsung memasak, sungguh aku sangat semangat karena kali ini aku memasak bukan hanya untuk aku dan ayah saja, tetapi ada Gar— lelaki yang sangat spesial untuk ku. Entah mengapa tiba-tiba aku malah membayangkan jika nanti aku dan Gar menikah, hari-hariku akan ku habiskan dengannya. Memasak untuknya setiap hari, ketika mau tidur wajah Gar yang akan kulihat dan bangun wajahnya juga yang pertama kali kulihat. Sungguh, itu sangat indah aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. *** "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, wah yang di tunggu-tunggu sudah datang, ni." Gar tersenyum malu, lalu menyalim tangan Ayah. "Gar, kamu sudah sholat?" tanyaku. "Sudah, Rhe." "Bagus, deh. Yasudah kamu langsung cuci tangan, ya, makanan udah aku siapin semua." "Kamu beneran masak, Rhe?" "Bener, dong, Gar." "Astaga, saya jadi ngerepotin." "Enggak, lah, Nak Gar. Justru Rhe malah senang masak untuk kamu." "Ih, ayah ..." ucapku yang mendadak jadi malu. "Yasudah, Gar, kamu cuci tangan dulu, ya. Setelah itu kita makan sama-sama." Gar mengangguk lalu langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebentar. Sementara aku dan ayah sudah menunggu di ruang makan. Ketika Gar telah selesai, aku sudah menyiapkan makanan untuknya dan Gar tinggal memakan saja. "Duh, Rhe, jadi ngerepotin, ni." "Hehe, enggak kok, Gar." Setelah itu kami langsung makan. "Wah, enak banget masakan kamu, Rhe." "Biasa aja kayaknya, Gar," ucapku malu padahal jauh di lubuk hati aku sangat senang. "Benar. Kan, Om, masakan Rhe enak banget, kan?" Ayah mengangguk dengan semangat sambil terus menyantap makanannya. "Tuh, kan lihat ayah kamu aja sampai nggak sempat ngomong sangking enaknya." "Biasa aja, ih, Gar." "Benar, Rhe. Kalau begini sudah cocok banget ni jadi calon istri. Kan, Om?" "Cocok banget, ayah dukung seratus persen." Saat itu juga pipiku benar-benar memerah. Ah, bisa-bisanya Gar menggoda ku di depan ayah seperti ini aku kan jadi malu. Tapi jujur aku sangat amat senang mendengar perkataan Gar tadi, aku harap ucapan Gar tadi di aminkan oleh malaikat. Ya, semoga saja. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN