14. Di Bioskop

1620 Kata
Jalanan tampak ramai, hiruk pikuk kendaraan memenuhi setiap sudut kota seolah berlomba ingin segera sampai ke garis finish terlebih dahulu. Beberapa pengendara roda empat bahkan ada yang sampai mengumpat kasar lantaran macet yang sudah hampir sejam sama sekali tidak ada perubahan. Aku mengehela napas pelan sembari mengelap keringat yang sudah bercucuran di dahiku. Sudah hampir sejam kami disini, tapi sama sekali tidak ada perubahan. Jalanan macat total, sama sekali tidak bisa bergerak. Aku memaklumi mungkin karena ini adalah hari Minggu, jadi semua orang pada keluar rumah untuk melepas penat setelah hampir seminggu melakukan rutinitas setiap harinya. "Kamu kepanasan, Rhe?" Suara Gar yang sedikit ia kencangkan membuatku mengalihkan perhatianku padanya. Bahkan beberapa pengendara sepeda motor yang berada di dekat kami juga ikut menengok ke arahnya. "Tidak, kok, Gar." "Maaf ya, Rhe." Ucapnya yang berhasil membuatku mengerinyit bingung. "Maaf untuk apa, Gar?" "Maaf pertama, karena tadi saya tidak mendengar perkataan mu agar kita di rumah saja, dan alhasil sekarang saya malah membawamu dalam kesusahan seperti ini. Maaf kedua karena saya telah membawa mu hingga panas-panasan seperti ini. Andai saja saya punya mobil mungkin kamu tidak akan berada di situasi ini, kamu nggak akan kepanasan kayak gini. Saya minta maaf, ya, Rhe." "Apa sih, Gar, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu dan kamu nggak perlu meminta maaf. Lagian aku juga suka kok, karena dengan begini aku bisa melihat banyak orang dengan bermacam ekspresinya." "Tetap saja saya merasa bersalah." "Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lagian kan aku suka, jadi kenapa harus merasa bersalah." "Baiklah kalau benar seperti itu." Pelan-pelan beberapa kendaraan yang berada di depan kami mulai melaju, walau dengan gerakan yang sangat lambat. Ya setidaknya ini lebih baik, dari pada sebelumnya yang sama sekali tidak bisa bergerak. "Rhe, sepertinya kita tidak bisa pergi ke tempat yang tadi saya bilang." "Kenapa begitu, Gar?" Aku mengerinyit, pasalnya tadi Gar mengatakan ingin membawaku ke tempat yang bisa membuat hati menjadi tenang dan damai. Aku tidak tahu di mana, yang aku tahu semua tempat yang pernah aku kunjungi bersama Gar selalu membuat hatiku merasa tenang dan damai. "Takutnya tidak keburu karena lokasinya lumayan jauh. Saya tidak mau ayah kamu cemas karena saya membawa putri semata wayangnya hingga larut malam." Aku tersenyum lalu mengangguk. Setiap keputusan yang diambil Gar pasti selalu untuk kebaikan dan aku mempercayai itu. "Jadi sekarang kita kemana?" Tanyaku. "Kamu maunya kemana?" "Em kalo aku sih terserah kamu saja." "Jangan bilang begitu, Rhe. Karena dengan kamu mengatakan terserah itu tandanya kamu siap saya bawa kemana saja. Kalau saya bawa kamu ke pelaminan gimana? Mau?" Dia mengatakan itu sambil terkekeh, aku dapat melihat dengan jelas senyumnya dari kaca spion. Senyum yang selalu membuat orang menjadi candu ketika melihatnya. "Apa sih, Gar." Jujur saja aku malu, ah Gar sungguh sangat menyebalkan. "Jadi kita kemana?" Tanyanya lagi. "Aku tidak tahu, Gar. Terserah kamu saja." "Rhe, jangan mengatakan kata terserah," tegasnya lagi. "Ya terus apa, aku tidak tahu tempat-tempat di kota ini. Jadi aku mengikut saja." Ya, jujur saja aku sama sekali tidak tahu tempat wisata atau tempat tongkrongan yang berada di Bandung. Karena selama 16 tahun aku berada di sini, waktuku hanya ku habiskan di rumah saja. "Kalau nonton gimana?" "Yasudah," jawabku. Semakin lama jalanan semakin membaik dan sepertinya sudah mulai kondusif. Gar melajukan sepeda motornya dengan kecepatan rata-rata. Aku tahu saat ini ia sangat ingin segera sampai di tempat tujuan, karena mungkin dia juga lelah lantaran menunggu lama. Dari kaca spion wajahnya yang teduh itu masih tetap sama, walau pun aku tahu dia sudah sangat lelah tetapi ia tetap sabar bahkan raut wajahnya sama sekali tidak berubah, tetap sama. Teduh dan menenangkan. Motor Gar berhenti tepat di salah satu mall yang berada di kota kami. Mall nya tampak ramai-- ah iya aku lupa ini kan hari Minggu jadi wajar saja kalau ramai. Aku turun dari motor lalu membuka helm yang aku kenakan. Helmnya susah di buka, sepertinya aku mengunci terlalu kuat. "Sini!" Gar menarik tanganku pelan, lalu membuka helm yang tadi aku kenakan. "Helmnya memang sengaja saya buat pengaman yang ketat begitu, jadi kalau seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan kepala kamu tidak cedera." "Emm terima kasih, Gar." Sungguh aku tidak menyangka Gar bisa sampai segitunya, ah semesta kenapa Gar selalu berhasil membuatku merasa spesial seperti ini. Di tengah lamunanku, tiba-tiba tangan Gar meraih tanganku tak lupa ia juga menggenggamnya dan setelah itu kami berjalan beriringan. Jujur saja aku sangat malu, ini adalah moment pertama selama hidup ku, aku bahkan tidak pernah merasakan hal seperti ini. "Kita nonton apa, Rhe?" "Hm, terse--" "Kamu lupa tadi aku bilang apa?" Aku menyengir kuda, seolah merasa tak berdosa. "Aku nggk tahu Gar mau nonton apa," jawabku setelahnya. "Kamu suka genre film seperti apa? Romance, action, horror, komedi, atau apa?" Aku menggeleng pelan. "Aku tidak punya genre tertentu, ya selama filmnya bagus aku bakalan nonton." Gar terlihat menghela napas, lalu dengan pelan tangannya berlalih mengacak puncak kepalaku. "Kok bisa ya ada cewek kayak kamu," ucapnya. "Kayak aku gimana?" "Ya kayak gini, sederhana dan apa adanya." "Emang harus begitu Gar, apa yang perlu aku banggakan? Toh, aku juga tidak punya apa-apa kan." Gar hanya menjawab ucapanku dengan senyuman. Lalu kami kembali melanjutkan jalan, hingga sampai di tempat pembelian tiket nonton. "Kamu duduk di sini, ya, biar saya saja yang pesan tiketnya." "Tapi Gar, itu ramai loh dan cewek semua. Kamu yakin?" "Yakin dong. Jangan kemana-mana, tetap di sini." Aku mengangguk dan membiarkan Gar pergi. Tatapanku meneliti setiap sudut tempat ini yang terlalu ramai. jujur saja aku tidak nyaman, rasanya tempat ini tidak cocok dengan ku yang lebih menyukai kesunyian. Bahkan tempat ini terlalu ramai dengan pasangan muda mudi yang mungkin ingin menghabiskan waktu bersama dengan menonton film. Tempat pembelian tiket semakin ramai, dan yang mengantre rata-rata adalah perempuan. Aku sangat tidak tega membiarkan Gar mengantre seperti itu, di tambah tatapan genit para perempuan yang sepertinya ingin menggoda Gar. Ah, ini sangat menyebalkan. "Hai, sendirian aja?" Suara seseorang dari samping membuatku tersentak kaget. Aku menilik ke arah orang tersebut dan ternyata di samping ku sudah ada pria dewasa dengan dua temannya. Ketiganya memperhatikan ku dengan tatapan aneh, sungguh aku tidak suka di perhatikan seperti itu. Aku memilih diam, mengalihkan pandanganku ke arah lain dan tak lupa sedikit menggeser tubuhku agar menjauh dari ketika lelaki itu. "Dih, sombong amat sih, mbak. Ntar nggak laku baru tau." Lagi-lagi aku tidak memperdulikan omongan mereka, berpura-pura tidak mendengar mungkin lebih baik dari pada aku harus meladeni orang tidak jelas seperti mereka. Tiba-tiba salah