51. Menciptakan Kenangan

1058 Kata
Dia yang khawatir terhadap dirimu, adalah dia yang benar-benar tulus mencintai dan takut kehilangan dirimu. ~~~ "Rhe ..." "Iya, Gar?" aku menatap ke arah Gar sembari memakan sate yang tadi kami beli. "Sepertinya saya akan mengundur keberangkatan ke Kanada." Perkataan Gar berhasil membuatku shock bahkan hampir tersedak. Kenapa tiba-tiba Gar malah mau mengundurkan keberangkatannya, sementara sejak awal ia yang mengatakan bahwa dia tidak bisa mengundurkan keberangkatannya ke Kanada lantaran Disty yang sangat membutuhkan Gar saat ini. "Loh, kenapa Gar? Bukannya kemarin kamu yang bilang nggak bisa undur karena Disty memerlukan kamu." "Sekarang saya berubah pikiran, apalagi setelah kejadian tadi saat Bima menemui kamu tanpa merasa bersalah dan dengan begitu tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan melakukan hal yang sama lagi." Aku terdiam, sebenarnya aku senang karena Gar berniat untuk tidak jadi pergi dan lebih mengkhawatirkan ku, tetapi aku tidak tega ketika mengingat Disty yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangan Gar. Mau bagaimana pun, Disty lebih pantas mendapatkan waktu Gar dari pada aku. "Gar, aku tidak setuju kalau kamu mau mengundurkan keberangkatan kamu hanya karena aku. Gar, Disty lebih butuh kamu dari pada aku." "Tapi Disty ada yang jagain, sementara kamu. Rhe, saya tidak siap untuk mengambil risiko apapun kalau sampai saya meninggalkan kamu." "Gar, bukannya kamu yang bilang kalau aku nggak boleh bergantung sama kamu, aku harus ingat kalau aku masih punya Tuhan yang selalu siap siaga disaat aku lagi butuh pertolongan. Dan kamu juga liat tadi kan kalau aku sudah mulai berani, aku sudah bisa menghilangkan rasa takutku. Tapi kenapa sekarang malah kamu yang jadi takut gini," jelas ku panjang lebar. Gar menghela napas sesaat, tangannya beralih memegang pundak ku, dan matanya menatapku dalam. "Rhe, ini beda situasinya. Kalau tadi persoalannya bukan mengenai Bima, saya bisa melepaskan kamu. Tapi ini Bima, Rhe, orang yang beberapa Minggu yang lalu ingin mencelakai kamu. Dia melakukan itu sadar, dan tidak mungkin dalam hitungan hari dia bisa menyesali perbuatannya dan berubah. Dan, saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi." "Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang kalau Bima tidak akan berani lagi macam-macam dengan ku? Terus kenapa sekarang malah berubah." "Iya, dia tidak akan berani macam-macam kalau saya ada bersama mu, tapi nanti ketika dia tahu kalau kamu tidak bersama saya dia pasti akan mencari celah untuk menyakiti kamu lagi. Demi apapun, saya nggak mau hal itu sampai terjadi." Gar masih berusaha keras mengatakan bahwa ia tidak jadi pergi dan aku pun tidak kalah keras memohon agar dia pergi demi Disty. "Gar, aku yakin di saat kamu pergi nanti Tuhan bakalan ngirim malaikatnya untuk melindungi aku. Kamu enggak usah khawatir, ya," ucapku berusaha untuk meyakinkannya. "Tetap saja Rhe, saya tidak tenang." "Gar—" "Atau gimana kalau kamu ikut saya, gimana?" "Ha? Mana bisa begitu, Gar. Aku disini masih punya ayah, aku masih sekolah, nggak bisa main pergi gitu aja." "Tapi cuma itu satu-satunya cara biar kamu aman, Rhe." "Enggak, Gar. Satu-satunya cara biar aku aman adalah kamu percaya sama aku dan kuasa Tuhan." "Rhe—" "Gar, aku nggak mau dengar lagi bantahan dalam bentuk apapun dari kamu. Intinya besok setelah pulang sekolah kamu harus pergi, ingat Disty butuh kamu. Disty sama denganku Gar, aku tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, dan Disty tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Kamu sebagai kakak laki-lakinya, harus memberikan kasih sayang itu, pengganti sosok ayah di kehidupan Disty," kelasku. Aku bahkan sampai menangis, membayangkan wajah Disty yang sangat bahagia ketika melihat Gar datang menemuinya. "Gar, aku mohon jangan rusak harapan Disty hanya karena aku. Aku masih bisa bertahan dalam keadaan ku seperti ini, tapi Disty, kita bahkan nggak tau apa yang bakalan terjadi sama dia setelah ini." Saat itu juga Gar langsung memelukku erat, ia pun ikut menangis lantaran aku menangis. "Oke, saya akan pergi. Kamu anterin saya ke bandara, ya," ucapnya. Aku mengangguk, walau aku tahu ini berat tapi aku percaya bahwa aku kuat dan sanggup tanpa Gar. *** Pagi ini aku tidak begitu semangat pergi ke sekolah, karena seperti yang kami bicarakan kemarin bahwa hari ini Gar akan berangkat ke Kanada. Selain itu alasanku tidak bersemangat sekolah karena Gar juga tidak masuk hari ini, sebab ia harus menyiapkan semuanya sendirian, padahal awalnya ia berniat untuk sekolah dulu dan setelah pulang sekolah baru berangkat, tetapi ternyata rencananya tidak semulus itu. Kini aku pun berangkat sendirian, seperti biasanya yaitu naik bus. Setelah memastikan semuanya sudah beres, aku langsung pergi karena takut tertinggal bus dan jika menunggu bus lain datang bisa-bisa aku terlambat. Namun baru saja beberapa langkah aku keluar dari rumah, tiba-tiba sebuah motor yang sangat aku kenali muncul dari ujung jalan, dengan pengemudi yang sama namun bedanya kali ini ia datang dengan menggunakan kaos oblong dan celana bokser selutut. "Selamat pagi, Rhe," sapanya sambil nyengir kuda. "Astaga, Gar, kamu ngapain kesini? Katanya mau siapin semuanya," ucapku setengah kaget namun merasa sedikit lucu. "Mau ngantar kamu ke sekolah," jawabnya polos. "Lah, ngapain? Kan aku bisa naik bus." "Enggak, Rhe, kamu lebih aman kalau saya antar." "Tapi, Gar—" "Udah jangan banyak protes, sekarang naik biar kita langsung berangkat." Aku terkekeh melihatnya, dan seperti kemauannya akhirnya aku naik ke Vespa orange yang selama ini selalu setia mengantar ku sekolah. Sebelum naik aku mencubit pinggang Gar sedikit karena gemas melihat ulahnya yang satu ini, dan meringis kesakitan namun di akhiri dengan tawa. "Pegangan kuat ya, Rhe, dan jangan lupa peluk saya karena beberapa Minggu ke depan kamu enggak bisa meluk tubuh saya yang wangi ini lagi." "Ah, enggak mau. Kamu bau belum mandi," ejek ku. "Eh, jangan sepele. Walaupun belum mandi badan saya tetap wangi." "Ah, masa? Mana ada orang bangun tidur tetap wangi." "Kalau tidak percaya cium badan saya, pasti wangi." Aku terkekeh mendengar ucapannya yang terdengar sangat lucu, jarang sekali Gar bersikap seperti ini, menggemaskan. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, aku langsung memeluknya erat, benar-benar sangat erat. Sambil mencium aroma tubuhnya yang khas dan sangat candu untukku. Ah, beberapa hari ke depan aku pasti akan sangat merindukan punggung dan aroma ini, andai saja Gar ada duplikatnya maka ku pastikan duplikatnya pun akan menjadi milikku, sebab apapun yang berhubungan dengan Gar adalah punyaku. Terdengar serakah bukan? Tetapi ya memang begitu adanya. Selama di perjalanan Gar mengelus-elus tanganku, sambil terus berbicara hal random yang samar-samar ku dengar. Aku tahu saat ini Gar sedang menciptakan beberapa kenangan untukku sebelum kami tidak bisa berjumpa lagi. Dan aku hargai usahanya ini. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN