Sejak dipertemukan dengan Gar, tak ada lagi hari yang kulalui sendiri, tak ada lagi air mata yang jatuh tanpa alasan, tak ada lagi pikiran buruk untuk mengakhiri perjalanan hidup. Semuanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dan aku harap selamanya akan begini. Ya, hanya itu pintaku pada semesta.
Aku melihat tampilan wajahku di kaca. Siang ini aku dan Gar akan pergi. Entah kemana. Hanya Gar yang tahu kemana kami akan pergi, yang kutahu lagi-lagi Gar akan menunjukan sesuatu yang baru untukku, dan sama seperti hari-hari sebelumnya, sesuatu itu pasti indah.
Langkahku berjalan keluar, dan bersamaan dengan itu aku melihat Gar yang tengah berbincang dengan Ayah. Dia memakai hoodienya, celananya masih celana sekolah yang gak ditukar.
Tadi, ketika sepulang sekolah dia mengajakku pergi, katanya ada yang mau ditunjukannya dan aku menurut. Tapi, sebelum pergi, dia mengajakku pulang terlebih dulu untuk pamit dengan Ayah, dan mengganti seragamaku. Biar gak kotor katanya, sementara dia akan membuka bajunya dan cukup memakai hoodie, kalau celana gak usah di ganti juga gak masalah untuk Gar.
"Rhe, udah siap?" Dia bertanya dan membuatku tersentak kaget lantaran ketahuan tengah memperhatikannya.
"Udah." aku berjalan ke arahnya, dan dia bangkit dari tempatnya.
"Yah, Rhea pergi dulu, ya. Rhea udah siapin kebutuhan Ayah, kalau ada apa-apa panggil Bu Santi aja, ya."
"Iya. Hati-hati, ya."
Aku mengangguk.
"Om, saya bawa Rhe dulu, ya. Janji, kok, gak akan pulang malam-malam."
"Iya, hati-hati, ya, Nak Gar. Om titip Rhea sama kamu, ya."
"Siap, Om. Saya akan jaga Rhe sampai titik darah penghabisan."
Ayah tertawa mendengarnya, begitu pun denganku. Dan setelah itu aku mencium tangan Ayah, disusul Gar setelahnya, lalu kami beranjak pergi.
Selama di perjalan Gar asyik sendiri bernyanyi, sudah lima lagu yang dinyanyikannya dan semua lagu itu tak ada yang kuketahui tapi anehnya aku menyukai setiap lirik yang dinyanyikan Gar.
"Gar ...." aku menggoyang-goyangkan tubuh Gar agar dia menyadari kalau aku memanggilnya.
"Iya, ada apa, Rhe?"
"Lagu yang kamu nyanyiin enak di dengar." aku berbicara sambil teriak.
"Rhe, gak usah teriak-teriak nanti suara kamu habis." pun dengan Gar. Dia juga membesarkan volume suaranya.
"Kan supaya kamu dengar."
"Kamu lupa, ya. Kamu ngomong dalam hati aja saya dengar." aku menepuk jidatku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kemampuan Gar yang satu ini.
"Kamu ngomong di dalam hati aja, nanti saya jawab," lanjutnya lagi.
"Jawabnya suara kamu dibesarin, ya."
"Rhe, cukup di dalam hati." lagi-lagi aku lupa. Baiklah, aku akan berbicara dalam hati, biar Gar yang berteriak dan aku cukup mendengarkannya.
*"Gar, lagu yang kamu nyanyiin tadi enak* didengar," ucapku dalam hati.
"Itu karena saya yang nyanyi Rhe."
Aku memukul bahunya. *"Dih, pede'an kamu."*
"Emang benar, loh, Rhe. Banyak yang bilang suara saya bagus." aku tertawa. Entahlah, ini rasanya sangat seru, berbicara dalam hati sementara Gar berbicara dengan volume tinggi. Jika orang-orang melihat, mungkin mereka akan beranggapan bahwa Gar adalah orang gila.
Lagi-lagi Gar membuat hidupku jauh lebih berwarna dari sebelumnya.
*"Gak usah percaya Gar, mereka itu bohong."*
"Kamu gak boleh iri gitu dong, Rhe. Jujur aja suara saya emang bagus, kan?"
*"Enggak."*
"Enggak salah lagi maksudnya, kan."
*"Gar, please, deh, kepedeannya di turunin."*
"Saya gak kepedean, Rhe. Ini memang benaran."
*"Enggak kamu bohong."*
"Saya gak pernah bohong, Rhe." dan begitu seterusnya. Kami berdebat, tetapi perdebatan kami tidak seperti orang-orang pada umumnya. Perdebatan kami berbeda, melalui dua arah, tetapi lebih indah.
Motor Gar berhenti di salah satu tempat yang gak kuketahui namanya apa dan letaknya di mana. Aku baru ke tempat ini. Ya, lagi-lagi Gar mengajakku ke tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya.
Gar turun dari motor, melepas helmku, dan setelah itu baru melepas helmnya.
"Ayo, Rhe." dia meraih tanganku, menautkan di antara jari-jarinya, lalu kami mulai berjalan.
"Gar, kita di mana?"
"Nanti saya beritahunya, ya."
Aku mengangguk dan terus berjalan mengikuti langkah Gar. Lagi-lagi, tempat yang akan ditunjukan Gar padaku harus melewati pintu kecil yang keberadaanya bahkan gak diketahui orang-orang. Letak kuncinya juga sama seperti rumah pohon, ditaruh di bawah pot bunga mawar yang warna dan jenisnya pun sama.
Setelah membuka pintu, Gar masuk dan aku mengikutinya dari belakang.
Tepat beberapa langkah aku melewati pintu itu, pandanganku langsung terkunci, pun dengan bibirku.
Semesta, lagi-lagi aku dibuat bungkam akan keindahan mu.
"Rhe, ayo ke sana." Gar menarik tanganku menuju ayunan yang berada di antara dua pohon cemara yang sangat besar. Ayunan itu berhadapan langsung dengan pemandangan gunung yang berada jauh berkilo-kilo meter dari tempat kami, tetapi tetap terlihat indah.
Kami dikelilingi pandang rumput yang menjulang tinggi, dan itulah yang membuat tempat ini terlihat sangat indah.
"Rhe, naik." Gar memintaku untuk duduk di atas ayunan, dan aku menurut. Dia mendorong ayunan ku dari belakang, kencang, bahkan membuatku ketakutan.
"Gar udah. Ini kencang banget."
"Kamu takut?"
"Iya, Gar, aku takut." dan setelahnya Gar menghentikan ayunan itu. Dia duduk menghadap ku.
"Jangan takut kalau lagi bersama saya, karena saya gak akan biarin kamu terluka."
"Iya, Gar aku percaya sama kamu. Tapi, ya, tetap aja aku takut. Kita kan gak tau semesta akan berbuat apa nantinya."
Gar tersenyum, lalu memukul-mukul tempat yang berada di sebelahnya. Dia memintaku duduk bersamanya.
"Iya kamu benar. Karena itulah saya akan terus jaga kamu, sebab semesta bisa melakukan apa aja dengan kamu dan saya gak mungkin biarin itu terjadi. Jadi, sebelum semesta melakukan hal buruk dengan kamu, maka saya akan menghalanginya dan meminta agar hal buruk itu terjadi ke saya, bukan ke kamu."
"Gar, enggak segampang itu. Kamu pikir semesta manusia yang tindakannya bisa dihentikan?"
"Semesta memang bukan manusia, tapi semesta tahu apa yang diinginkan oleh manusia, dan kalau menurutnya itu baik maka dia akan mengabulkannya."
Aku menghela napas pelan. "Aku selalu kalah kalau sudah berdebat denganmu, Gar."
"Kamu sebenarnya gak kalah, tapi kamu cuma malas memperpanjang masalah."
Gar benar. Aku bukan tipikal orang yang banyak ngomong, bukan orang yang suka memperpanjang masalah, karena untukku semua permasalahan itu kecil yang kita butuhkan adalah cara mengatasinya, bukan memperbesar masalah dan malah membuat masalah baru.
Lebih baik mengalah, dan semuanya akan kembali seperti semula.
"Rhe, kamu tahu kita di mana?"
"Enggak."
"Mau aku beri tahu?"
Aku mengangguk antusias.
"Sekarang kita lagi di markas ke empat Gar."
"Markas? Ke empat?" dahiku berkerut mendengarnya.
"Gak usah sok bingung kaya gitu, kamu makin cantik dan saya akan makin suka."
Blush. Gar membuat pipiku memerah.
"Ini markas ke empat Gar setelah; rooftop sekolah, rumah pohon, danau buatan, dan sekarang padang rumput."
"Gar, aku gak ngerti."
"Kamu gak perlu mengerti, karena saya mengajak kamu ke sini ingin membuat kamu bahagia, bukan bingung kaya gini."
"Tapi, Gar—"
"Sudah, Rhe. Waktu kita di sini gak lama. Nikmati aja, ya, pemandangannya." aku diam dan mengangguk perlahan.
Kufokuskan pandanganku pada semesta yang menampilkan keindahannya. Sesekali aku melirik Gar yang juga fokus melihat pemandangan yang ada di hadapan kami.
Wajahnya tenang. Tanpa beban. Dan ketika melihat wajahnya dari dekat seperti ini aku jadi tahu kenapa aku bisa sangat nyaman ketika bersama Gar.
Dia membawa kehangatan untukku. Pandanganya teduh, ucapannya lembut, dan perlakuannya terbilang halus.
Semesta begitu sempurna ciptaanmu yang satu ini, jika aku bisa meminta ku harap semua lelaki yang ada di dunia ini memiliki sikap yang sama dengan Gar, dan akan aku jamin semesta bakalan tenang dan tidak akan ada keributan.
Ditengah-tengah lamunanku, tiba-tiba Gar meniup mataku. Sontak aku tersentak kaget dan menatapnya bingung.
"Kok mataku ditiup, kan nggak kelilipan, Gar," ucapku dengan bibir yang setengah maju.
"Melamun terus sih, kamu."
"Aku nggak melamun, Gar."
"Terus itu tadi namanya apa kalau nggak melamun."
"Emm, aku cuma lagi diam aja," alibiku.
Mata Gar menatap lekat manik mataku, tangannya bergerak untuk menangkup wajahku. Dan kini tangannya tepat berada di kedua pipiku.
"Rhe, saya boleh meminta sesuatu?" Tanyanya. Mendengar pertanyaannya membuatku mendadak merinding, ada apa dengan Gar, kenapa mendadak dia terlihat berbeda dan semakin misterius.
"Mi-minta apa, Gar?" Tanyaku gugup.
Gar tampak diam sejenak, matanya masih mengunci pandanganku.
Aku hanya bisa terbujur kaku, segala pikiran buruk berlari-lari di otakku. Tiba-tiba Gar mendekatkan bibirnya tepat di pipiku. Jantungku berdegup kencang, apa yang akan dilakukan Gar di tempat sesepi ini. Aku sama sekali tidak bisa bergerak, hembusan napas Gar bahkan terdengar sangat jelas di telingaku dengan jarak yang sedekat ini. Ah, Gar seperti menghipnotis ku.
"Jangan melamun kalau sedang bersama saya, karena dengan melamun banyak moment yang bakalan terlewatkan, puan kecil."
Aku tersenyum kikuk, kemudian mengangguk pelan.
Ah, bagaiman bisa aku malah memikirkan hal-hal yang negatif seperti tadi, Gar tidak mungkin melakukan hal buruk padaku. Sungguh saat ini aku beneran malu, bagaimana jika Gar mengetahui isi pikiranku, ah, membayangkannya saja sudah membuatku malu setengah mati.
Semesta ada apa dengan diriku.
::::::::
[]