seorang dari mereka dengan lancang menyentuh tanganku, sontak aku kaget dan langsung berdiri. "Tolong yang sopan, ya!" Tegasku dengan tatapan tak suka pada ketiga lelaki itu "Makanya, mbak, jangan sok jual mahal." "Di jaga ya mulut anda, anda yang terlalu murah sampai berani menggoda orang yang tidak di kenal." "Ada apa ini?" Seorang wanita dari belakangku menyeletuk, lalu menatapku dengan sinis. "Perempuan ini godain aku, yang," ucap salah seorang lelaki yang tadi menggoda ku. "Tolong di jaga mulutnya, ya. Anda yang menggoda saya bukan saya!" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku, hingga beberapa orang yang ada di sana menatap ke arah kami. "Eh, mbak, nggak mungkin pacar saya melakukan itu. Pacar saya ini orang baik, dan selera dia tinggi jadi nggk mungkin dia menggoda Lo. Yang ada lo kali yang godain dia." "Saya sama sekali nggak ada godain pacar lo, justru pacar lo yang kurang aja sama saya." "Halah penggoda mana ada yang mau ngaku." Aku menunduk menahan malu, jujur saja rasanya aku sudah ingin menangis. Semua orang yang ada di sana memperhatikan ku dengan tatapan sinisnya. Gar, aku membutuhkan mu. "Tolong di jaga mulut anda!" Suara seseorang yang sangat aku kenal membuatku mendongak. "Gar ..." "Pacar saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Lelaki berengsek ini lah yang mau mendekati pacar saya." "Sorry, bro pacar lo yang deketin gue duluan." Gar berjalan ke arah lelaki itu, dari tatapannya sangat jelas ada kemarahan di sana. Buk Satu pukulan mendarat di wajah lelaki itu. "Ini balasan karena lo udah berani nyentuh cewek gue, banci!" Gar beralih menatap kedua lelaki yang tadi ikut menggoda ku. "Kalau kalian tidak suka jumpai saya di luar. Saya tunggu di parkiran." Setelah itu Gar menggenggam tanganku, membawaku pergi dari sana. Aku hanya diam, tak mengatakan sepatah kata pun hingga kami sampai di tempat parkir. "Rhe saya minta maaf, ini semua karena saya. Saya sangat meminta maaf, Rhe." Gar menggenggam tanganku, wajahnya menatap wajahku sedu. Dan sepersekian detik kemudian air matanya terjatuh. Gar menangis, di hadapan ku. Menangisi hal yang bahkan bukan salahnya. "Kamu nggak perlu minta maaf, karena ini bukan salah kamu." "Nggak, Rhe, ini salah saya. Coba tadi saya mendengar perkataan kamu, mungkin kamu nggak akan dipermalukan kayak tadi. Saya minta maaf Rhe, sungguh." "Nggak papa, Gar. Aku nggak papa, kok. Sekarang kita pergi ya, aku nggak mau lelaki itu nanti malah nemuin kamu kesini. Ayok Gar kita pulang." "Mereka nggak akan berani kesini, Rhe, karena sudah jelas mereka yang salah. Kamu jangan takut, ya." Aku mengangguk perlahan. "Yasudah sekarang kita pulang." Gar memakai kan ku helm, dan setelah itu aku duduk di belakangnya. "Mana tangan kamu, Rhe?" "Ha? Ini?" Aku menunjukan tanganku padanya. Dan tanpa di duga, Gar meraih tanganku lalu meletakkannya di dalam Hoodienya. "Jangan kemana-mana, disini saja. Bersama saya." Aku tersenyum. "Gar ..." Panggilku. "Bagaimana dengan tiket tadi? Kamu kan sudah mengeluarkan uang untuk membelinya." "Lebih baik aku kehilangan uang dari pada aku harus melihat kamu di permalukan seperti tadi." "Terima kasih, Gar dan maaf jika aku merepotkan mu." Aku memeluk tubuhnya erat, meletakkan daguku tepat di pundaknya. Sungguh aku sangat bersyukur di pertemukan dengan lelaki seperti Gar. Gar adalah lelaki sempurna yang aku miliki setelah Ayah. Semesta entah untuk yang ke berapa kalinya aku meminta agar engkau terus menjaga Gar di mana pun ia berada. ::::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN